Pikiran Rakyat
USD Jual 14.243,00 Beli 13.943,00 | Berawan, 22.5 ° C

Peneliti Unisba Racik Kopi Bening Botolan, Tertarik Mencobanya?

Amaliya
Kopi bening/DOK Gita Cahya Eka Darma
Kopi bening/DOK Gita Cahya Eka Darma

UMUMNYA kopi berwarna hitam. Namun, se­kitar dua tahun terakhir kopi muncul dengan penampakan bening tanpa sedikit pun ampas. Su­dah pernah melihat kopi bening?

Kota Bandung punya itu. Penelitinya adalah Gita Cahya Eka Darma, seorang dosen farmasi di Universitas Islam Bandung (Unisba). Eka bukanlah pelopor kopi bening.

Dia mengakui, rasa penasarannya akan kopi be­ning terinspirasi oleh minuman tersebut yang dijual secara komersial dari Irlandia. "Irlandia ta­hun 2017 bikin dengan merek CLR CFF, tapi distribusinya hanya sampai di Korea karena kopi bening tidak tahan lama," ujar Eka saat ditemui di Laboratorium Tablet Unisba, Jumat 25  Januari ­2019.

Begitu penasaran, Eka langsung bereksperimen. Dia berpegang ­pada informasi yang menyebut­kan bahwa kopi bening ini murni melalui proses fisik tanpa proses kimia. Untuk itu, dalam proses uji cobanya, Eka mencoba beberapa metode tan­pa memasukkan sedikit pun unsur kimia.

Benar saja, hanya sekitar se­tengah jam, uji coba Eka berhasil. Peralatan uji cobanya hanya teko dan gelas dengan bahan hanya air dan kopi. Dia lalu menindaklanjuti eksperimen sederhananya tadi. Sayangnya, Eka tak mau membocorkan pro­ses pembuatan kopi bening secara detail. Alasannya, kopi beningnya hendak dia daftarkan hak patennya. 

Namun, Eka mengatakan, biji ko­pi yang dia gunakan adalah jenis ara­bica Garut dan melalui proses roasting atau sangrai dengan suhu sampai 200 derajat Celsius. Kopi Garut asli yang dia gunakan menghasilkan sensasi manis di akhir cecapan. 

Ilustrasi/CANVA

Gunakan air Gunung Manglayang

Sementara itu, air yang dia ­gunakan adalah air dari Gunung Manglayang, bukan air mineral. ­Ji­ka menggunakan air mineral, manisnya akan te­rasa seperti campuran karena air mineral telah di­tambah unsur fluoride. 

Dia telah mencoba semua level roasting mulai light, light to medium, medium, medium to dark, sampai dark. Lalu, semua level penggilingan (grinding) pun telah dia jajal mulai giling kasar, giling sedang, dan giling halus. Dia menggunakan alat ekstrak­tor mulai cloth filter, mokka pot, hingga flair espresso. Penelitian itu dia lakukan bersama seorang mahasiswanya, Devi Indah Pratiwi. 

"Ternyata hasil terbaik diperoleh dari level roasting dark dengan giling halus dan menggunakan mokka pot," kata Kepala Seksi La­boratorium Fisika Dasar Unisba itu. Eka me­mubli­kasikan hasil penelitiannya itu melalui Instagram ­pribadinya pada Juni 2017.

Di Indonesia, ternyata ada juga yang membuat kopi serupa dan telah didistribusikan dengan me­rek dagang. Eka pun kembali penasaran dan me­nelitinya. Setelah dia uji laboratorium, ternyata pH kopi bening itu mencapai 3 yang artinya ber­sifat asam. Proses pembuatannya dengan cara disuling.

Sementara itu, kopi bening racikannya memiliki pH 6,7-6,8 mendekati pH air. Eka menggunakan perbandingan 1:100 untuk komposisi air dan ko­pi. Dengan pH mirip air, Eka menjamin kopi bening­nya tak akan membuat penderita mag ke­labakan. Masa bertahan kopi hanya 2-3 hari dengan warna agak kuning. Berbeda dengan kopi bening lain yang mendekati bening air.

Hanya, sejauh ini belum diteliti lebih lanjut terkait manfaat kopi bening. Eka belum berani mengklaim manfaat kopi bening setara dengan manfaat kopi asli kebanyakan. "Harus ada pe­ne­litian lanjutan. Tapi dari testimoni, kopi bening justru lebih kencang memicu detak jantung dan aman bagi yang mag," katanya. 

Sejauh ini, Eka belum memproduksi massal kopi beningnya. Itu karena belum ada dukungan produksi baik dari kampus maupun industri. Produksinya baru di angka puluhan. Itu pun jika ada pameran. Sebotol kaca berukuran 250 ml, dijual dengan harga Rp 15.000-Rp 20.000. 

 

Rasa sensasional

Bagi mereka yang mengharapkan kompleksitas rasa dan aroma kopi yang wah, pasti bakal kecewa de­ngan kopi bening ini. Jika ada iklan air mineral dengan tagline "yang ada manis-manisnya", kopi bening ini adalah air yang ada kopi-kopinya. 

Rasa kopinya tak dominan dan tentu saja ra­sa­nya ringan. Kopi bening lebih cocok disebut sebagai minuman sensasional. Eka pun mengatakan, sebaiknya jangan menyebutnya sebagai kopi bening. 

"Kalau disebut kopi bening, orang memper­sep­sinya dengan rasa dan aroma kopi, tapi bening. Padahal, ini bukan sepenuhnya kopi," katanya. Eka akan menyebutnya sebagai kopi teknokrat. Alasannya, sebagai produk turunan kopi, kopi be­ningnya dibuat oleh kalangan teknokrat, bukan barista. 

Apoteker Penanggung Jawab Klinik Yayasan Unisba itu ­mengatakan, ke depan dia juga akan menambah varian rasa kopi beningnya. Penasaran? Coba deh!***

Bagikan: