Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Sebagian berawan, 19.1 ° C

Barang Hasil Belanja Online Telat Datang, Pahami 5 Alur Distribusi dalam Ekosistem E-commerce Indonesia

Yusuf Wijanarko
BELANJA online/THE FINANCIAL EXPRESS
BELANJA online/THE FINANCIAL EXPRESS

AKTIVITAS e-commerce tidak saja berupa jual-beli barang, tetapi juga tentang proses pengiriman barang agar pasti sampai ke alamat yang benar.

Ketika pembeli selesai memesan barang dari etalase belanja online, berarti mereka telah percaya bahwa perusahaan e-commerce yang menjual barang itu juga sanggup mengirimnya ke alamat yang dituju.

Di industri e-commerce Indonesia, perebutan kepercayaan konsumen bukanlah hal baru. Banyak perusahaan menghadirkan narasi tentang pengiriman barang yang mudah, murah, cepat, dan tepat untuk menggaet kepercayaan calon pembeli.

Akan tetapi, benarkah distribusi barang di industri e-commerce semudah yang digembar-gemborkan atau justru berbelit-belit?

Ada lima alur distribusi yang biasa ditempuh untuk mengantar barang ke konsumen dalam industri seperti dirangkum iPrice berikut ini.

1. Perusahaan e-commerce-pembeli

Perkembangan teknologi mendorong perubahan dalam aktivitas perusahaan. Jika dulu suatu perusahaan sebatas memproduksi barang, kini mereka juga bisa melakukan aktivitas multiaspek. Salah satunya yakni menunaikan proses distribusi mandiri. Barang-barang yang telah mereka produksi dapat langsung dikirim ke pembeli menggunakan tim pengiriman sendiri.

Perusahaan yang memiliki alur distribusi mandiri biasanya juga menerapkan konsep satu pintu dalam layanan belanja online.

E-commerce.*/DOK. PR

Satu pintu artinya menjadikan halaman situs perusahaannya sebagai platform memajang produk sekaligus tempat transaksi langsung yang didukung jasa pengiriman.

Jadi begitu pembeli menyelesaikan transaksinya, barang yang dipesan akan langsung dikemas dan diproses tim pengiriman ke alamat tujuan. Perusahaan berjenis Business to Consumer (B2C) seperti Sephora, Brodo, dan Alfacart kerap menggunakan alur distribusi langsung ini.

2. Perusahaan e-commerce-perusahaan ekspedisi-pembeli

Tidak semua perusahaan e-commerce mampu membina tim distribusi sendiri. Terlebih, kondisi geografis pasar Indonesia begitu luas untuk dijangkau. Karenanya, masih banyak perusahaan yang hanya berfokus dalam pengadaan dan penjual produk di situs mereka.

Calon pembeli tetap bisa memilih produk dan melakukan transaksi di situs perusahaan terkait. Namun, begitu pembayaran telah dilunasi, produk yang dipilih pembeli akan diantar perusahaan e-commerce ke perusahaan ekspedisi eksternal. Ketika sampai di perusahaan ekspedisi, tim pengiriman terlebih dulu mendata dan menyortir alamat barang sebelum diantar ke pembeli.

Terkadang, proses ini memakan waktu lebih lama jika kuantitas barang yang masuk ke gudang perusahaan ekspedisi membeludak.

Dalam beberapa kondisi, perusahaan ekspedisi dapat pula menjemput barang pesanan langsung dari gudang perusahaan e-commerce. Perusahaan B2C seperti Bukupedia dan Alfacart kerap mengandalkan alur distribusi ini untuk pengiriman produk ke pembeli.

3. Penjual online-perusahaan ekspedisi-pembeli

Jumlah pedagang online di Indonesia semakin subur seiring bertambah populernya platform e-commerce dan e-marketplace.

Dengan adanya platform itu, kini para penjual tidak perlu lagi bergantung pada keberadaan gudang atau toko fisik untuk menyimpan barang jualan. Mereka dapat berjualan di mana saja. Para pedagang cukup mengiklankan barang di platform terkait.

Begitu ada pembeli yang membeli barang, pedagang di platform e-commerce/e-marketplace akan mengemas barang itu untuk kemudian diantar ke perusahaan ekspedisi eksternal.

DOK PR

Ada banyak perusahaan ekspedisi yang diberdayakan pedagang online mulai dari pemain ekspedisi lama seperti JNE, TIKI, Pos Indonesia hingga penyedia layanan pengiriman berbasis aplikasi seperti Go-Send dan Grab Express. Pembeli juga dapat memilih sendiri perusahaan ekspedisi yang tertera di etalase toko online terkait.

Alur distribusi seperti ini dapat ditemukan di platform e-commerce dan e-marketplace seperti Tokopedia, Bukalapak, Shopee, Lazada, Sorabel, Elevenia, dan Maskoolin yang mewadahi pedagang-pedagang online skala kecil dan menengah.

4. Penjual online-perusahaan e-commerce-pembeli

Di samping menyediakan wadah berjualan, sejumlah perusahaan e-commerce juga menawarkan slot gudang mereka pada pedagang online sebagai tempat penyimpanan sementara barang yang akan dijual.

Selain berguna sebagai tempat penyimpanan sementara, keberadaan gudang yang dikelola langsung perusahaan e-commerce dapat memudahkan pedagang dalam mengurus aspek pengiriman barang.

Dengan kata lain, pedagang menyerahkan inventarisnya ke perusahaan e-commerce untuk menangani setiap pengiriman dengan maksimal mulai dari pengemasan barang, pendataan alamat, hingga pengiriman ke alamat pembeli.

Perusahaan e-commerce B2C seperti Blibli, Zalora, JD.id, dan Orami menjadikan alur ini sebagai rantai distribusi utama mereka.

Perusahaan yang menggabungkan konsep B2C dan C2C seperti Lazada juga menggunakan alur ini sebagai salah satu opsi pengiriman barang ke pembeli.

5. Penjual online-perusahaan e-commerce-perusahaan ekspedisi-pembeli

Alur terakhir ini juga menyertakan slot gudang sebagai tempat penyimpanan barang. Hanya, perusahaan e-commerce yang menggunakan alur ini umumnya tidak punya tim kurir sendiri. Karenanya, mereka memanfaatkan perusahaan ekspedisi eksternal untuk memproses pengiriman barang ke pembeli.

Ketika pembeli menyelesaikan transaksinya dengan penjual online yang ada di platform e-commerce terkait, barang yang dipesan akan dikemas di gudang perusahaan e-commerce itu. Setelah dianggap memenuhi prosedur pengemasan, barang akan diambil/dikirim ke perusahaan ekspedisi eksternal.

Di perusahaan ekspedisi, barang itu kembali diproses dan disortir berdasarkan daerah tujuan. Setelah semuanya selesai, barang akan mulai didistribusikan ke alamat pembeli.

Sejumlah perusahaan C2C seperti JakMall, Tees.id, dan Otten Coffee menggunakan alur ini untuk mengirim barang. Perusahaan B2C seperti Matahari.com juga menyertakan alur ini dalam pendistribusian produk-produknya.***

Bagikan: