Pikiran Rakyat
USD Jual 14.635,00 Beli 14.335,00 | Umumnya berawan, 21.6 ° C

Industri Dorong Meningkatnya Penjualan Listrik Jabar dan Nasional

Ai Rika Rachmawati
PEKERJA menyelesaikan produksi kain sarung di Pabrik Tekstil Kawasan Industri Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat, 4 Januari 2019.*/ANTARA
PEKERJA menyelesaikan produksi kain sarung di Pabrik Tekstil Kawasan Industri Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat, 4 Januari 2019.*/ANTARA

BANDUNG, (PR).- Pertumbuhan penjualan listrik di wilayah PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Barat (Jabar) mencapai 3,98% year on year (yoy). Pertumbuhan penjualan listrik tersebut seiring dengan pertumbuhan jumlah pelanggan PLN UID Jabar.

Demikian diungkapkan Deputi Manajer Komunikasi & Bina Lingkungan PT PLN (Persero) UID Jabar, Iwan Ridwan di Bandung, Kamis 21 Februari 2019. Setiap tahunnya penjualan listrik terus mengalami peningkatan.

"Tingginya penjualan listrik menjadi salah satu barometer utama tumbuhnya perekonomian dan pembangunan nasional," katanya.

Menurut dia, peningkatan penjualan listrik di Jabar didorong peningkatan kebutuhan listrik industri. Kondisi serupa juga terjadi secara nasional. 

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ego Syahrial, mengatakan, kebutuhan listrik yang besar datang dari industri. Salah satu sektor industri yang membutuhkan listrik dalam jumlah besar adalah hilirisasi pertambangan.

"Dari tahun ke tahun penjualan listrik didominasi oleh sektor industri, yang jumlah pelanggannya sekitar 69.000 atau naik 10.000 dari 2016 ke 2017," tutur Ego.

Total konsumsi listrik sektor industri sepanjang 2018 mencapai 76,345 Tera Watt hours (TWh) atau tumbuh 32,85% yoy, dari 71,72 TWh pada 2017. Pertumbuhan tersebut di dapat dari 87.829 pelanggan, yang terdiri dari 23.602 pelanggan prabayar dan 64.227 pascabayar.

Secara keseluruhan, total penjualan listrik nasional pada 2018 mencapai 232,43 TWh atau naik 5,14% yoy. Pada tahun sebelumnya, penjualan listrik nasional mencapai 221,07 TWh atau tumbuh 3,56%.

Tahun ini, sesuai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), menurut dia, pemerintah menargetkan akan terjadi kenaikan penjualan sebesar 6,40%. Dengan target tersebut, penjualan listrik ditargetkan mencapai 247,3 TWh.

 

Tarif kompetitif

Meningkatnya penjualan listrik dari sektor industri, menurut dia, tidak lepas dari efisiensi harga listrik. Ia mengklaim, Indonesia masih tergolong sebagai salah satu negara dengan tarif paling kompetitif di wilayah Asia Tenggara.

Data Januari 2019, menyebutkan, tarif listrik industri besar di Indonesia, rata-rata sebesar 7,47 sen dolar Amerika Serikat (AS) per kilo Watt hour (kWh). Tarif tersebut jauh lebih murah dibandingkan Singapura 13,15 sen dolar AS per kWh.

Begitu juga jika dibandingkan dengan Filipina 11,19 sen dolar AS per kWh, Thailand 8,07 sen dolar AS per kWh dan Malaysia 7,61 sen dolar AS per KWh. "Tarif listrik Indonesia bagi industri besar di kawasan ASEAN masih jadi primadona," katanya.***

Bagikan: