Pikiran Rakyat
USD Jual 14.235,00 Beli 13.935,00 | Berawan, 20.6 ° C

Izin 6 Industri Pemanipulasi Data Gula Rafinasi Dicabut Kemendag

Tia Dwitiani Komalasari
Ilustrasi /DOK PR
Ilustrasi /DOK PR

JAKARTA, (PR).- Kementerian Perdagangan mencabut ijin usaha enam industri yang terbukti memanipulasi data gula rafinasi impor. Manipulasi data tersebut menyebabkan gula rafinasi impor yang seharusnya digunakan industri menjadi rembes ke pasar konsumen.

"Jadi pelakunya adalah industri pengguna. Misalnya seharusnya mereka hanya membutuhkan 10 kg gula, tapi mereka malah mengajukan kebutuhannya ke industri gula rafinasi sebesar 100 kg," ujar Direktur Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga, Veri Anggriono, saat ditemui usai sosialisasi pengawasan tertib niaga di Jakarta, Kamis 17 Januari 2019.

Dia mengatakan, selisih dari jatah alokasi dan kebutuhan tersebut kemudian dijual ke pasar konsumen. Seluruh gula rafinasi rembesan yang ditemukan tersebut‎ dijual melalui daring (online).

Veri mengatakan, hasil penemuan Kementerian Perdagangan tersebut juga dilimpahkan ke Polri. "Jika kasusnya tergolong pidana maka dilimpahkan ke Polri. Namun kami juga melakukan tindakan administrasi," ujarnya.

Menurut Veri, pihaknya telah mencabut ijin usaha enam distributor dan pelaku industri yang terbukti melakukan manipulasi data‎ tersebut. Oknum tersebut lebih banyak merupakan industri makanan dan minuman kelas menengah.

"Peredaran gula rafinasi rembesan itu cukup lama, sekitar enam bulan. Mereka menjual secara karungan 50 kg," kata dia.

Untuk menanggulangi masalah tersebut, dia mengatakan, Kementerian Perdagangan telah menginstruksikan agar industri gula rafinasi melakukan pengecekan ke lapangan mengenai kebutuhan gula rafinasi. "Jadi masalahnya selama ini, pabrik gula rafinasi hanya memberikan jatah pada inustri berdasarkan data di dokumen. Kami udah panggil industri gula, instruksikan agar mereka juga melakukan pengecekan ke lapangan," ujarnya.

Veri mengakui, Kementrian Perdagangan memilki wewenang terbatas dalam pengawasan distribusi gula rafinasi. Hal itu juga ditambah dengan terbatasnya jumlah personel untuk pengawasan. 

Lonjakan dipicu Pileg dan Pilpres 2019

Sebelumnya Kementerian Perindustrian memproyeksikan kebutuhan gula kristal rafinasi (GKR) untuk sektor industri makanan dan minuman serta industri farmasi naik sebesar 5-6 persen per tahun. Peningkatan ini mengikuti pertumbuhan kedua sektor industri tersebut yang berada di atas 7 persen per tahun.

“Pada periode Januari-September 2018, industri makanan dan minuman tumbuh mencapai 9,74 persen, sedangkan industri farmasi tumbuh 7,51 persen pada kuartal I tahun 2018. Kami pun memproyeksikan pertumbuhan kedua sektor itu mampu di atas 7-8 persen pada tahun 2019,” kata Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono di Jakarta, Rabu 16 Januari 2019.

Dia mengatakan, kinerja positif  industri makanan dan minuman itu diproyeksikan karena adanya kegiatan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden serentak pada 17 April 2019. Momentum ini dinilai bakal membuat lonjakan terhadap konsumsi produk makanan dan minuman.

“Sementara itu, kami perkirakan pertumbuhan industri farmasi mampu menembus level 7-10 persen di tahun 2019. Selain dipacu peningkatan investasi, kinerja positif industri farmasi terkatrol dengan adanya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN),” ujarnya.‎***

Bagikan: