Pikiran Rakyat
USD Jual 14.185,00 Beli 13.885,00 | Sebagian cerah, 23.2 ° C

Kinerja Ekspor Jawa Barat Melambat, Investasi Meningkat

Yulistyne Kasumaningrum
PROYEK tol Bocimi meningkatkan investasi di Jabar.*/DOK. PR
PROYEK tol Bocimi meningkatkan investasi di Jabar.*/DOK. PR

BANDUNG, (PR).- Kinerja ekspor Jawa Barat sepanjang 2019 diperkirakan akan melambat seiring dengan melemahnya pertumbuhan ekonomi dunia, perdagangan dunia, dan tren harga komoditas yang cenderungmenurun. Namun demikian, walaupun kinerja ekspor Jabar mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi Jabar diperkirakan masih akan bergerak positif.

“Meski kinerja ekspor harus kita waspadai, pertumbuhan ekonomi Jabar triwulan I-2019 diperkirakan masih tetap solid pada kisaran 5,2% - 5,6% (yoy),” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jabar Doni P. Joewono saat Konferensi Pers Perkembangan Indikator Makro Terkini Jabar, di Bandung, Senin 25 Maret 2019.

Doni memaparkan total ekspor Jabar sepanjang 2018 mencapai 30,37 miliar Dolar AS, sementaratotal impor pada tahun yang sama mencapai 12,67 miliar Dolar AS. Dengan demikian net ekspor Jabar sepanjang 2018 tercatat sebesar 17,70 miliar Dolar AS.

Sementara bulan pertama 2019 tercatat mencapai 2,57 miliar Dolar AS dengan sumbangan terbesar dari kendaraan dan bagiannya, serta mesin/peralatan listrik. Dengan raihan tersebut, Jabar pada Januari 2019 mencatatkan net ekspor 1,54 miliar Dolar AS sekaligus menjadi salah satu daerah di tanah air yang mencatatkan surplus, selain Yogyakarta yang surplus 28 juta Dolar AS.

Namun, pertumbuhan ekspor non migas pada Januari 2019 yang tercatat 0,27% (yoy) lebih rendah dibandingkan Januari 2018 yang mencapai 13,24% (yoy). Ekspor sektor manufaktir diperkirakan akan melambat dari 0,64% menjadi 0,13% karena negara mitra dagang utama Jabar mengalami penurunan.

“Untuk ekspor 2019, kita tidak mengharapkan akan bisa lebih baik dibandingkan 2018 karena data tahun kemarin begitu baik karena negara-negara yang menjadi tujuan ekspor ekonominya melambat. Paling tidak kita harapkan bisa menyamai dengan catatan tahun lalu,” katanya.

Dipaparkan World Economic Outlook (WEO) International Monetary Fund(IMF) Januari 2019 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global melambat (dari 3,7% menjadi 3,5%). Sedangkan World Trade Volume (WTV) stagnan diangka 4,0%.

“Saat ini ekspor non migas relatif melambat karena industri tengah menahan diri. Akan tetapi, setelah selesai sejumlah gelaran demokrasi di tanah air diperkirakan akan naik lagi yang dapat menyebabkan semakin terjepit,” ujarnya.

Kendati kinerja ekspor diperkirakan akan melambat, Doni mengatakan, pertumbuhan ekonomi Jabar masih akan ditopang faktor internal khususnya permintaan domestik. Konsumsi Rumah Tangga (RT) masih menjadi penopang utama pertumbuhan, didorong meningkatnya upah dan persiapan penyelengaraan Pemilu 2019.

“Survei Indeks Keyakinan Konsumen pada triwulan I-2019 naik dari 1222,5 menjadi 125,7. Begitu juga survei penjualan eceran yang juga menunjukkan perkembangan yang positif,” ujarnya.

Selain itu, komponen PMTB/investasi juga diperkirakan akan meningkat pada triwulan I-2019.
Peningkatan tersebut didorong investasi bangunan yang sejalan dengan terus berlanjutnya proyek infrastruktur pemerintah, seperti pembangunan Tol Bocimi dan Pelabuhan Patimban. Investasi Jabar diperkirakan akan naik dari 0,81 menjadi 0,96.

Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi Pribadi Santoso menambahkan melambatnya ekspor Jabar juga dikarenakan masih belum bersepakatnya dua raksasa ekonomi dunia, Cina dan Amerika. Kondisi tersebut akan memengaruhi keputusan orang dalam berinvestasi dan melakukan perdagangan. Ditambah lagi, negara pasar ekspor Jabar pun perekonomiannya masih belum pulih sepenuhnya.

“Kita harapkan akan ada kesepkatan sehingga akan mendorong orang untuk berinvetasi danmelakukan p erdagangan,” katanya.***
 

Bagikan: