Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian cerah, 31.1 ° C

Bea Masuk ke Australia Jadi Nol Persen

Tia Dwitiani Komalasari
INDONESIA-Australia*/ABC.NET.AU
INDONESIA-Australia*/ABC.NET.AU

JAKARTA, (PR).- Indonesia dan Australia menandatangani perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif kedua negara (IA-CEPA), di Jakarta, Senin, 4 Maret 2019. Dengan adanya perjanjian tersebut, seluruh produk Indonesia bisa diekspor ke Australia dengan tarif bea masuk nol persen.

Sementara, bea masuk tarif impor dari Australia ke Indonesia yang dieliminasi sebesar 94 persen secara bertahap.‎ Penandatanganan tersebut dilakukan Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita dan Menteri Perdagangan, Pariwisata, dan Investasi Australia, Simon Birmingham.  

Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, hadir menyaksikan penandatanganan tersebut. ‎Kalla mengatakan, kerja sama ini akan menguntungkan kedua negara. Kerja sama itu meliputi bidang perdagangan barang dan jasa serta investasi. "Ini adalah kerja sama win win solution dan akan menguntungkan kedua negara," ujar dia.

Kalla mengatakan, IA-CEPA merupakan batu loncatan penting untuk meningkatkan hubungan kerja sama Indonesia dan Australia yang telah terjalin lama. "IA-CEPA merupakan perjanjian yang berbeda dengan yang sudah ada. Perjanjian ini akan meningkatkan kepercayaan diri pihak swasta," ucapnya.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, ‎proses perjanjian IA-CEPA memakan waktu cukup lama hingga sembilan tahun. Penghapusan bea masuk produk Indonesia ke Australia diyakini akan meningkatkan ekspor.

Menurut Enggar, produk-produk Indonesia yang ekspornya meningkat adalah produk otomotif, kayu dan turunannya termasuk furnitur, tekstil dan produk tekstil, serta ban, alat komunikasi, obat-obatan, permesinan, dan peralatan elektronik. 

"Untuk itu, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian telah bertemu dengan para produsen kendaraan, asosiasi, dan para pelaku usaha untuk dapat memanfaatkan peluang di pasar Australia tersebut. Kami berharap otomotif akan menjadi andalan ekspor RI di Australia," ujar Enggar.

MENTERI Perdagangan Enggartiasto Lukita (tengah) bersiap mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 11 Februari 2019. Rapat tersebut membahas pengesahan protokol perubahan perjanjian Indonesia-Pakistan PTA dan persetujuan perdagangan bebas ASEAN-Hong Kong.*/ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto

Kuota visa bertambah

Di sektor perdagangan jasa, Indonesia akan mendapatkan akses pasar, di antaranya kenaikan kuota visa kerja dan liburan dari 1000 visa menjadi 4100 visa di tahun pertama implementasi IA-CEPA. Jumlah itu akan meningkat sebesar lima persen di tahun-tahun berikutnya.

Selain itu, Indonesia juga akan mendapatkan berbagai program peningkatan kualitas sumber daya manusia seperti program magang dan pendidikan kejuruan. Program ini menyediakan 200 visa magang untuk sembilan sektor prioritas. Sektor itu adalah pendidikan, pariwasata, telekomunikasi, pengembangan infrastruktur, kesehatan, energi, pertambangan, jasa keuangan, teknologi informasi dan komunikasi (TIK). 

Enggar menyatakan, ia optimistis jika perjanjian dagang ini tidak akan membuat neraca perdagangan RI semakin besar karena dibanjiri produk impor Australia. "Kami sudah melakukan study yang menunjukan bahwa produk Indonesia akan lebih banyak mendapatkan keuntungan dari perjanjian ini," ujarnya.

IA-CEPA menambah daya saing produk Indonesia

Sementara itu,‎ Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Industri, Juan Permata Adoe, optimistis jika IA-CEPA akan mendatangkan banyak keuntungan bagi Indonesia. Bea masuk nol persen akan menambah daya saing produk Indonesia. Potensi kenaikan ekspor Indonesia juga lebih tinggi terutama dalam bidang industri pengolahan.

Dia mencontohkan industri pengolahan daging bisa mendapatkan banyak peluang. Jika bea masuk nol persen, maka akan lebih banyak daging Austalia yang bisa menjadi bahan baku industri pengolahan di Indonesia. "Kalau misalnya masuk ke Jepang, kan suka ditanyakan dagingnya dari mana. Australia itu kan karantina dan standarnya lebih tinggi‎, jadi lebih mudah masuk ke Jepang," ujarnya.

Demikian juga dari sisi impor, Indonesia bisa mendapatkan bahan baku yang lebih bersaing untuk diolah. Hal ini menjadikan industri pengolahan memiliki nilai tambah. 
"Misalnya untuk industri penggemukan, itu kan lebih menguntungkan jika dilakukan di Indonesia. Karena, di Australia pengemukan itu sangat mahal. Jadi kita bisa dapat peluang dari situ," kata dia.***‎

Bagikan: