Pikiran Rakyat
USD Jual 14.285,00 Beli 13.985,00 | Sedikit awan, 21.4 ° C

3 BUMN Bangun Dua Tower Sarinah Senilai Rp 1,8 Triliun, Mayoritas Dana dari Pinjaman

Tia Dwitiani Komalasari
Inflasi/DOK. PR
Inflasi/DOK. PR

JAKARTA, (PR).- PT Sarinah (Persero) menggandeng PT Wijaya Karya Tbk., dan PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk untuk pembangunan dua tower pusat komersil di kawasan Sarinah Thamrin, Jakarta. Kerja sama antara tiga BUMN ini menghabiskan anggaran sekitar Rp 1,8 triliun dengan 70 persen dananya berasal dari pinjaman perbankan. 

Direktur Utama PT Sarinah Persero, Gusti Ngurah Putu Sugiarta Yasa, mengatakan pembangunan ini direncanakan berlangsung selama 16 bulan. "Rencananya ground breaking dilakukan bulan depan," ujar dia saat penandatanganan nota kesepahaman dengan Direktur Utama PT Pembangunan Perumahan ( Persero) Tbk. Lukman Hidayat, dan Direktur Utama PT Wijaya Karya Tbk. Tumiyana., di Kementrian BUMN, Jumat 8 Februari 2018.

Dia mengatakan, ‎kerja sama ini diharapkan dapat meningkatkan aset Sarinah hingga empat kali lipat. Sampai 2018, aset Sarinah mencapai Rp 400 miliar.

‎Selain itu, Sugiarta mengatakan, Sarinah juga ingin kembali pada bisnis utamanya di sektor ritel. Saat ini, porsi kinerja Sarinah lebih banyak di bidang trading sebesar 70 persen.  "Kami ingin minimal 50 persen ritel, atau kalau bisa 70 persen. Jadi kembali seperti semula dulu,"ujarnya.

Pendapatan trading

Pada 2018, Sarinah membukukan pendapatan Rp 724 miliar atau naik 156 persen dari tahun sebelumnya. Sebagian besar pendapatan tersebut berasal dari trading. Tahun ini, pendapatan Sarinah ditargetkan mendapatkan mencapai Rp 892 miliar.

Sementara pendapatan khusus ritel 2018 hanya naik sebesar 7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. "Kita tidak puas dengan pertumbuhan itu, inginnya dua digit. Salah satu caranya dengan pembangunan tower ini," ujarnya.

Dia menambahkan, Sarinah juga sudah mengembangkan penjualan ke arah digital. Selain membukan website sendiri, pihaknya juga bekerja smaa dengan market place yang sudah ada.

Deputi ‎Kementrian BUMN,  Edwin Hidayat Abdullah, mengatakan rencana pembangunan ini sudah ada sejak lama. "Akhirnya rencana ini dihidupkan kembali tahun 2016. Kita ingi desainnya modern tapi tidak boleh melupakan kalau ini gedung tingkat pertama di Indonesia, jadi heritage," kata dia.

Edwin berharap, Sarinah kembali lagi lebih banyak berkontribusi ke sektor ritel. "Orang mengenal Sarinah itu perusahaan ritel, tapi sekarag ritel justru yang paling kecil (kontribusi pendapatannya) dibandingkan trading dan properti. Ritel Sarinah bukan yang biasa melainkan yang banyak mengangkat UMKM Indonesia," ujarnya.***

Bagikan: