Pikiran Rakyat
USD Jual 14.426,00 Beli 14.126,00 | Umumnya berawan, 26.7 ° C

Di Luar Prediksi, Neraca Perdagangan Indonesia Surplus

Tia Dwitiani Komalasari
FOTO udara proses pemetikan pucuk daun teh di area perkebunan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VI, Kayu Aro, Kerinci, Jambi, Senin 14 Januari 2019. Menurut data BPS, nilai ekspor teh Indonesia sepanjang Januari hingga November 2018 naik sebesar 183,13 persen dibandingkan dengan periode sama tahun 2017.*/ANTARA
FOTO udara proses pemetikan pucuk daun teh di area perkebunan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VI, Kayu Aro, Kerinci, Jambi, Senin 14 Januari 2019. Menurut data BPS, nilai ekspor teh Indonesia sepanjang Januari hingga November 2018 naik sebesar 183,13 persen dibandingkan dengan periode sama tahun 2017.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Neraca perdagangan Indonesia Maret 2019 mengalami surplus 0,54 miliar Dolar AS. Hal itu dipicu oleh ekspor Indonesia sebesar 14,03 miliar Dolar AS atau naik 11,71 persen ‎ dibandingkan Februari 2019.

Meskipun demikian, nilai ekspor Indonesia Maret 2019 tercatat mengalami penurunan sebesar 10,01 % jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.‎ "Tahun ini memang menjadi tantangan bagi kita semua karena perlambatan ekonomi global mempengaruhi nilai ekspor kita," ujar Kepala Badan Pusat Statistik, Suhariyanto, di Jakarta, Senin 15 April 2019.

Dia mengatakan, kenaikan nilai ekspor terjadi di semua sektor non migas ‎yaitu pertanian, industri pengolahan, dan pertambangan. Meskipun demikian, terjadi penurunan ekspor migas sebesar -1,57 persen jika dibandingkan Februari 2019. "Sementara dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, semua komponen ekspor mengalami penurunan," kata dia.

Menurut Suhariyanto, terdapat beberapa kelompok komoditi yang mengalami penurunan nilai ekspor seperti lemak dan minyak he‎wan/nabati (-16,32 %) serta karet dan barang dari karet (-14,78%). Penurunan kelompok lemak dan minyak hewan/nabati dipengaruhi oleh kebijakan dagang di negara tujuan ekspor untuk CPO. "Sebenarnya volume ekspor CPO mengalami kenaikan 10 persen, namun karena harganya turun 15 persen maka nilai ekspornya pun menjadi turun," ucapnya.

ILUSTRASI ekspor impor.*/REUTERS

‎Hal itu berbeda dengan komoditas karet dimana terjadi penurunan volume ekspor sebesar 2 % dan juga harga karet sebesar 14 persen. Penurunan ekspor karet tersebut merupakan komitmen Indonesia dan produsen lainnya yang ingin meningkatkan harga karet dunia.

Sementara itu nilai impor Maret 2019 mencapai 13,49 miliar Dolar AS. Angka tersebut tercatat mengalami kenaikan sebesar 10,31 % jika dibandingkan Februari 2019. Meskipun demikian, nilai impor tersebut mengalami penurunan. -6,76 % jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan barang impor terjadi di semua sektor baik konsumsi, bahan baku/penolong, dan barang modal. 

Kondisi ekspor dan impor tersebut menyebabkan neraca perdagangan Maret 2019 kembali mengalai surplus 0,54 miliar Dolar AS. Hal itu mempersempit defisit neraca perdagangan tahun berjalan 2019 (Maret-Januari) 0,19 miliar Dolar AS.

Manufaktur meningkat

Surplus neraca perdagangan Maret 2019 tersebut di luar prediksi ekonom. Beberapa ekonom memprediksi bahwa neraca perdagangan bulan lalu akan mengalami defisit.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan neraca perdagangan akan defisit 464 juta Dolar AS. Hal itu dipicu oleh peningkatan laju impor bulanan karena aktivitas manufaktur Indonesia meningkat menjadi 51,2 menjadi 50,1.

Sementara itu di sisi lain, nilai ekspor cenderung masih kontraksi akibat penurunan beberapa komoditas ungulan seperti sawit (4,5 % mtm) dan batu bara (3,4 % mtm). "Ini akan menekan kinerja ekpor Indonesia dari sisi harga,"ujar dia.

Prediksi neraca perdagangan yang defisit juga dikatakan Direktur Center of Reform, Mohammad Fasial. Hal itu dipicu kenaikan harga minyak dunia sehingga defisitmigas semakin lebar. "Defisit juga dipicu pelemahan harga komoditas ekspor khususnya CPO,"ujar dia.***

Bagikan: