Pikiran Rakyat
USD Jual 14.243,00 Beli 13.943,00 | Umumnya cerah, 23.7 ° C

BI Proyeksikan Inflasi di Bawah 3,5 Persen

Tia Dwitiani Komalasari
ILUSTRASI Inflasi.*/DOK. PR
ILUSTRASI Inflasi.*/DOK. PR

JAKARTA, (PR).- Bank Indonesia (BI) memproyeksikan inflasi sepanjang 2019 cukup terkendali bahkan berada di bawah titik tengah target inflasi 3,5 persen. Hal itu dipengaruhi oleh harga komoditas pangan yang terkendali dan nilai tukar Rupiah yang stabil.

Gubernur BI‎, Perry Warjiyo, mengatakan pihaknya melakukan pantauan melalui kantor-kantor Bank Indonesia di berbagai daerah. Berdasarkan hasil pantauan hingga Minggu ke tiga Januari 2019, BI mengestimasikan inflasi Januari mencapai 0,5 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Sementara inflasi dibandingkan periode yang sama tahun lalu mencapai 3,0 %. Menurut Perry, inflasi itu dipengaruhi harga komoditas yang ‎rendah dan terkendali. Pasokan bahan pangan pun tersedia di berbagai daerah.

"Kami tidak melihat adanya suatu kenaikan harga yang berpengaruh signifikan. Beberapa kenaikan harga antara lain, komoditas bawang merah, daging ayam ras, tomat sayur dan perhiasan," ujar Perry saat ditemui di Kantor Bank Indonesia, di Jakarta 18 Januari 2019.

Secara keseluruhan, Perry mengatakan, BI memproyeksikan bahwa inflasi akan tetap rendah‎ sepanjang 2019. Seperti diketahui sasaran inflasi 2019 sebesar 3,5 ± 1 %. "Kemungkinan bahwa inflasi tahun 2019 ini bisa di bawah titik tengah sasaran kita," tuturnya.

Risiko inflasi

Menurut Perry, ‎BI tidak melihat tanda-tanda risiko inflasi ke depan. Saat ini dia menilai, koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia, dan daerah cukup baik dalam memastikan pasokan bahan makanan. "Jadi kami tidak melihat ada resiko-resiko tekanan inflasi dari harga pangan itu," ucapnya.

Sementara faktor kedua adalah depresiasi Rupiah yang terjaga serta harga komoditas global yang cenderung turun. Hal itu menyebabkan pengaruh inflasi akibat kenaikan barang impor cukup rendah.

Faktor ketiga adalah ekspektasi faktor inflasi dari berbagai indikator yang cukup rendah.‎ "Apakah basisnya survei ekspektasi konsumen, ekspektasi produsen, aupun juga konsensus forecast dari para ekonomi di financial market juga terjaga," kata dia.

Perry menambahkan, Bank Indonesia juga terus bekerja sama dengan OJK dan pemerintah untuk menempuh langkah bersama mempersifat defisit transaksi berjalan. Langkah pertama adalah mencari upaya untuk mendorong ekspor dan mengurangi impor. Selain itu, pemerintah juga‎ mendorong sketor pariwisata dalam rangkan mnggerakan ekonomi dan menambah devisa negara.

‎Sementara kerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan adalah mengatur kebijakan agar pembiayaan infrastruktur bisa didorong dari sektor swasta. "Bagaimana bisa mengeluarkan proyek berdasarkan Reksa Dana Penyertaaan Terbatasa seperti yang kita lakukan," ujar dia.***

Bagikan: