Pikiran Rakyat
USD Jual 14.060,00 Beli 14.158,00 | Sebagian berawan, 21.3 ° C

Stok di Bandar Masih Banyak, Petani Bingung Jual Gabah

Tim Pikiran Rakyat

SEJUMLAH pekerja sedang mengarungi gabah dari lantai jemur di Desa Jatiraga, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka beberapa waktu lalu. Harga gabah di tingkat petani di Kabupaten Majalengka terus merosot hingga Rp 370.000 per-380.000 per kuintal.*/TATI PURNAWATI/KABAR CIREBON
SEJUMLAH pekerja sedang mengarungi gabah dari lantai jemur di Desa Jatiraga, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka beberapa waktu lalu. Harga gabah di tingkat petani di Kabupaten Majalengka terus merosot hingga Rp 370.000 per-380.000 per kuintal.*/TATI PURNAWATI/KABAR CIREBON

MAJALENGKA,(PR).- Harga Gabah Kering Giling (GKG) di tingkat petani terus merosot hingga Rp 370.000 sampai Rp 380.000 per kuintal. Bahkan sejumlah petani yang mengaku membutuhkan uang sulit menjual, bandar beralasan stok masih banyak.

Namun rendahnya harga gabah tersebut belum sebanding dengan harga beras di petani karena harga beras di tingkat rumahan masih mencapai Rp 7.500 per kg sedangkan harga beras di pasaran antara Rp 9.000 hingga Rp 11.000 per kg.

Subarnas asal Desa Ligung Lor, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka menyebutkan, biasanya beberapa minggu setelah musim panen usai harga gabah mulai naik kembali walaupun kenaikannya hanya beberapa rupiah. Namun saat ini belum menunjukan adanya kenaikan, yang terjadi harga semakin merosot.

Disimpan terlalu lama malah kerugian yang diderita petani semakin tinggi, karena saat panen raya harga masih berkisar antara Rp 400.000 hingga Rp 410.000 per kuintal.

“Anjloknya harga gabah seperti sekarang ini baru dialami kembali setelah beberapa tahun terakhir. “ kata Subarnas kepada wartawan Kabar Cirebon, Tati Purnawati.

Munadi yang juga warga Ligung Lor, Senin 15 April 2019 mengaku baru saja membeli gabah dari tetangganya sebanyak 2 kuintal untuk keperluan undangan. Karena di wilayahnya ada kebiasaan datang ke tempat hajatan tak hanya membawa ampop berisi uang namun juga disertai beras.

“Tadi pagi saya baru saja beli gabah untuk kondangan 2 kw langsung di giling, harganya hanya Rp 370.000 per kw. Itu tidak saya tawar, kalau ditawar mungkin bisa lebih rendah lagi.” kata Munadi.

Kondisi yang sama juga terjadi di Desa Bongas dan Garawangi, Kecamatan Sumberjaya, harga gabah di wilayah ini Rp 380.000 per kw. Hanya petani sulit menjual, sejumlah bandar yang biasanya keliling kampung datang ke petani mencari gabah kini mahal sebaliknya, petani yang berkeliling mencari bandar yang bersedia membeli.

Tapi ternyata menurut Juremi dan Etok semua bandar di desanya menolak tawaran gabah dari petani yang sengaja datang ke rumahnya untuk menjual gabah, alasannya gabah banyak dan tidka ada uang untuk pembelian gabah.

“Pagi keliling menawarkan gabah, ternyata semua bandar tidak ada yang bersedia membeli, alasannya tidak ada uang. Sepertinya ini ada permainan yang dilakukan para spekulan jelang pemilu. Masa harga gabah terus merosot sementara harga kebutuhan pokok lainnya melesat tinggi,” kata Juremi.

Para petani menurut mereka tidak bisa menahan diri untuk tidak menjual gabah saat ini dan   menunggu hingga harga tinggi karena terdesah berbagai kebutuhan, baik untuk biaya garap sawah berikutnya ataupun untuk kebutuhan akan sekolah. Apalagi saat ini akhir tahun ajaran sekolah sehingga semua biaya sekolah harus dibayar terutama untuk mereka yang lulus.

“Kalau punya duit mungkin kami bisa menunggu harga mahal baru menjualnya, tapi kan sekarang kami butuh duit segera untuk menutupi kebutuhan, untuk anak sekolah, untuk kondangan, untuk molah lahan dan lain-lain,” kata Etok.

Menurutnya menyikapi rendahnya harga gabah di wilayahnya hingga saat ini belum ada intevensi dari pemerintah, baik dari Bulog yang baisanya datang ke petani melakukan pembelian gabah ataupun Pemerintah Daerah. Akhirnya beban kerugianpun harus ditanggung sendiri oleh petani.***
 

Bagikan: