Pikiran Rakyat
USD Jual 14.301,00 Beli 14.001,00 | Sebagian berawan, 17.3 ° C

Warga Desa Kareo Kelola Sampah Plastik Jadi Paving Block

Tim Pikiran Rakyat
BUPATI Serang, Ratu Tatu Chasanah saat melihat cara kerja mesin pelebur plastik di Desa Kareo, Kecamatan Jawilan, Rabu 20 Maret 2019.*/DINDIN HASANUDIN/KABAR BANTEN
BUPATI Serang, Ratu Tatu Chasanah saat melihat cara kerja mesin pelebur plastik di Desa Kareo, Kecamatan Jawilan, Rabu 20 Maret 2019.*/DINDIN HASANUDIN/KABAR BANTEN

SERANG,(PR).- Warga Desa Kareo Kecamatan Jawilan berhasil melakukan uji coba mengelola sampah plastik menjadi paving block. Walau demikian pengelolaan tersebut masih belum optimal, sebab belum memiliki mesin pencacah sampah plastik.

Ketua Pengolahan Sampah Mandiri Desa Kareo, Sutrisno mengatakan, inovasi yang dilakukanya ini dikarenakan adanya masalah sampah di wilayahnya.  Sampai akhirnya ditemukan mesin penghancur plastik. "Hasil sisa guntingan kami lelehkan dalam mesin yang sudah kami buat dicairkan dan dicampur oli serta minyak sayur dan dibuat paVing block," ujarnya dalam acara peresmian pengelolah sampah Kareo mandiri Sejahtera (KMS) di Kampung Kareo Dukuh, Desa Kareo Kecamatan Jawilan, Rabu 20 Maret 2019.

Saat ini, kata dia, hasilnya belum optimal sebab masih kekurangan mesin pencacah sampah. "Jadi sementara mencacah plastik kami secara manual digunting oleh pemuda. Mesin kami masih seadanya," katanya. 

Selain membuat paving block, dalam upayanya mengurangi volume sampah, pihaknya juga memiliki program bank sampah. "Kami sosialisasi kepada masyarakat agar melakukan pemilihan sampah di rumah. Dipilah mana yang layak dijual, hasilnya yang layak seperti botol plastik, kardus dan lainnya kami timbang dan ditabung seminggu sekali," ucapnya.

Kemudian, ada juga ekonomi kreatif yang mengandalkan SDM sebagai faktor utamanya. Dimana masyarakat mengolah sampah sehingga bernilai ekonomis. "Terus bidang penghijauan, program koperasi, dan peduli kemanusiaan," tuturnya kepada wartawan Kabar Banten, Dindin Hasanudin.

Persoalan krusial

Sementara, Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah mengaku mengapresiasi apa yang dilakukan oleh masyarakat Kareo tersebut. "Bahwa persoalan sampah di Kabupaten Serang jadi persoalan yang sangat krusial. Karena di Kabupaten Serang kan belum ada TPSA yang sedang kita siapkan," ujarnya.

Tatu mengatakan, apa yang dilakukan oleh masyarakat Desa Kareo ini adalah sesuatu yang perlu diberikan dukungan penuh. Sebab pihaknya berharap pengolahan sampah ini ada di tingkat desa. "Jadi masing-masing masyarakat desa bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan," katanya.

Dirinya pun berjanji akan selalu mendukung inisiatif masyarakat yang bersifat solusi tersebut. "Ini wajib didukung oleh Pemda. Tadi ketua forum menyampaikan bahwa mereka belum ada mesin cacah sampah. Nanti kita bantu. jadi sinergi antara masyarakat dengan pemerintah bentuk yang paling bagus," katanya.

Sementara, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serang Sri Budi Prihasto mengatakan, untuk volume sampah di wilayahnya per hari sekitar 762 ton. Sedangkan untuk yang terangkut masih kecil sekitar 7 persen dari totalnya. "Saya bisa hitung dari jumlah kendaraan yang ada saja kita ada 46 kendaraan, satu unit bisa angkut 6 kubik perhari. Jadi dikalikan sekitar 276 perhari diangkut ke TPA. Sedangkan tadi jumlah timbunan sampah kalau dihitung berdasarkan teori kebijakan nasional itu 1 orang menghasilkan sampah 0,4-07 kilogram per hari. Tinggal dikalikan jumlahnya dengan 1,4 juta orang," tuturnya.

Sebetulnya kata dia, penanganan sampah ini ada yang ditangani di tingkat masyarakat. Pihaknya menargetkan masyarakat bisa mengurangi sampahnya hingga 29 persen. "Sehingga yang masuk TPA hanya 80 persen.Tapi sebetulnya masyarakat bisa menanganinya lebih dengan cara mengubur dan membakar," ucapnya.

Disingung daerah terbanyak volume sampahnya, Budi mengatakan ada tujuh kecamatan. Yakni Jawilan, Cikande, Kibin, Kragilan, Ciruas, Kramatwatu, Bojonegara dan Puloampel. "Kita lihat jumlah penduduknya saja, biasanya kan penduduk juga berkaitan dengan ada enggak daerah industri disana. Kalau ada pasti banyak pendatang, masyarakat disana," katanya.

Disinggung soal inovasi warga Desa Kareo, ia mengatakan sampai saat ini mereka memang belum mendapatkan bantuan pemerintah. Sebab pihaknya ingin menggali lebih dulu potensi yang ada di masyarakat. "Ternyata mereka punya inisiatif dan inovatif ada mesin untuk membuat paving blok. Dari sana kita bisa melihat apa yang mereka butuhkan. Ternyata mesin pencacah plastik, tapi kita akan  lihat diperubahan untuk diusulkan mesin pencacah. Jadi kita ingin melihat dulu bagaimana aspek pemasarannya. Kalau nanti misalkan kebutuhan terhadap mesin ini sangat urgen karena kapasitas produksi besar kita bantu," ujarnya.***

Bagikan: