Pikiran Rakyat
USD Jual 14.635,00 Beli 14.335,00 | Umumnya berawan, 21.6 ° C

Bank Indonesia Waspadai Dampak Pelemahan Ekonomi Tiongkok

Tia Dwitiani Komalasari
ILUSTRASI pertumbuhan ekonomi.*/DOK. PR
ILUSTRASI pertumbuhan ekonomi.*/DOK. PR

JAKARTA, (PR).- Perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok mereda seiring dengan pertemuan kedua negara. Meskipun demikian, Indonesia masih memiliki tantangan eksternal lain yaitu pelemahan ekonomi Tiongkok di tahun 2019.

Pada tahun 2018, ekonomi Tiongkok tercatat tumbuh 6,6%. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 6,9%. 

Menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia, Mirza Adityaswara, pelemahan ekonomi Tiongkok itu akan berpengaruh pada pelemahan harga komoditas. Padahal, Indonesia masih mengandalkan komoditas untuk dongkrak ekspor.

"Jika melihat ekonomi Indonesia ke depan, diharapkan bisa lebih baik dibandingkan 2013 dan 2018. Nnamun lemahnya ekonomi China akan berdampak ke harga komoditas," ujar Mirza di, Jakarta, Senin, 11 Maret 2019.

Karena itulah, menurut Mirza, Indonesia harus memiliki inovasi baru dalam meraup devisa sehingga tidak bergantung pada komoditas. Selain ekspor non migas, Indonesia juga perlu mengembangkan sektor pariwisata.

Dia mengatakan, hal itu diperlukan untuk mengurangi defisit neraca perdagangan. "Thailand berhasil mendatangkan 34 juta turis mancanegara sehingga menghasilkan devisa," ujarnya. 

Banyak WNA yang tinggal menetap di Kab Pangandaran sebagai daerah pariwisata karena adanya tali pernikahan dengan warga pribumi.* AGUS KUSNADI/KABAR PRIANGAN

Defisit bisa diatasi dengan menggenjot ekspor dan sektor pariwisata

Mirza mengatakan, saat ini Indonesia masih mengalami defisit sekitar 3% pada 2018. Tahun ini, defisit transaksi berjalan ditargetkan berada di kisaran 2,5%.

Menurut dia, aliran modal asing dibutuhkan untuk menutup defisit tersebut.  Salah satunya bisa dilakukan dengan menggenjot ekspor dan mengembangkan pariwisata. 

Sementara itu, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Thomas Lembong, mengatakan bahwa ekonomi digital merupakan salah satu sektor yang menyelamatkan laju penanaman modal asing. Pesatnya perkembangan ekonomi digital di beberapa sektor mengubah pola usaha dari offline menjadi online dan mengalami pertumbuhan yang signifikan.

"Tahun lalu, laju global FDI turun di kisaran 20%. Awal tahun ini kita melihat investasi mulai kencang lagi," ujarnya.

Dia mengatakan, salah satu sektor yang sangat membantu maraknya ekonomi digital adalah sektor pariwisata. Pariwisata merupakan mesin bagi penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi. "Satu diantara lima pekerjaan baru, tercatat dari sektor pariwisata," ujarnya.***

Bagikan: