Pikiran Rakyat
USD Jual 14.328,00 Beli 14.028,00 | Berawan, 23.9 ° C

Bisma, Ladang Sayur yang Berubah Jadi Kopi

Eviyanti
WARGA Desa Babadan Kecamatan Pagentan Kecamatan Pagentan Banjarnegara kini fokus menanam kopi dari sebelumnya bercocok tanam sayuran.*/EVIYANTI/PR
WARGA Desa Babadan Kecamatan Pagentan Kecamatan Pagentan Banjarnegara kini fokus menanam kopi dari sebelumnya bercocok tanam sayuran.*/EVIYANTI/PR

"SAYA ingin mewariskan anak dan cucu saya tanah subur. Saya tidak ingin dicap sebagai petani yang membuat  kerusakan lingkungan," kata Sudarno warga Desa Babadan Pagentan Kabupaten Banjarnegara Jawa Tengah. 

Mantan petani sayuran di dataran tinggi Banjarnegara kini sadar betul selama ini salah dalam cara bercocok tanam, tanpa  mengindahkan konservasi lingkungan. Ada ratusan ribu hektare lahan pertanian yang mengalami degradasi. Tanah yang subur tak lagi bisa dinikmati secara gratis.  

Sekitar  tahun 1980 produksi kentang  di Kabupaten Banjarnegara booming. Harga kentang melejit, tingkat produksi juga tinggi karena tanahnya subur. Petani mengalami  zaman  keemasan, mereka semakin tergiur dengan keuntungan tinggi. Ekspolatasi tanah terjadi secara besaran-besaran. Belasan ribu hutan wilayah lereng gunumg Slamet utara dibabat.

Namun euforia tak berlangsung lama,  daya dukung alam terhadap perekonomian masyarakat setempat semakin merosot. Tanah menjadi labil karena tidak ada tanaman yang mampu menahan erosi longsor dan banjir.

Alam sudah mengalami titik jenuh, kesuburan tanah  semakin merosot. Upaya pemupukan  hingga obat-obatan berbiaya tinggi, diharapkan dapat pemacu kesuburan tanah tapi  tak membuahkan hasil. Sebaliknya tanah semakin merana. Sekitar 7.758 hektare lebih lahan di dataran tinggi Dieng sudah menjadi kritis.

Berdasarkan data dari BPBD Banjarnegara, selama 7 tahun terakhir tercatat 367 kali bencana longsor dengan korban jiwa sebanyak 113 orang dan kerugian material hingga mencapai milyaran rupiah.

Kepala Desa Babadan Kecamatan Pagentan Kecamatan Pagentan, Wahyu Setiawati mengakui jika wilayahnya  termasuk rawan longsor, peristiwa  longsor di Sekopel menyebabkan empat orang meninggal dunia.

Oleh karena Desa Babadan termasuk wilayah yang harus segera konservasi.  "Menanam sayur selain menyebabkan degradasi lingkungan pegunungan, nilai ekonominya juga sudah merosot," jelasnya.

Tanaman konservasi

Namun perkembangan lima tahun terakhir ada perubahan yang cukup menarik terhadap perilaku petani lokal setelah banyak mengalami berbagai kerugian materi serta bencana. Petani Pagentan serta beberapa wilayah pegunungan Banjarnegara mulai menyadari pentingnya konservasi alam,  setelah mereka dikenalkan dengan tanaman kopi. 

Pemkab Banjarnegara bersama Bank Indonesia menawarkan solusi dengan alih tanaman dengan jenis tanaman bernilai ekonomi tinggi sekaligus sebagai tanaman konservasi, seperti kopi. Sejak tiga tahun terakhir sudah mulai membuahkan hasil.

Salah satu upaya konservasi lingkungan di dataran tinggi Banjarnegara sudah  dimulai di  Desa  Babadan Kecamatan Pagentan Kabupaten Banjarnegara. Wilayah  dengan ketinggian di atas 1200 mdpl.  

Kepala Kepala  Perwakilan Wilayah (KPw) BI Purwokerto Agus Chusaini menambahkan, topografi wilayah di Banjarnegara sangat bervariasi dengan kontur sebagian besar berbukit dan mempunyai struktur tanah yang labil. "Sekitar 70 persen wilayah Banjarnegara rawan longsor dengan kategori rendah hingga tinggi," katanya.
 
Atas dasar kondisi tersebut, Bank Indonesia menggelontorkan Program Pengembangan Ekonomi Lokal (Local Economic Development) Kopi sebagai upaya konservasi lahan dan peningkatan perekonomian petani. "Kami, berkomitmen untuk menanam 1 juta pohon untuk konservasi serta peningkatan ekonomi petani," lanjutnya saat kick off program LED Kopi di Desa Babadan, Kecamatan Pagentan, beberapa waktu lalu.

Alasan mengapa dipilih kopi sebagai tanaman konservasi terutama dikarenakan selain mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi, kopi juga memiliki nilai strategis sebagai tanaman konservasi tanah dan air.

Menurut Agus, berdasarkan hasil riset tim dari  UGM yang tanaman kopi mempunyai akar tunggang yang kuat sampai kedalaman 3 m, dan akar lateral sampai sepanjang 2 m, dan membentuk anyaman ke segala arah. Untuk upaya konservasi Bank Indonesia melibatkan pakar konservasi  UGM.

Akar pada tanaman kopi tersebut ini dapat melindungi dan memegang tanah dari daya erotif. "Tanaman kopi tersebut memiliki manfaat ganda, yakni dari segi ekonomi dan konservasi," tambahnya.

Ubah cara berpikir

Campur tangan pemerintah, dalam hal ini Pemkab dan Bank Indonesia memang telah mengubah cara berpikir petani sayur yang bermukim di dataran tinggi Banjarnegara.

Khusus di Desa Babadan saja luas lahan tanaman sayur  sudah semakin berkurang, sekitar 70 hektare ladang sayur milik 187 petani kini sudah ditanami  kopi dan geliat ekonomi dan kesadaran mengenai konservasi petani setempat pun  sudah mulai dirasakan hasilnya. Petani seperti Sudarno merasakan hal tersebut.

Sudarno, kini  sudah menjadi  Manejer Koperesi Kopi Sikopel Mitreka Sasata,  sekaligus Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan)  Sida Makmur  di Desa Babadan Kecamatan Pagentan.

Gapoktan Sida Makmur mewadahi  198  petani kopi. Kini mereka  mengelola  60 hektare (ha) ladang kopi atau sekitar 150 ribu pohon, sebanyak 12 ribu pohon di antaranya adalah merupakan bantuan dari Bank Indonesia Perwakilan Purwokerto.

Dari  60 hektare ladang kopi   sekitar 40 ha  sudah memasuki usia produksi. “Kami sudah lima kali panen sekali panen bisa mencapai 5 ton kopi green bean atau kopi yang sudah siap olah,” jelas Sudarno.

Hasil panen kopi para petani ditampung oleh Koperasi Kopi Sikopel Mitreka Sasata. Koperasi bahkan sudah melebarkan sayapnya dengan memproduksi  kopi siap seduh dengan brand “Java Bisma" Arabika Babadan” kualitas premium.

Nama Bisma diambil dari nama pegunungan atau bukit di Desa Babadan. Pegunungan Bisma sebelumnya adalah ladang sayur kini sudah disulap sebagai ladang kopi. Nama Bisma dicatut untuk diabadikan dalam produk kopi yang dicari pasar kafe tanah air. 

Di pasar kopi cery atau kopi petik merah harganya mencapai Rp 12.000 per kg, kopi green bean dijual Rp 100.000 per kg dan kopi siap seduh  harganya Rp 300.000 per kg.

Pasar kopi Java Bisma adalah kafe-kafe bergengsi di Jakarta hingga  Yogyakarta. Kafe dari  Surabaya dan Aceh sebenarnya sangat berminat dengan kopi Babadan. Mereka mau  membeli dalam jumlah berapun, namun produksinya masih terbatas. Untuk dua tahun ke depan dia optimis produksnya bakal bertambah, sebab masih ada sekitar 20 ha tanaman kopi yang saat ini belum memasuki usia produkstif.

“Sebenarnya permintaan kafe-kafe dari daerah lain sangat tinggi seperti Surabaya bahkan sampai Aceh. Untuk saat ini belum bisa terlayani karena produksinya masih terbatas,” jelasnya.

Koperasi juga menjual kemasan melalui online dengan berbagai ukuran,  kemasan ukuran 100 gram dijual Rp 30.000,  150 gram Rp 45.000. kopi 250 gram  djual Rp 75.000 dan 500 gram Rp 150.000. Sedang  kemasan 1 kilogram Rp 300.000  kg. "Kalau pasar online per bulan bisa mencapai 20 kg   sedang kafe membelinya dalam bentuk green bean," tambahnya.  

"Mengenai kesitimewaan kopi Java Bisma, punya karakter sendiri taste-nya khas tidak dimiliki daerah lain. Kopi kita dominan rasa gula jawa,  body kuat kalau asam hampir semua jenis Arabika asam,” jelasnya.

Saat ini di Banjarnegara terdapat tanaman  arabika mencapai 549,62 ha dan robusta  1.854,83 ha . Dengan produksi kopi robusta tercatat rata-rata sekitar 865 ton dalam satu kali panen atau sekitar 755 kg per ha dan sekitar 201 ton atau  805 kg  per hektar untuk jenis kopi arabica.

Pasar internasional

Wakil Bupati Banjarnegara Syamsudin menambahkan,  saat ini total luas tanaman kopi sekitar 2.560 ha. Jika 1 juta kopi program LED kopi dari Bank Indonesia  sudah tertanam, Maka akan ada penambahan areal kopi seluas 700 ha,  Nama Banjarnegara nanti tidak akan lepas dari kopi produk kopi baik jenisnya arabica maupun robusta.

Tahun depan, rencannya Banjarnegara juga akan mendapatkan bantuan dari Islamic Development Bank untuk program integrasi kopi seluas 350 ha.

"Jika jenis kopi arabica akan kita tanam di wilayah dengan ketinggian minimal 700 meter diatas permukaan laut atau wilayah atas Banjarnegara, sedangkan jenis robusta kita tanam di wilayah dataran rendah." tambahnya.

Mengenai bagaimana peluang pasar internasional, saat ini kopi merupakan minuman paling diminati oleh masyarakat di seluruh dunia. Data International Coffe Organization (ICO) menunjukkan bahwa konsumsi kopi dunia pada periode 2016/2017 tumbuh 1,9%  menjadi 157,38 juta karung berisi 60 kg dari periode sebelumnya. Tumbuhnya konsumsi kopi global tentunya memberikan dampak positif bagi Indonesia yang merupakan negara eksportir kopi terbesar kedua dunia.

Tumbuhnya konsumsi kopi global memberikan dampak positif bagi Indonesia yang merupakan negara eksportir kopi terbesar kedua dunia. Kopi Banjarnegara memang tidak setenar Kopi  Aceh Gayo yang sudah memiliki pasar internasional, namun selama tiga tahun terakhir kopi Banjarnegra sudah mulai menyodok ke tingkat nasional

Pengembangan melalui  1 juta tanaman kopi di wilayah Banjarnegara melalui program produk lokal unggulan atau local economic development (LED).  Maka Upaya Bank Indonesia PKw Purwokerto bersama ratusan petani di Banjarnegara bisa jadi merupakan embrio  mengarah ke pasar global kopi.(Eviyanti/PR)***

Bagikan: