Pikiran Rakyat
USD Jual 14.286,00 Beli 13.986,00 | Berawan, 22.6 ° C

Tangkap Penyelundupan Benih Lobster Terbesar, Susi Pudjiastuti: Ada Sindikat

Tia Dwitiani Komalasari
MENTERI Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pudjiastuti (tengah) meninjau acara Festival Membumikan Laut Sebagai Masa Depan Bangsa di Unpad, Jalan Dipatiukur, Kota Bandung, Selasa 26 Februari 2019.  Dalam kesempatan tersebut dirinya berharap masyarakat  tidak hanya mengambil manfaat hasil laut akan tetapi mampu berperan aktif dalam menjaga kelestariannya.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR
MENTERI Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pudjiastuti (tengah) meninjau acara Festival Membumikan Laut Sebagai Masa Depan Bangsa di Unpad, Jalan Dipatiukur, Kota Bandung, Selasa 26 Februari 2019. Dalam kesempatan tersebut dirinya berharap masyarakat tidak hanya mengambil manfaat hasil laut akan tetapi mampu berperan aktif dalam menjaga kelestariannya.*/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

JAKARTA, (PR).- Sebanyak 245.102 ekor benih lobster‎ yang akan diselundupkan berhasil digagalkan Tim Fleet One Quick Response (F1QR) Satuan Tugas Gabungan Komando Armada I (Koarmada I) di perairan Pulau Sugi, Batam, Kepulauan Riau. Kementerian Kelautan dan Perikanan menuding jika penyelendupan ini dilakukan oleh sindikat.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan, penggagalan benih lobster ini merupakan tangkapan terbesar dalam sejarah yang dilakukan oleh pemerintah selama ini. 

"Kalau dinilai dengan harga beli dari masyarakat, BL (benih lobster) ini mungkin bernilai sepuluh miliaran. Tapi kalau dinilai ke bakulnya, 37 miliar. Kalau dinilai di Singapura, mungkin sudah 60 miliar. Kalau dilepas di laut, jadi 8 ons, 1 kg, 2 kg per ekornya, mungkin nilainya sudah paling tidak seratus kalinya,” ucap Susi di Jakarta, Jumat, 15 Maret 2019. 

Menurut dia, penyelundupan benih lobster ini diindikasikan merupakan sindikat yang dikumpulkan dari semua pos-pos di sepanjang wilayah Indonesia. Wilayah lobster itu meliputi bagian barat Sumatera, Belitung, selatan Jawa, utara Natuna, Kalimantan, Bali, Lombok, dan beberapa pulau di Indonesia bagian Timur. 

Dia mengatakan, pemerintah secara intensif melakukan pengamanan benih lobster sejak 2015. Hal itu diduga membuat penyelundup benih lobster mengerucut menjadi sebuah sindikasi.

“Dulunya kan pemain-pemain kecil dari mana-mana. Nah, sekarang ini ada pemain besar dengan segala speed boat berkecepatan tingginya. Paling tidak 42 knot kecepatannya minimal. Jadi kalau liat itu, ini ada pemain besar yang memang bisa mengerjakan seperti ini,“ ujarnya.

Susi mengatakan, pemerintah akan terus mengembangkan indikasi sindikat untuk menemukan aktor besar yang berada di ujung rantai penyelundupan ini. Terhitung sejak Januari-Maret 2019, terdapat delapan kasus penggagalan pengiriman benih lobster di enam titik lokasi dengan total 338.065 ekor senilai Rp 50,7 miliar.

Komandan Guskamla Koarmada 1, Laksamana Pertama TNI Dafit Santoso menjelaskan, penggagalan penyelundupan ini bermula dari informasi yang diperoleh tim di lapangan pada Selasa, 12 Maret 2019. "Disebutkan, terlihat sebuah speed boat melintas masuk dari wilayah Batam menuju Singapura dengan kecepatan tinggi," ujarnya.

Setelah memperoleh informasi tersebut, tim segera melaksanakan persiapan dan memantau speed boat.‎ Berdasarkan informasi yang dilaporkan, saat pengejaran terlihat dua speed boat lain dengan laju kecepatan tinggi. 

"Tim 2 memutuskan untuk mengejar satu speed boat yang terpantau membawa barang bukti berupa coolbox styrofoam berwarna putih. Kalah cepat dan merasa terkepung, speed boat tanpa nama tersebut menabrakkan diri ke daratan di area Teluk Bakau hingga kandas," ujar dia.

Benih lobster tersebut diduga berasal dari Lampung. Rabu, 13 Maret 2019, benih lobster hasil penangkapan di Batam telah dilepasliarkan di Wilayah Senoa, Natuna, menyesuaikan dengan habitat alami lobster. ***

Bagikan: