Pikiran Rakyat
USD Jual 14.089,00 Beli 14.187,00 | Sedikit awan, 19.1 ° C

Sejumlah Perajin Tahu Frustrasi, Berencana Pulang Kampung

Tim Pikiran Rakyat
ILUSTRASI pedagang tahu.*/DOK. PR
ILUSTRASI pedagang tahu.*/DOK. PR

SERANG, (PR).- Sejumlah perajin tahu di Kota Serang menurunkan angka produksinya hingga 50 persen. Hal tersebut karena dalam satu bulan terakhir ini daya beli masyarakat terhadap tahu berkurang.

Ini juga dipengaruhi karena adanya penertiban di sejumlah pasar yang ada di Kota Serang. "Ngaruh juga, karena kan kebanyakan jualannya di pinggiran jalan. Kemarin ditertibkan sama Satpol PP suruh pindah ke dalam pasar semua. Jadi yang sebagian ada yang jualan, sebagian lagi cuma jual sedikit," kata Tatang salah satu perajin tahu di Lingkungan Domba Tegal, Kelurahan Lopang Kota Serang, kepada wartawan Kabar Banten, Rizki Putri, Selasa 12 Maret 2019.

Biasanya ia memproduksi tahu sebanyak 100 kilogram dalam sehari. Namun sebulan belakangan, ia mengaku hanya memproduksi 50 kilogram kedelai dalam satu hari. "Kalau sekarang-sekarang paling cuma 50 kilo saja sehari. Biasanya 100 kilo, tapi ini lagi sepi yang beli tahu. Jadi kami engga banyak produksinya," ujarnya.

Sementara, perajin lainnya Ujang Elon mengatakan harga kedelai saat ini memang telah kembali normal. Dari harga Rp 8.000 hingga Rp 8.500 per kilogram, kini menjadi Rp 7.500 per kilogramnya. Namun kualitasnya tidak sebagus biasanya.

"Sudah kembali normal, tapi kualitasnya sedikit kurang bagus. Yang diambil itu kan kadar acinya, nah kedelai yang ini kadarnya kurang. Tapi memang tergantung dari proses pembuatannya juga," katanya.

Namun, ia juga mengakui, saat ini produksi tahu sedang tidak stabil. Karena kondisi pasar yang sepi, maka dirinya beserta perajin lainnya menurunkan angka produksi juga. "Biasanya sehari 1,5 ton, tapi belakangan ini paling cuma 1 ton saja produksinya," tuturnya.

Bahkan, Ujang berniat untuk menjual pabrik tahu beserta seluruh aset lain miliknya. "Saya juga mau jual semuanya, mau coba usaha lain aja pulang kampung. Sudah kerasa capek bikin tahu, harga kedelai kadang naik, terus pemasarannya juga sudah tidak seperti dulu," katanya.

Ujang mulai frustrasi dengan usaha pembuatan tahu. Ia berencana untuk kembali ke kampung halamannya dan memulai bisnis baru dari hasil penjualan aset miliknya nanti. Memang, sudah hampir satu tahun harga kedelai impor terus merangkak naik. Sehingga membuat sejumlah perajin tahu dan tempe menjerit.

Bahkan ada beberapa perajin yang telah gulung tikar karena ongkos produksi yang begitu mahal. Namun tidak diimbangi dengan pemasukan penjualan. "Kedelai yang kami pakai itu kan impor, karena memang harganya murah. Kemudian BBM naik, harga kedelai pun ikut naik. Ya kami perajin dan pedagang tahu bingung mau produksinya juga," kata Ujang. 

Meski kini harga kedelai sudah kembali normal, justru pemasarannya kini semakin sempit. "Bulan-bulan ini memang penjualannya agak menurun, tapi masih lumayan. Biasanya agen biasa pesen 15 bak, sekarang cuma 8 sampai 10 bak saja sehari. Justru kadang suka masih sisa. Namanya usaha ya kita pasrah saja, setiap usaha kan ada pasang surutnya," tuturnya.***

Bagikan: