Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Umumnya cerah, 28.6 ° C

Penyaluran KPR di Indonesia Tergolong Rendah

Tia Dwitiani Komalasari
Ilustrasi.*/DOK PR
Ilustrasi.*/DOK PR

JAKARTA, (PR).- Penyaluran Kredit‎ perumahan rakyat (KPR) di Indonesia masih rendah hanya 2,9 persen dari Produk Domestik Bruto. Pada 2018, konsumen pasar rumah menengah ke atas bahkan cenderung membeli properti dengan cash.

"Serapan KPR 2,9 persen itu belum maksimal, belum sampai puncaknya. Tadinya harapan kami 2018 akhir sampai 2019 tengah akan sampai puncak. Kami harap tahun ini, properti naik lagi,"ujar Manager Departemen Makro Prudential Bank Indonesia, Bayu Adi Gunawan, di Jakarta, Kamis, 24 Januari 2019.

Dia mengatakan, ‎segmen rumah tapak masih mendominasi pertumbuhan sampai 2018. Sementara pertumbuhan apartemen tergolong tinggi, namun pangsa KPR untuk apartemen relatif sedikit.

Bayu mengatakan, ‎generasi milenial mendominasi penyaluran KPR 2018. "Berdasarkan data BI peminjam usia muda (25-35) meningkat dominasinya sejak 2014 sampai 2017. Mereka memilih rumah tipe 22/70," ujar dia.***

Ketua Asosiasi Real Estate Broker Indonesia, Lukas Bong, optimis jika pertumbuhan properti 2019 tetap menarik. Tahun politik juga diproyeksikan tidak akan berpengaruh signifikan pada pertumbuhan properti.

"Tapi semuanya itu sangat tergantung dengan nanti pilpresnya, Kalau melihat kampanye-kampanye kemarin, udah amanlah, udah gak ada yang turun ke jalan,"ujarnya.

Dia mengatakan, pertumbuhan properti pada 2018 sebenarnya lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Namun untuk golongan properti tangan ke dua terutama kelas menengah ke atas, mengalami koreksi. "Karena tidak banya orang-orang yang main di sana. Yang main di high end itu yang punya dana, mereka cuma cari properti untuk berinvestasi" ujarnya.

Menurut dia, pertumbuhan properti sebenarnya bisa naik pesat jika pemerintah membuka kepemilikan asing untuk apartemen mewah. Hal itu bisa mempengaruhi pertumbuhan minimum 30 persen.

"Kenapa kita gak niru Singapura, hanya apartemen yang bisa dimiliki asing, rumah tapak tidak. Apartemennya pun bisa yang kelas atas seperti Rp 10-20 miliar per unit," ujar dia.

Dia menambahkan, saat ini terdapat fenomena dimana konsumen kelas menengah ke atas banyak yang memilih untuk membeli properti dengan tunai. Dengan demikian, mereka tidak mengikuti skema KPR dari perbankan. "Kalau yang bawah lebih banyak di KPR dan KPA," ujar dia.***

Bagikan: