Pikiran Rakyat
USD Jual 14.279,00 Beli 14.181,00 | Umumnya cerah, 29.4 ° C

Harga Ikan dan Beras Sumbang Inflasi Januari 0,32 Persen

Tia Dwitiani Komalasari
PEMBELI memilih ikan segar yang dijual di Pasar Ikan Kedonganan, Badung, Bali, Sabtu (26/1/2019). Harga berbagai jenis ikan yang dijual di pasar tersebut mengalami kenaikan sekitar Rp5 ribu-Rp10 ribu perkilogram akibat pedagang kesulitan mendapatkan stok ikan karena jumlah tangkapan nelayan yang menurun akibat cuaca buruk.*/ANTARA
PEMBELI memilih ikan segar yang dijual di Pasar Ikan Kedonganan, Badung, Bali, Sabtu (26/1/2019). Harga berbagai jenis ikan yang dijual di pasar tersebut mengalami kenaikan sekitar Rp5 ribu-Rp10 ribu perkilogram akibat pedagang kesulitan mendapatkan stok ikan karena jumlah tangkapan nelayan yang menurun akibat cuaca buruk.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat indeks harga konsumen Januari 2019 mengalami inflasi sebesar 0,32 persen. Harga ikan segar dan beras merupakan komponen penyumbang terbesar dari inflasi tersebut.

Kepala BPS, Suha‎riyanto, mengatakan secara umum perkembangan harga tahun 2019 mengalami kenaikan. Hal ini bisa dilihat dari komponen penyumbang inflasi terbanyak merupakan kelompok bahan makanan sebesar 0,92 persen dengan andil 0,18 persen. 

Dia mengatakan, harga ikan menyumbang inflasi tertinggi pada kelompok bahan makanan yaitu sebesar 0,06 persen.‎ Kenaikan harga ikan tersebut dipengaruhi oleh faktor cuaca.

PEDAGANG menata ikan segar dagangannya di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Ujong Baroh, Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh, Minggu (27/1/2019). Harga berbagai jenis ikan segar sejak sepekan terakhir melonjak naik, diantaranya ikan tongkol dari Rp12.000 menjadi Rp25.000 per kilogram, ikan dencis dari Rp10.000 menjadi Rp23.000 per kilogram dan ikan tuna dari Rp13.000 menjadi Rp35.000 per kilogram karena berkurangnya hasil tangkapan nelayan akibat pengaruh cuaca buruk.*/ANTARA

Sementara di posisi ke dua adalah harga beras yang menyumbang andil inflasi 0,04 persen. Meskipun demikian, andil inflasi beras ini jauh lebih rendah dibandingkan Januari 2018 sebesar 0,24 

"Kalau Januari 2018, harga beras tinggi menyumbang inflasi yang sangat besar sebesar 0,24 persen. Inflasi keseluruhannya pun tinggi ‎sebesar 0,62 persen. Sementara tahun ini, kenaikan harga beras sebenarnya hanya terjadi di beberapa kota," kata Suhariyanto saat konferensi pers di Jakarta, Jumat 1 Februari 2019.

Pengaruh tarif angkutan udara

Sementara deflasi Januari 2019 disumbang oleh kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar -0,16 persen dengan andil -0,04 persen. Hal itu paling banyak dipengaruhi oleh tarif angkutan udara.

"Sebenarnya ini merupakan anomali bahwa tarif angkutan udara menyumbang deflasi pada Januari. Biasanya kan Januari itu masih tinggi. Namun mungkin karena kemarin sempat ada kenaikan harga tiket, lalu diturunkan lagi oleh pemerintah," kata Suhariyanto.

PEKERJA mengangkut kargo muatan udara dengan kereta barang di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Blangbintang, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Kamis (17/1/2019). Sejumlah perusahaan jasa pengiriman barang yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres Indonesia Aceh akan memberlakukan tarif baru pengiriman kargo udara, sehubungan terjadinya kenaikan tarif kargo oleh sejumlah perusahaan penerbangan.*/ANTARA

Dia berharap, pemerintah tetap menjaga inflasi sepanjang 2018 dengan‎ memastikan kesediaan pasokan dan kelancaran distribusi bahan makanan. "Mudah-mudahan tidak ada kebijakan yang mengagetkan, seperti misalnya administred price yang berubah" ujar dia.

Deputi Bidang Statistik BPS, Yunita Rusanti, mengatakan kestabilan bahan makanan merupakan komponen yang perlu diwaspadai karena memiliki andil inflasi besar. Sedikit saja ada kenaikan harga, maka akan berpengaruh signifikan pada inflasi.

"Meskipun demikian, melihat perkembangan tahun 2018 cukup bagus. Bahan makanan di sini tidak hanya suplai yang mencukupi namun perlu dipastikan juga distribusinya. Karena jika distribusi tidak seimbang, akan berpengaruh juga terhadap harga," kata Yunita.

Masih wajar

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, mengatakan angka inflasi tersebut cukup baik jika dibandingkan periode sama dua tahun sebelumnya yang selalu tinggi. Untuk ke depannya, pemerintah akan bekerja keras untuk mengendalikan pangan.

PEMBELI membeli bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Rabu (02/01/2018). Pemerintah berupaya menekan angka inflasi 2019 menuju 3% dari 3,13% pada Desember 2018 terutama harga kebutuhan pokok yang terus naik.*/ANTARA

"Awal tahun ini harga yang naik ada pada jagung yang mempengaruhi pakan ternak. Ini menyebabkan harga ayam dan telur ayam‎ menjadi naik," ujar Darmin.

Darmin optimistis inflasi akan tetap terjaga di kisaran 3,5 persen pada tahun ini. Sementara tahun depan,‎ target inflasi akan diturunkan menjadi 3 persen.

"Selama empat tahun, kita berhasil menjaga inflasi sesuai dengan kisaran target yang ditetapkan,"ujar dia.***

 

Bagikan: