Pikiran Rakyat
USD Jual 14.243,00 Beli 13.943,00 | Sedikit awan, 23.8 ° C

Indonesia-Maroko Segera Memulai Perundingan Dagang

Tia Dwitiani Komalasari
ILUSTRASI ekspor impor.*/REUTERS
ILUSTRASI ekspor impor.*/REUTERS

JAKARTA, (PR).- Indonesia dan Maroko menyepakati peningkatan kerja sama perdagangan melalui aktivasi forum joint trade commission (JTC). Kedua negara juga akan segera memulai perundingan preferential trade agreement (PTA). 

Direktur Perundingan Bilateral, Ni Made Ayu Marthini mengatakan dirinya telah bertemu Delegasi Maroko yang dipimpin Peneliti Senior Kawasan Asia dan Amerika, Kementerian Industri, Investasi, Perdagangan, dan Ekonomi Digital (IPIED) Asmaa Mkhentar. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari hasil kunjungan kerja Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita ke Maroko pada Juni 2018 lalu. 

Pada kunjungan tersebut, Menteri Perdagangan menandatangani pernyataan bersama dengan Menteri Muda Perdagangan Maroko, Rakiya Eddarhem, mengenai rencana pengaktifan forum JTC dan  pembentukan PTA Indonesia-Maroko.

“Dalam rangka menjaga momentum penandatanganan pernyataan bersama tersebut, Indonesia dan Maroko telah menentukan langkah-langkah untuk memulai pertemuan pertama JTC dan PTA yang direncanakan akan dilaksanakan pada akhir Maret atau awal April 2019 di Jakarta,” ujar Made. 

Sepakati kerangka acuan pertemuan JTC

Made mengatakan, kedua negara juga menyepakati kerangka acuan (TOR) untuk meluncurkan pertemuan JTC. Nantinya JTC tidak hanya sebuah forum pertemuan bilateral regular yang membahas isu-isu hambatan perdagangan, tetapi juga akan berperan penting untuk mendukung negosiasi PTA. 

Pada forum JTC, pemerintah kedua negara juga akan membahas upaya-upaya untuk mendorong interaksi bisnis antara sektor swasta dari kedua negara. Hasil dari interaksi bisnis tersebut adalah identifikasi produk yang berpotensi untuk ditingkatkan perdagangannya sehingga dapat menjadi indikasi produk yang dirundingkan dalam PTA. 

“Perundingan PTA dengan Maroko berbeda dengan perundingan PTA lainnya, karena dilakukan secara paralel yaitu pertemuan antara pemerintah kedua negara yang membahas penurunan tarif dengan pertemuan antara pihak swasta kedua negara untuk mendiskusikan daftar produk yang akan dinegosiasikan untuk mendapatkan penurunan tarif atau potensi kerja sama investasi,” ujar Made.

Identifikasi produk potensial 

Dia mengatakan, kedua negara telah mengidentifikasi sektor atau produk potensial untuk ditingkatkan perdagangannya. Indonesia menyampaikan beberapa produk antara lain komponen otomotif, produk kulit, tekstil, rempah-rempah, makanan dan minuman, furnitur, kelapa sawit, kertas, kopi, dan produk perikanan. Sedangkan pada pertemuan dengan Kadin Indonesia sehari sebelumnya, Maroko menyampaikan keinginannya untuk menjajaki kerja sama di sektor kelapa sawit, kopi, tekstil, karet dan ban, agro industri, farmasi, dan minyak zaitun

Berdasarkan data Kementrian Perdagangan, Maroko merupakan salah satu pasar ekspor non tradisional yang menjadi penghubung ke pasar Afrika dan Eropa. Total perdagangan Indonesia-Maroko pada tahun 2017 mencapai 154,8 juta Dolar AS. Jumlah tersebut terdiri dari ekspor Indonesia ke Maroko sebesar  86 juta Dolar AS sedangkan impor Indonesia dari Maroko sebesar 68,8 juta Dolar AS. Dengan demikian, pada tahun 2017 Indonesia surplus perdagangan sebesar USD 17,1 juta terhadap Maroko. 

Produk ekspor Indonesia ke Maroko diantaranya kopi (23,5 juta Dolar AS); benang serat stapel tiruan ( 9,0 juta Dolar AS); dan benang serat stapel sintetik (7,5 juta Dolar AS). Sementara impor Indonesia dari Maroko adalah kalsium fosfat alami ( 42,4 juta Dolar AS); setelan jaket untuk wanita (6,2 juta Dolar AS); blus dan kemeja wanita (4,4 juta Dolar AS); dan pupuk mineral atau kimia (3,7 juta Dolar AS). ***

Bagikan: