Pikiran Rakyat
USD Jual 14.150,00 Beli 13.850,00 | Hujan, 23.8 ° C

Pilpres 2019 Dongkrak Kebutuhan Gula Kristal Rafinasi

Tia Dwitiani Komalasari
SEJUMLAH pekerja memproduksi kue di pabrik kue Pia Bagong, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Kamis (10/1/2019). Kementerian Perindustrian menargetkan sektor industri makanan dan minuman nasional dapat tumbuh 9,86 persen pada 2019 setelah pada kuartal III 2018 mencatatkan pertumbuhan 7,23 persen secara tahunan.*/ANTARA
SEJUMLAH pekerja memproduksi kue di pabrik kue Pia Bagong, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Kamis (10/1/2019). Kementerian Perindustrian menargetkan sektor industri makanan dan minuman nasional dapat tumbuh 9,86 persen pada 2019 setelah pada kuartal III 2018 mencatatkan pertumbuhan 7,23 persen secara tahunan.*/ANTARA

JAKARTA, (PR)- Kebutuhan gula kristal rafinasi (GKR) untuk sektor industri makanan dan minuman serta farmasi diproyeksikan naik sebesar 5-6 persen per tahun. Peningkatan ini mengikuti pertumbuhan kedua sektor industri tersebut yang berada di atas 7 persen per tahun.

“Pada periode Januari-September 2018, industri makanan dan minuman tumbuh mencapai 9,74 persen, sedangkan industri farmasi tumbuh 7,51 persen pada kuartal I tahun 2018. Kami pun memproyeksikan pertumbuhan kedua sektor itu mampu di atas 7-8 persen pada tahun 2019,” kata Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kementrerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono di Jakarta, Rabu 16 Januari 2019.

Dia mengatakan, kinerja positif  industri makanan dan minuman itu diproyeksikan karena adanya kegiatan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden serentak pada 17 April 2019. Momentum ini dinilai bakal membuat lonjakan terhadap konsumsi produk makanan dan minuman.

“Sementara itu, kami perkirakan pertumbuhan industri farmasi mampu menembus level 7-10 persen di tahun 2019. Selain dipacu peningkatan investasi, kinerja positif industri farmasi terkatrol dengan adanya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN),” ujarnya.

Sigit mengatakan, Kementrian Perindustrian terus berupaya memastikan ketersediaan bahan baku. Selama ini, aktivitas manufaktur konsisten memberikan efek berantai bagi perekonomian nasional, di antaranya melalui peningkatan pada nilai tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, dan penerimaan devisa dari ekspor.

“Salah satunya adalah kebutuhan gula kristal rafinasi. Pada tahun 2018, realisasi penyaluran gula Kristal rafinasi untuk industri makanan dan minuman, serta farmasi sebesar 3,0 juta ton, yang dipenuhi oleh pengolahan gula mentah impor sebesar 3,2 juta ton oleh pabrik gula Kristal rafinasi,"kata Sigit.

Menurut dia, impor gula mentah tersebut diolah menjadi gula Kristal rafinasi untuk  memenuhi kebutuhan industri makanan dan minuman sebesar 2,8 juta ton pada tahun 2019. Jumlah itu, turun sekitar 12,5 persen dibandingkan tahun 2018. "Impor gula mentah selama ini didatangkan dari India, Thailand, Australia, dan Brasil,” ucapnya.

Meskipun demikian, sebenarnya pertumbuhan industri makanan dan minuman‎ tetap naik di atas delapan persen. Namun pemerintah berupaya memenuhi kebutuhan gula industri dari dalam negeri. Dengan demikian, kebutuhan impor gula bisa dikurangi.

Sigit menambahkan, pemerintah berupaya menggenjot investasi industri gula terintegrasi dengan kebun. Saat ini, sudah ada tiga investor yang menyatakan berkomitmen untuk investasi di sektor ini.

“Pabrik gula terintegrasi yang selesai baru satu dari tiga yang saat ini sedang melakukan investasi,” kata dia.***

 

Bagikan: