Pikiran Rakyat
USD Jual 14.080,00 Beli 13.780,00 | Hujan singkat, 28.5 ° C

Menaker Ingatkan Buruh untuk Merespons Perubahan Teknologi

Satrio Widianto
M. Hanif Dhakiri.*/DOK PR
M. Hanif Dhakiri.*/DOK PR

MEDAN, (PR).- Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri mengingatkan Serikat Buruh (SB)/Serikat Pekerja (SP) untuk merespon perkembangan atau perubahan dunia industri yang selalu dinamis. Perkembangan teknologi industri yang masif diyakini akan mengubah industri, karakter pekerjaan dan mengubah tuntutan skill pada dunia kerja.

"Perubahan teknologi bukan untuk menakut-nakuti tapi mengingatkan suka atau tidak suka perubahan ini pasti akan terjadi. Sekarang ini perubahan sedang berjalan, karena itu sangat penting (bagi SP/SB) untuk merespon perubahan ini agar tetap survive," ujar Hanif saat membuka Rakerwil Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI), di Medan, Jumat, 15 Maret 2019, seperti yang tertuang dalam siaran pers yang diterima Pikiran Rakyat.

Disebutkan, respon proaktif SB/SP dibutuhkan dalam menghadapi tantangan perubahan karakter pekerjaan akibat kemajuan teknologi. Pasalnya, dewasa ini perubahan karakter pekerjaan terjadi begitu cepat. Pekerjaan cepat berubah karena pengaruh perkembangan teknologi, seperti penggunaan mesin dan robotisasi. "Ini harus direspon secara cepat juga baik oleh pemerintah, dunia usaha dan tentu saja oleh serikat pekerja,” kata Hanif.

Menurut dia, perubahan industri yang terjadi di luar banyak yang di-drive untuk perkembangan Teknologi Informasi yang massif dan pada akhirnya akan mempengaruhi hubungan industrial. Terkait perubahan teknologi sekaligus tantangan ketenagakerjaan di era industri 4.0 itu, Hanif menginginkan SB/SP tetap eksis, memiliki peran dan manfaat bagi para pekerja ke depan yang lebih baik. Tapi dengan catatan, SB/SB juga harus berubah dan harus bisa merefleksikan di tengah perubahan yang sangat cepat dan masif. "Jika tidak, serikat buruh akan ketinggalan jaman dan menjadi tidak relevan dengan perubahan," katanya.
 

Ilustrasi.*/DOK PR

Sebelumnya, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai hadirnya revolusi industri 4.0 bisa menjadi ancaman tersendiri bagi tenaga kerja dalam negeri yang tidak memiliki keterampilan untuk beradaptasi dalam pekerjaan-pekerjaan jenis baru.

"Betul ini akan menjadi ancaman yang sangat serius kalau tidak diantisipasi nanti apabila terjadi ledakan jumlah tenaga kerja yang tidak terampil di sektor formal," ucap Ketua Umum Apindo Hariyadi B. Sukamdani

Hariyadi menyarankan perlu adanya perubahan pola pendidikan dan pola vokasi di Indonesia. Sebab, bukan zamannya lagi anggapan bahwa begitu bersekolah vokasi maka setelah lulus akan diterima di industri dengan mudah. "Ini harus dilihat lagi dan sekarang juga orang lebih cenderung bekerja sendiri-sendiri atau self employed. Nah itu kan harus ada panduan, cara-cara pelatihan, dan vokasinya harus disesuaikan," tuturnya.

Berdasarkan data Barenbang Kemnaker, ada beberapa pekerjaan yang menurun dalam tiga periode Revolusi Industri 4.0 sejak 2018 hingga 2030 mendatang. Pekerjaan yang menurun di antaranya manajer administrasi, sopir, tukang cetak, pengantar surat, resepsionis, agen perjalanan, operator mesin, juru masak makanan cepat saji, dan ahli las.***

Bagikan: