Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Sedikit awan, 22 ° C

Swasembada Kedelai Masih Jauh

Wilujeng Kharisma
PETANI panen kacang kedelai.*/DOK. PR
PETANI panen kacang kedelai.*/DOK. PR

YOGYAKARTA, (PR).- Rencana pemerintah utuk segera swasembada kedelai pada Tahun 2019 masih banyak terganjal. Dari taget penanaman kedelai dari 300 ribu hektare hingga kini realisasinya masih 12.612 hektare. Untuk DIY, ditargetkan ada 5 ribu hektare, dan realisasinya baru 450 hektare. 

“Lahan ini sudah didukung pemerintah dengan benih kedelai bersubsidi. Dengan hasil jauh dari taget sehingga perlu digali potensi dan strategi untuk percepatannya," kata Kepala Badan Penyuluhan  dan Pengembangan SDM Pertanian, Momon Rusmono, Minggu 17 Maret 2019. 

Menurut Momon, masih banyak kendala yang dihadapi baik teknis maupun prosedural untuk mencapai swasembada kedelai. Misalnya saja di Kabupaten Kulonprogo ada peluang penanaman di Kecamatan Giri Mulyo dan Kecamatan Sentolo. Namun, masalahnya untuk pengairan, irigasinya masih harus berbagi dengan Kabupaten Sleman. 

Sedang di Kabupaten Bantul, peluang tanam di Kecamatan Dlingo, Imogiri dan Pandak. Sementara untuk Gunungkidul, potensi kedelai berada di Kecamatan Ponjong, Girisubo, Playen, Karangmojo, Nglipar, Rongkop dan Semin.  

Untuk Bantul, kata dia, petani sudah banyak yang menanam kedelai hitam, karena sudah memiliki jaringan dan  pemasaran. Sementara di Gunungkidul, penanaman kedelaidinilai repot, karena rentan hama, harga jual rendah dan tonase juga rendah. 

"Kami terus melakukan penjajagan dengan kabupaten yang memiliki potensi. Untuk penyaluran benih dana dari BUMN, dan ada pembatasan waktu pembayaran, sehingga verifikasi dilakukan sampai awal Desember," ujarnya. 

Kurang memuaskan

Sementara itu, petani kedelai saat ini mulai mengalami penurunan minat untuk mengembangkan kedelai. Pasalnya budidaya kedelai lokal cukup sulit memberikan kepuasan, baik pada saat penanaman maupun pada saat penjualan. 

Salah seorang petani kedelai di Dusun Sawahan, Desa Bleberan, Playen, Sumari Citro Wibisono (54) mengungkapkan saat ini tak banyak petani yang menanam kedelai. Hanya beberapa orang saja yang menanam kedelai. Menurutnya, dalam menanam kedelai diperlukan usaha yang cukup keras untuk melakukan perawatan hingga tiba masa panen serta pasca panen. 

“Petani saat ini hanya sedikit yang menanam kedelai local. Perawatannya lebih sulit dibanding tanaman lain,” katanya.

Terkait dengan subsidi benih kedelai yang digelontorkan pemerintah Gunungkidul, ia mengaku belum mendengar kabar tersebut. Saat ini ia sedang menanam kedelai yang telah berjalan dua bulan secara mandiri (tanpa subsidi) dari pemerintah. 

Namun ia justru tak banyak berharap pada subsidi benih kedelai. Sumari lebih mengharapkan adanya subsidi dari pemerintah berupa subsidi harga kedelai di pasaran. Pasalnya saat ini harga penjualan kedelai local kalah dengan harga kedelai impor. Harga kedelai local yang anjlok membuat para petani harus pikir panjang untuk menanam kedelai. 

“Penjualan harga kedelai lokal saat ini berkisar Rp 6.000 sedangkan kedelai impor Rp 6.500. Sehingga sekarang petani memilih untuk menanam jagung saja yang lebih mudah, harganya baik, dan praktis,” ujarnya. 

Sumari  berharap pemerintah lebih memperhatikan harga penjualan kedelai lokal di pasar dibandingkan memberikan subsidi benih. Karena menurutnya, penurunan minat petani utnuk menanam kedelai karena harga yang anjlok sungguh disayangkan.***

Bagikan: