Pikiran Rakyat
USD Jual 14.288,00 Beli 13.988,00 | Sebagian berawan, 17.4 ° C

Jokowi Ajak Masyarakat Patuh Bayar Pajak, Prabowo Kejar Pengemplang Pajak

Yulistyne Kasumaningrum
ILUSTRASI pajak.*/DOK. PR
ILUSTRASI pajak.*/DOK. PR

BANDUNG, (PR).- Gagasan yang ditawarkan kedua calon presiden terhadap berbagai permasalahan dan tantangan ekonomi yang dihadapi bangsa ini dalam debat capres yang digelar Sabtu 13 April 2019 masih bersifat parsial dan normatif. Belum ada suguhan ide ataupun terobosan yang dinilai menyentuh aspek fundamental ataupun akar dari permasalahan ekonomi yang dihadapi.

Dari sisi penguasaan materi pun, kedua calon pun relatif berimbang dan saling memiliki kelebihan serta kekurangan. Jokowi sebagai petahana fokus pada melanjutkan serta memperbaiki berbagai strategi dan program yang telah dilakukan, sementara Prabowo fokus pada improvement dari berbagai program yang telah ada.

Hal tersebut disepakati oleh tiga ekonom yang hadir dalam nonton bareng debat capres dengan tema ekonomi dan kesejahteraan sosial, keuangan, investasi, dan industri di Kantor Pikiran Rakyat Bandung, Sabtu 13 April 2019 malam.

Ketiganya yakin Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjadjaran Yudi Azis, SE, S.Si., S.Sos., MT., Ph.D, Ketua Departemen Ilmu Ekonomi FEB Unpad Maman Setiawan, S.E., M.T., Ph.D, dan Pakar Keuangan Mikro Kurniawan Saefullah, S.E., M.Ec.

Tiga ekonom nonton bareng Debat Capres 2019 dengan tema ekonomi dan kesejahteraan sosial, keuangan, investasi, dan industri di Kantor Pikiran Rakyat Bandung, Sabtu 13 April 2019 malam.

Dalam perdebatan mengenai ekonomi dan kesejahteraan sosial, Maman menggarisbawahi strategi yang ditawarkan keduanya masih merupakan kerangka besar, tidak spesifik, dan masih parsial. Tidak ada satupun kandidat yang masuk ke masalah peningkatan daya saing produk pertanian dan maritim. Padahal, hal itulah yang menjadi kunci jika ingin mendorong nilai tukar petani dan juga daya saing dari produk tanah air.

Hal senada diungkapkan Kurniawan yang menilai kedua kandidat tidak menyinggung permasalahan rantai pasok yang sebetulnya telah menjadi masalah sejak lama. Alhasil, kebijakan yang ditawarkan pun masih normatif.

Yudi Azis pada tema kesejahteraan sosial berpendapat poin pentingnya adalah bagaimana meningkatkan akses perempuan ke pekerjaan sektor formal atau bagaimana melindungi perempuan kala berkecimpung didunia tersebut. Akan tetapi, disayangkan kedua kandidat hanya memaparkan betapa strategisnya peranan perempuan, khususnya didalam entrepreneurship dan tidak menyinggung cara melindungi perempuan agar memiliki akses yang lebih luas.

TIGA ekonom nonton bareng Debat Capres 2019 dengan tema ekonomi dan kesejahteraan sosial, keuangan, investasi, dan industri di Kantor Pikiran Rakyat Bandung, Sabtu 13 April 2019 malam..*/Yulistyne Kasumaningrum/PR

Persuasif dan agresif

Pada pertanyaan mengenai pajak dan zakat, Maman melihat dua hal yang menarik dalam pemaparan kedua calon. Dikatakan, pada sisi meningkatkan penerimaan pajak, Jokowi lebih persuasif dengan menitikberatkan pada membangun kepatuhan masyarakat. Sedangkan Prabowo cenderung lebih agresif yang ditunjukkan akan mengejar para pengemplang pajak

Tetapi, lanjutnya pada sisi peningkatan zakat Sandi menawarkan mall sadar zakat dimana berupaya menyentuh kesadaran masyarakat sementara Ma’ruf jusru cenderung agresif dengan melakukan jemput bola.  

Terkait peningkatan zakat, Yudi melihat ada permasalahan kepercayaan yang membelenggu masalah ini. Sementara gagasan yang disampaikan lebih kepada pendekatan struktural sehingga kembali menurutnya akar masalah kepercayaan, transparansi, dan alokasi penggunaan justru tidak disentuh.

Pada pertanyaan mengenai keuangan syariah, Kurniawan menilai untuk materi tersebut Sandi terlihat lebih siap dan memiliki cara pandang yang lebih helicopter view dibandingkan petahana yang hanya melihatnya terbatas pada aspek lembaga keuangan syariah.

Bagi Kurniawan secara umum pada debat kali ini, dari sisi penguasaan materi relative tidak ada sesuatu yang baru yang dipaparkan kedua kandidat. Semuanya merupakan lanjutan dari apa yang dibicarakan sebelumnya. Gagasan pun tidak banyak yang berubah.

Maman pun sepakat dengan hal tersebut yang menilai kedua kandidat memiliki jawaban yang relatif sama dan berimbang. Akan tetapi, menurutnya walaupun memiliki strategi pencapaian yang berbeda kedua calon memiliki arah serta tujuan yang sama terhadap pembangunan perekonomian Indonesia. ***

Bagikan: