Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Umumnya cerah, 25.2 ° C

Bulog Siap Beli Gabah di Atas Harga Pasaran Petani

Tim Pikiran Rakyat
ILUSTRASI foto gabah.*/DOK.PR
ILUSTRASI foto gabah.*/DOK.PR

SERANG, (PR).- Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) Serang siap menyerap Gabah Kering Giling (GKG) dengan harga Rp 5.060 per kilogram. Harga tersebut di atas dari harga pasaran pada petani, yang berada di angka Rp 4.000 per kilogram.

"Kami siap menerima GKG dengan harga Rp 5.060 untuk di gudang Bulog. Tapi dengan kualitas ke 14 dan butir kotoran 2 persen. Artinya gabah kering giling yang dimaksud adalah sudah berbentuk beras," ujar Kepala Sub Divre Bulog Serang Renato Horison, Rabu 27 Maret 2019.

Memang saat ini penjualan gabah sedang mengalami penurunan harga. Karena di bulan Maret dan April merupakan masa panen raya. Sehingga pasokan gabah di pasaran melimpah, dan membuat harga gabah turun cukup drastis.

"Menurut informasi yang saya terima memang harganya turun. Dari Rp 5.000 sekarang jadi Rp 4.100 per kilogram. Tapi memang siklusnya seperti ini, setiap tahunnya. Tapi memasuki Agustus, itu bisa naik lagi. Karena pasokan sudah mulai berkurang. Bahkan bisa mencapai Rp 6.000 per kilogram," katanya.

Ia juga mengatakan, pihaknya tidak menerima Gabah Kering Panen (GKP). Karena tidak memiliki tempat untuk menjemur gabah-gabah tersebut. "Gabah dari petani itu perlu dikeringkan terlebih dahulu, dan tidak bisa tahan lama. Sedangkan GKG itu bisa disimpan dalam waktu yang cukup lama. Maka dari itu, kami hanya menerima gabah yang sudah bersih," ujarnya.

Bahkan, ia mengatakan, masa penyimpanan GKG bisa sampai sepuluh tahun. Karena saat ini penyaluran sudah tidak ada lagi. Seperti Bantuan Sosial (Bansos), jadi pihaknya membutuhkan waktu yang lama. 

"Maka kami pun memilih GKG, karena kan sudah tidak ada penyaluran lagi. Jadi, kami harus menyimpan gabah itu cukup lama di gudangnya," ujarnya kepada wartawan Kabar Banten, Rizki Putri.

Ia juga menyampaikan, persediaan beras di gudang Bulog masih aman untuk memenuhi permintaan pasar. Karena sudah tidak ada penyaluran lagi, sehingga penyimpanan yang ada saat ini mencukupi. 

"Kalau stok aman, karena memang tidak ada penyaluran lagi. Jadi apa yang kami punya saat ini aman, hanya menunggu. Misalnya ada penyaluran Pelayanan Kesejahteraan Anak (KPSA). Sedangkan kalau Bansos bisa mencapai 500 ton perbulan," ucapnya.***
 

Bagikan: