Pikiran Rakyat
USD Jual 14.605,00 Beli 14.305,00 | Sedikit awan, 25.1 ° C

Petani Bandung Utara Rintis Pemasaran Bersama

Kodar Solihat
DIRJEN Hortikultura Kementerian Pertanian, Suwandi dan salah seorang eksportir memperhatikan produk-produk sayuran asal utara Bandung, di BBPP Kementan, Lembang, Selasa 9 April 2019.*/KODAR SOLIHAT/PR
DIRJEN Hortikultura Kementerian Pertanian, Suwandi dan salah seorang eksportir memperhatikan produk-produk sayuran asal utara Bandung, di BBPP Kementan, Lembang, Selasa 9 April 2019.*/KODAR SOLIHAT/PR

LEMBANG, (PR).- Sejumlah kalangan petani pada sentra produksi sayuran di utara Kabupaten Bandung Barat merintis pemasaran bersama. Ada 60 co-farmer (petani yang dinilai sudah maju) menjadi koordinator untuk menampung hasil-hasil panen sayuran dari sekitar 1.800 petani yang dianggap sudah memiliki kemampuan teknis produksi yang lebih baik.

Gambaran itu muncul dalam Workshop Marketing Strategy for OTM Farmer’s Product, di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Kementerian Pertanian, di Lembang, Selasa 9 April 2019. Ajang yang sekaligus mempertemukan kalangan petani dengan eksportir itu, juga dihadiri Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Suwandi.

Disebut-sebut pada pertemuan itu, sebagai motor pemasaran bersama adalah Lembang Agribusiness Incubation Center (LAIC) yang merupakan pusat inkubasi yang mengelola packing house di BBPP Lembang. Para anggotanya, adalah 1.800 alumni pelatihan Teknis Agribisnis Sayuran dengan Model Onsite Training Methodology yang berperan sebagai supplier, yang tergabung dalam BAVAS (Bandung Vegetables Station).

Ketua Kontak Bisnis Hortikultura Indonesia (KBHI), Ilud Maulud menyebutkan, melalui pemasaran terkoordinir tersebut, diharapkan mempermudah bagi  kalangan eksportir atau pebisnis besar untuk melakukan pesanan. Syaratnya, agar diperoleh kontinuitas, kualitas, dan kuantitas yang permanen berbagai komoditas yang diminati pasar yang dipesan para pebisnis kepada petani. 

Ia mencontohkan, dengan pemasaran yang masih cenderung individual oleh para petani sayuran, juga berefek melewatkan peluang pemenuhan ekspor. Padahal saat produksi cabai melimpah dan harganya anjlok seperti baru-baru ini terjadi, sebenarnya ada pesanan ekspor rata-rata 10 ton per pekan, namun pesanan itu kurang terkomunikasikan karena tak ada kelompok yang dianggap bisa diandalkan.

Peran koperasi

Dirjen Hortikultura Suwandi mengatakan, merasa senang dengan adanya pertemuan antara petani dengan kalangan eksportir pada workshop di BBPP Lembang itu. “Bisa dilihat sendiri kan ? semuanya mampu melakukan deal bisnis. Tahap awal 800 petani  dengan 80 pebisnis,” ujarnya.

Ia juga mengatakan, memang seharusnya bahwa keberadaan berbagai koperasi pertanian menjadi motor pemasaran bersama hasil panenan petani, termasuk sayuran. Diketahui, keberadaan koperasi, atau sejumlah kelompok usaha tani, sebenarnya cukup banyak bertebaran pada berbagai daerah, namun kemampuannya masih harus diperkuat.

Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Kabupaten Bandung Barat, Darwin, memberikan gambaran kepada para petani bahwa peran koperasi sebenarnya dapat menjadi sumber kekuatan dalam pemasaran. Ia mencontohkan, di Jepang, 80 persen para petani setempat menjual hasil panennya melalui koperasi, sehingga tak harus pusing-pusing memikirkan saluran pemasaran saat panen.

Disebutkan, keberadaan koperasi pertanian juga sangat berperan dalam stabilisasi harga produk-produk pertanian di Jepang. Soalnya, berbagai koperasi rata-rata menjual dengan harga sama sesuai standar, dengan mengambil keuntungan hanya melalui presentase 2 persen dari hasil penjualan oleh petani.***

Bagikan: