Pikiran Rakyat
USD Jual 14.286,00 Beli 13.986,00 | Berawan, 22.6 ° C

Pertamina EP Masih Manfaatkan Sumur Tua

Satrio Widianto
null
null

JAKARTA, (PR).- PT Pertamina EP, anak usaha PT Pertamina (Persero) dan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) di bawah supervisi dan koordinasi SKK Migas, menyatakan fokus untuk menggenjot produksi minyak dari sumur tua di sembilan lapangan minyak dan gas bumi (migas), dengan menggunakan metode Enhanced Oil Recovery (EOR). Dengan metode ini, Pertamina EP berharap dapat meningkatkan jumlah minyak diekstrak dari ladang minyak mencapai 30-60 persen.

Direktur Pengembangan PT Pertamina EP John H Simamora mengatakan, sumur tua dari sembilan lapangan migas yang dikelola Pertamina EP tersebar di seluruh Indonesia, prioritas pemilihannya berdasarkan jumlah cadangan yang dimiliki yaitu sekitar 300 juta-700 juta Bllion of Stock Tank Barrels (BSTB).

"Pemetaaan sudah, rencana kerja sedang kami ajukan, makanya yang kami utamakan yang besar-besar dulu," kata John saat media gathering dan diskusi bertema "Strategi dan Inovasi Pertamina EP dalam Mendongkrak Produksi Migas", di Jakarta, Selasa 12 Maret 2019.

Sembilan lapangan tersebut adalah Rantau, Sago, dan Ramba di Pertamina EP Aset 1n Jirak dan Limau di Pertamina EP Asset 2, Tambun dan Jatibarang di Pertamina EP Asset 3, serta Sukowati di Pertamina EP Asset 4, dan Tanjung di Pertamina EP Asset 5. Untuk lapangan Tanjung, Rantau, Sago, Jirak, dan Limau menggunakan kimia yang disuntikan ke sumur migas, sedangkan empat lainnya menggunakan metode karbondioksida (CO2).

Dia belum merinci investasi yang akan dikeluarkan untuk menjalankan program tersebut. Namun untuk satu lapangan di Tanjung yang menjadi uji coba EOR, membutuhkan  4 juta dolar  untuk pengadaan kimia surfaktan polimer. "Field trial untuk chemical EOR polimer di Tanjung sekitar  4 juta dolar, termasuk untuk pengadaan 70 ton polimer," tandasnya.

Injeksi kimia

Sementara itu, Vice President EOR PT Pertamina EP Andi W Bachtiar mengatakan, PT Pertamina EP ditargetkan menjadi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) pertama yang menerapkan teknologi  EOR skala penuh  dengan menggunakan  injeksi bahan kimia, di Lapangan Tanjung, Kalimantan Selatan. Diperkirakan, hal itu akan dilakukan pada kuartal IV-2021.

Dijelaskan, uji coba atau pilot project penggunaan kimia dalam EOR sebelumnya sudah dilakukan anak usaha PT Pertamina (Persero) tersebut di Lapangan Tanjung. Injeksinya menggunakan polymer. Proyek EOR dengan injeksi polymer, kata Andi, mempunyai potensi yang besar di Pertamina. "Proyek pilot polymer di lapangan Tanjung dimulai di akhir 2018. Pemilihan metode injeksi polimer di Lapangan Tanjung didasarkan pada seleksi dengan kriteria-kriteria  tertentu, seperti temperatur reservoir, fluida reservoir, dan kondisi geologi," jelas Andi.

Adapun, polymer merupakan salah satu teknik EOR yang sudah terbukti dapat meningkatkan perolehan minyak dan telah banyak digunakan di lebih dari 50 lapangan minyak di dunia. Disebutkan, pengembangan Lapangan Tanjung membutuhkan biaya operasi sebesar  40 dolar/BOE  (barel minyak setara) dengan puncak produksi sebesar 25.000 barel of oil per day (BOPD) di 2034, dan investasi sebesar  116 juta dolar. Andi menuturkan, pihaknya menilai, proyek ini masih ekonomis untuk diimplementasikan.

Pertimbangan keekonomiannya, lanjut Andi, dilihat dari biaya untuk belanja modal ada di pemboran, workover, pembangunan fasilitas permukaan (fasilitas produksi dan injeksi, water treatment, dan pembangkit listrik), sedangkan biaya operasional hanya untuk biaya kimia. "Biaya operasi saat ini sebesar  15-45 dolar/BOE dengan rata-rata  25 dolar/BOE. Target Internal Rate of Return (IRR) sebesar 13%," pungkas Andi. ***

Bagikan: