Pikiran Rakyat
USD Jual 14.317,00 Beli 14.219,00 | Sedikit awan, 20.6 ° C

900.000 Tenaga Kerja dan Investasi Rp 250 Triliun Bisa Terserap Kawasan Industri Baru

Tia Dwitiani Komalasari
PENGOLAHAN biji nikel di smelter PT. Vale Indonesia di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Sabtu 30 Maret 2019.*/ANTARA
PENGOLAHAN biji nikel di smelter PT. Vale Indonesia di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Sabtu 30 Maret 2019.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Kementerian Perindustrian menargetkan 18 kawasan industri di luar Jawa sudah dapat beroperasi pada 2019.

Sebanyak18 kawasan industri tersebut berpotensi menarik investasi sebesar Rp 250 triliun dan menyerap tenaga kerja langsung 900.000 orang.

“Investasi hingga Rp 250 triliun itu juga mencakup pembangunan infrastruktur pendukung seperti pembangkit listrik, water treatment, instalasi pengolahan air limbah, lahan, dan jalan. Kami targetkan 18 kawasan industri itu mulai beroperasi pada kuartal III-2019,” kata Direktur Perwilayahan Industri Direktorat Jenderal Ketahanan Perwilayahan Akses Industri Internasional Kementrian Perindustrian Ignatius Warsito di Jakarta, Senin 8 April 2019.

Seluruh kawasan industri luar Jawa itu berlokasi di Lhoukseumawe, Ladong, Medan, Tanjung Buton, Landak, Maloy, Tanah Kuning, dan Bitung. Selanjutnya di Kuala Tanjung, Kemingking, Tanjung Api-api, Gandus, Tanjung Jabung, Tanggamus, Batulicin, Jorong, Buli, dan Teluk Bintuni.

Ignatius Warsito mengatakan, Kementrian Perindustrian bertekad terus mengakselerasi pembangunan kawasan industri di luar Jawa. Hal itu bertujuan untuk mendorong pemerataan infrastruktur dan ekonomi di seluruh Indonesia.

“Pengembangan kawasan industri di luar Jawa diarahkan pada sektor berbasis sumber daya alam dan pengolahan mineral,” ujarnya.

ARTICULATED dump truck mengangkut material pengerukan lapisan atas di pertambangan nikel PT. Vale di Soroako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Kamis 28 Maret 2019.*/ANTARA

Menurut dia, upaya tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mendorong hilirisasi industri. Sebab, hilirisasi mampu meningkatkan nilai tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, dan penerimaan devisa dari ekspor.

Multiplier effect menjadi luas. Selain itu juga merupakan strategi dalam peta jalan Making Indonesia 4.0,” ujarnya.

Menumbuhan sektor industri manufaktur

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah semakin serius dan fokus untuk terus mendorong penumbuhan sektor industri manufaktur di luar Jawa seperti wilayah Indonesia Timur.

“Ini sesuai amanat Bapak Presiden Joko Widodo untuk mewujudkan pembangunan yang Indonesia sentris,” tuturnya.

Khusus wilayah Indonesia Timur, pada periode 2015-2017, kawasan industri yang telah beroperasi di Sulawesi Tengah di antaranya adalah kawasan industri Morowali dan Palu. Selanjutnya, kawasan industri Bantaeng di Sulawesi Selatan dan kawasan industri Konawe di Sulawesi Tenggara.

“Untuk kawasan industri di Morowali, Bantaeng, dan Konawe, kami fokuskan pada industri berbasis pengolahan nikel. Sementara di Palu sebagai klaster industri yang berbasis olahan rotan dan agro. Semua kawasan industri tersebut masuk dalam Proyek Strategis Nasional," ujarnya.

Sementara kawasan industri yang sedang dalam tahap konstruksi dan dikebut pembangunannya yaitu di Bitung, Sulawesi Utara.

Kawasan Ekonomi Khusus yang ditargetkan bisa beroperasi tahun 2019 itu akan difokuskan untuk pengembangan industri pengolahan perikanan dan kelapa beserta produk turunannya yang diminati pasar domestik dan ekspor.

“Kami mencontohkan, di Morowali, yang sudah berhasil melakukan hilirisasi terhadap nickel ore menjadi stainless steel. Nickel ore dijual sekira 40-60 dolar sedangkan ketika menjadi stainless steel harganya di atas 2.000 dolar. Selain itu, kita sudah mampu ekspor dari Morowali senilai 4 miliar dolar, baik itu hot rolled coil maupun cold rolled coil ke Amerka Serikat dan Tiongkok,” ujarnya‎.***

Bagikan: