Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Langit umumnya cerah, 21.7 ° C

BEI Tunggu 4 Unicorn Indonesia Masuk Bursa Saham

Tia Dwitiani Komalasari
ILUSTRASI saham.*/ DOK. PIKIRAN RAKYAT
ILUSTRASI saham.*/ DOK. PIKIRAN RAKYAT

JAKARTA, (PR).- Perusaahan start up berstatus unicorn hingga saat ini belum memberikan sinyal akan melakukan penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO). Padahal Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menyesuaikan peraturan yang memungkinkan para start up unicorn tersebut melakukan IPO.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI‎, I Gede Nyoman Yetna mengatakan, pihaknya bahkan sudah mendatangi perusahaan-perusahaan tersebut untuk membuka komunikasi pada akhir 2018. Meskipun demikian, hingga saat ini belum ada pernyataan dari empat perusahaan unicorn tersebut yang mengarah pada IPO.

Sebelumnya start up ‎terganjal kendala peraturan yang menyatakan bahwa perusahaan yang ingin go public harus bisa membukukan keuntungan dua tahun setelah IPO. Nyoman mengatakan, BEI sudah mengubah peraturan yang bisa mengakomodasi kendala tersebut. 

"Kami sudah akomodasi, buat mereka yang punya intangible aset tinggi, kami berikan kesepatan untuk masuk pintu yang berbeda. Ada banyak pintu seperti ada laba atau tidak, market capnya berapa, revenue berapa. Saya rasa sih dari revenue bisa," ujar Nyoman di Jakarta, Rabu 20 Maret 2019

Menurut Nyoman, peraturan baru tersebut sudah keluar akhir tahun 2018. Hingga saat ini, BEI masih menunggu keputusan para unicorn tersebut untuk IPO. 

Dia mengatakan, keputusan IPO memang tidak mudah karena bersifat strategis. Selain itu, perusahaan juga harus mendapatkan persetujuan dari para pemegang saham. "Yang pasti, bursa sudah memastikan infrastruktur atau peraturan sudah diberikan. Ruang tercatat di bursa sangat besar tanpa menemui kendala yang ada sebelumnya," ujar dia.

Seperti diketahui, saat ini terdapat empat start up unicorn Indonesia yaitu Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak. Masing-masing unicorn itu memiliki valuasi 9,5 miliar Dolar AS, ‎7 miliar Dolar AS, 4,1 miliar Dolar AS, dan 1,2 miliar Dolar AS.

Sementara itu Direktur Utama BEI, Inarno Djajadi mengatakan‎, BEI menargetkan 75 pencatatan baru pada 2019. Jumlah tersebut lebih tinggi dari capain tahun lalu sebesar 57 perusahaan.

"Jumlah capaian perusahaan terdaftar itu merupakan yang tertinggi di Asean, meskipun secara nilai kita kalah dari Vietnam. Itu disebabkan karena ada BUMN di Vietnam yang mencatatkan saham dengan jumlah sangat besar," ujarnya.***

Bagikan: