Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Sedikit awan, 25.5 ° C

Peternak Sapi Perah Khawatir Lahan Digunakan Pemilik

Dendi Sundayana
ANGGOTA Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) seusai memerah susu sapi.*/DOK PR
ANGGOTA Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) seusai memerah susu sapi.*/DOK PR

SOREANG, (PR).- Peternakan rakyat di Kecamatan Pangalengan tidak mampu untuk mengembangkan usaha karena keterbatasan lahan. Untuk itu mereka berharap pemerintah bisa mengusahakan lahan yang bisa terjangkau peternakan rakyat.
“Saat ini kita mengandalkan lahan pinjaman untuk digarap kelompok peternak. Tetapi itu kan tidak menjamin, karena suatu saat bisa saja berubah karena akan digunakan oleh pemilik lahan,” tutur Ketua Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS), Aun Gunawan, saat menerima kunjungan rombongan dari Pikiran Rakyat di Kantor KPBS, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Selasa (26/2/2019). Pada kunjugan kemitraan tersebut, rombongan PR dipimpin Direktur Bisnis Januar P. Ruswita.
Untuk itu, menurut Aun, pihaknya telah meminta bantuan kepada pemerintah sehingga para peternak bisa menggarap lahan secara permanen.
Aun menambahkan, sebenarnya sebelumnya pernah ada tawaran berupa lahan untuk digarap para peternak. “Namun lokasinya cukup jauh. Tentunya untuk membawa susu dari lokasi tersebut ke penampung butuh lagi biaya tambahan, sehingga memberatkan peternak. Yang kita harapkan baik itu dari perkebunan maupun kehutanan adalah lahan yang bisa digarapkelompok peternakan rakyat yang sifatnya permanen,” paparnya.
Dia memaparkan, sebenarnya ada tawaran dari Dirjen Kekayaan Negara di bawah Kementerian Keuangan untuk membantu keinginan tersebut, dengan mengusahakan lahan perkebunan dengan status HGU, dengan ongkos sewa Rp 50.000 per meter.
“Dengan biaya sebesar itu, cukup memberatkan bagi peternakan rakyat. Kita mengusulkan biaya sewa Rp 100.000 per hektare, namun hingga saat ini belum ada jawaban,” paparnya. “Padahal, di kawasan Pangalengan tersebut banyak tanah yang idle, yang bisa dimanfaatkan,” tuturnya.
Aun memaparkan, akibat keterbatasan lahan, kebanyakan peternakan rakyat yang memeliharan 2 sampai 3 ekor sapi, tidak bisa mengembangkan peternakannya. “Kalau ada sapi beranak, tidak lama kemudian dijual, karena kapasitas kandang tidak mencukupi,” ujar Aun.
Dengan hambatan tersebut, Aun menilai, target pemerintah untuk meningkatkan produksi susu menjadi 40% pada 2024, sulit tercapai. Saat ini produksi susu masih sekitar 18%. 
Korporasi
Pada kesempatan tersebut, Aun memaparkan, KPBS saat ini telah menjelma menjadi sebuah korporasi. Koperasi yang didirikan tahun 1969 itu, kini memiliki aset mencapai Rp 130 miliar. Beranggotakan 4500 peternak dengan jumlah sapi mencapai 13.000 ekor, setiap hari menghasilkan susu mencapai 80 ton per hari.
Jumlah produksi tersebut, menurut Aun, sudah sepenuhnya terserap pasar yakni untuk kebutuhan pabrik susu Ultra dan Frisian Flag, serta sisanya untuk diolah.
Sekitar 10 hingga 15% dari produksi susu diolah di pabrik mereka menjadi yoghurt, keju mozarela, dodol, kerupuk susu, serta permen susu yang dikerjakan masyarakat sekitar.
Aun menambahkan, diversikasi produk susu tersebut dimaksudkan untuk membrikan nilai tambah kepada para peternak.
Saat ini KPBS telah memiliki unit usaha  dan layanan, seperti unit usaha pengolahan, serta Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dengan omzet mencapai Rp 45 miliar.
“Kami juga pada 1 April mendatang, akan melakukan softlaunching, pembangunan rumah sakit. Keberadaan rumah sakit ini sangat dibutuhkan, tidak saja untuk anggota tetapi juga untuk masyarakat Pangalengan. Karena rumah sakit terdekat ada di Soreang dan Al Ihsan di Baleendah,” tuturnya.***
 

Bagikan: