Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 19.8 ° C

Ekonomi Global Melambat pada 2019, Industri Padat Karya Jawa Barat Rentan Terdampak

Tia Dwitiani Komalasari
ILUSTRASI.* /DOK. PR
ILUSTRASI.* /DOK. PR

JAKARTA, (PR).- Industri padat karya di Jawa Barat rentan terdampak ‎perlambatan ekonomi global yang diproyeksikan akan terjadi pada 2019. Pemerintah bekerja sama dengan industri perlu melakukan upaya agar pertumbuhan manufaktur bisa terjaga dan menghindari adanya pengangguran baru.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Barat, Dedy Widjaja, mengatakan‎ beberapa negara mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi seperti Amerika Serikat dan Tiongkok. Kondisi tersebut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi global secara keseluruhan. Apalagi Tiongkok dan Amerika Serikat merupakan mitra dagang utama bagi Indonesia.

"Negara tersebut memiliki dampak ekonomi besar pada global seperti Tiongkok 30 persen, dan Amerika Serikat 40 persen, begitu juga dengan Eropa. Indonesia tentu akan kebagian juga, tidak mungkin menghindari (dampak perlambatan ekonomi) mereka,"ujar Dedy saat dihubungi Pikiran Rakyat, Selasa 22 Januari 2019.

Dia mengatakan, perlambatan ekonomi tersebut menyebabkan ‎daya beli menjadi berkurang sehingga konsumsi global akan menurun. Kondisi itu tentunya mempengaruhi permintaan terhadap barang-barang ekspor dari Indonesia.

‎Menurut Dedy, beberapa sektor akan mengalami dampak paling besar terhadap perlambatan global ini diantaranya adalah produk pertanian dan pertambangan. "Produk pertanian misalnya CPO yang sekarang juga terkena kampanye negatif di Eropa. Begitu juga dengan sektor pertambangan seperti batu bara," kata dia.

Sementara khusus untuk Jawa Barat, saat ini lebih banyak mengandalkan sektor industri manufaktur dalam melakukan ekspor. Hal itu terutama industri padat karya seperti tekstil dan produk tekstil, serta alas kaki.

Menurut Dedy, pemerintah perlu menjaga laju pertumbuhan industri padat karya ini meskipun rentan terkena dampak perlambatan ekonomi global. Sebab industri ini memiliki dampak besar terhadap penyerapan tenaga kerja Indonesia khususnya Jawa Barat. Jika industrinya tumbuh, tingkat pengangguran bisa dikurangi dan daya beli pun bisa terjaga.

Dia mengatakan, salah satu cara untuk menjaga pertumbuhan industri padat karya tersebut dengan mengerem masuknya barang-barang impor. Dengan demikian, produksi manufaktur tersebut dapat terserap oleh pasar domestik.

‎Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ajat Sudradjat mengatakan daya beli yang melambat menyebabkan pertumbuhan ekspor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) melambat. Sebelumnya pertumbuhan industri tekstil mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam dua tahun terakhir yaitu sebesar 5 % pada 2017 dan 7 persen pada 2018.

"Namun pada 2019, naik 2 persen saja sudah bagus. Karena perlambatan ekonomi ini mendorong beberapa barang bermerk mengurangi produksinya,"ujar dia.

Tidak hanya ekspor, permintaan domestik pun diprediksi akan berkurang signifikan karena pelemahan daya beli. "Meskipun demikian, masih ada harapan karena peringkat investasi Indonesia naik. Meskipun investasi tersebut kebanyakan melakukan ‎penetrasi dengan mereformasi teknologi menuju industri 4.0,"ujar dia.

Menurut Ade, daya tahan industri TPT juga masih lemah akibat ada proteksi bahan baku di tingkat hulu dengan pengenaan bea masuk impor. "Ini menyebabkan bahan baku menjadi tinggi sehingga biaya produksi pun tinggi,"ujar dia.‎***‎

Bagikan: