Pikiran Rakyat
USD Jual 14.328,00 Beli 14.028,00 | Umumnya berawan, 23.9 ° C

Neraca Perdagangan Indonesia Surplus 300 Juta Dolar AS

Tia Dwitiani Komalasari
ILUSTRASI ekspor impor.*/REUTERS
ILUSTRASI ekspor impor.*/REUTERS

JAKARTA, (PR).- Badan Pusat ‎Statistik (BPS) merilis neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2019 mengalami surplus senilai 0,3 miliar Dolar AS. Hal itu dipicu oleh penurunan impor hingga mencapai 12,2 miliar Dolar AS atau 18,61 persen dibandingkan Januari 2019.

Surplus neraca perdagangan ini merupakan yang pertama kalinya, setelah sebelumnya selalu mengalami defisit selama empat bulan berturu-turut.‎ Sebelumnya pada Januari 2019, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit -1,06 miliar Dolar AS.

Berdasarkan data BPS, nilai ekspor Februari 2019 sebenarnya kembali mengalami penurunan dibandingkan‎ bulan sebelumnya. Nilai ekspor Februari 2019 mencapai 12,53 miliar Dolar AS, atau turun 10,03 persen dibandingkan Januari 2019.

Kepala BPS, Suhariyanto, mengatakan penurunan nilai ekspor Februari itu juga dialami pada 2017 dan 2018. "Jadi sesuai polanya, nilai ekspor selalu mengalami penurunan pada Februari," ujar dia saat konferensi pers di Jakarta, Jumat, 15 Maret 2019. 

Nilai ekspor Februari 2019 tetap mengalami penurunan hingga -11,33 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan nilai ekspor terjadi baik di sektor migas maupun non migas.

Meskipun demikian, nilai impor Februari 2019  jatuh lebih dalam‎. Penurunan nilai impor terjadi di semua sektor baik konsumsi (-17,43 %) , bahan baku/penolong (-21,11%), dan barang modal (-7,09%) jika dibandingkan Januari 2019. 

Penurunan impor

Nilai impor juga mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu konsumsi (-26,94%), bahan baku/penolong (-15,04%), dan barang modal (-0,8%).

Nilai impor yang anjlok tersebut mendorong neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus tipis pada Februari 2019. Namun, neraca perdagangan Januari-Februari 2019 masih tercatat defisit senilai 0,73 miliar Dolar AS.

Suhariyanto mengatakan, pemerintah perlu lebih banyak lagi menggenjot ekspor untuk mempertahankan surplus neraca perdgaangan. Meskipun demikian, dia mengakui hal itu sulit dilakukan karena kondisi global yang sedang lesu.

"Bank Dunia saja baru menurunkan pertumbuhan global dari tiga persen menjadi 2,9 persen. Ini tantangan utama untuk menggenjot ekspor di tengah fluktuasi harga komoditas,"ujarnya.

Dia menambahkan, Indonesia masih tercatat mengandalkan komoditas untuk menggenjot ekspor. Namun, ada beberapa komoditas yang volume ekspornya naik, namun nilainya tetap turun. Hal itu disebabkan karena harga komoditas yang sedang anjlok.

"Misalnya saja batu bara, nilai ekspornya turun padahal volumenya naik. Sementara karet, sudah harganya turun, volumenya pun ikut turun," ujarnya.***

Bagikan: