Pikiran Rakyat
USD Jual 14.291,00 Beli 13.991,00 | Umumnya berawan, 23.9 ° C

Target Pertumbuhan Ekspor Nonmigas 2019 7,5 Persen

Tia Dwitiani Komalasari
MENTERI Perdagangan Enggartiasto Lukita memberikan keterangan kepada awak media di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (7/1/2019). Enggartiasto mengatakan, pertumbuhan ekspor 2018, khususnya nonmigas, sedikit melambat dan jauh dari target 11 persen, yakni hanya 7,5 persen sehingga ekspor 2019 diharapkan mampu lebih tinggi dari pada capaian 2018.*/ANTARA
MENTERI Perdagangan Enggartiasto Lukita memberikan keterangan kepada awak media di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (7/1/2019). Enggartiasto mengatakan, pertumbuhan ekspor 2018, khususnya nonmigas, sedikit melambat dan jauh dari target 11 persen, yakni hanya 7,5 persen sehingga ekspor 2019 diharapkan mampu lebih tinggi dari pada capaian 2018.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Kementrian Perdagangan menargetkan pertumbuhan ekspor nonmigas 2019 mencapai 7,5 persen. Target ekspor tersebut dinilai moderat karena mempertimbangkan kondisi ketidakpastian ekonomi global.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, target ekspor 2019 tersebut dinilai moderat karena mempertimbangkan kondisi ketidakpastian ekonomi global.‎ Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan dari target tersebut adalah ekonomi global yang diproyeksi tumbuh melambat yaitu sebesar 3,7 persen.

Perlambatan terjadi di pasar utama ekspor Indonesia, diantaranya Amerika Serikat 2,5 persen, Jepang 0,9 persen, dan Tiongkok 6,2 persen. "Pertumbuhan ekspor itu didukung ole‎h peningkatan perdagangan beberapa komoditas utama seperti batu bara, besi dan baja, kendaraan bermotor, berbagai produk kimia, produk plastik dan barang dari kayu,” kata Enggartiasto saat konferensi pers di Jakarta, Kamis 10 Januari 2019.

Menurut Enggar, pemerintah juga berupaya untuk memperluas pasar ekspor. Salah satunya dengan menyelesaikan 12 perjanjian perdagangan yang ditargetkan selesai 2019.

Meskipun demikian, Enggar mengatakan, dampak perjanjian perdagangan tersebut belum terasa tahun depan. Dengan demikian, hal itu diperkirakan tidak berdampak signifikan pada volume perdagangan Indonesia di 2019.

"Kemungkinan hasilnya baru dinikmati pada 2020 karena kan ada prosesnya terlebih dahulu," ujar dia.

Berdasarkan data Kementrian Perdagangan, realisasi ekspor non migas Januari-November 2018 tumbuh sebesar 7,5 persen. Angka itu melampaui target rencana kerja pemerintah RKP sebesar 5-7 persen.

Meskipun demikian, realisasi tersebut belum mencapai target ekspor nonmigas dari Kementrian Perdagangan yang tumbuh hingga 11 persen pada 2018. Dengan pertumbuhan tersebut, pemerintah telah berhasil mempertahankan surplus neraca perdagangan nonmigas sebesar 4,64 miliar Dolar AS pada Januari-November 2018.

"Kondisi itu terjadi di tengah ketidakpastian global, salah satunya akibat perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok," ucapnya.

Namun, secara keseluruhan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit yang cukup besar. Menurut Enggar, hal itu lebih disebabkan karena defisit di sektor migas.‎ 

Meskipun ekspor meningkat, pemerintah juga mewaspadai impor yang diproyeksikan mengalami peningkatan. ‎Pada 2018, terjadi peningkatan impor terutama pada sektor barang modal.

"Sebagian besar terjadi pada sektor tambang seperti buldozer dan lain sebagainya. Kita harus berpikir positif bahwa itu merupakan pertanda menggeliat kembali industri di sektor tersebut," katanya.

Sementara itu, Direktur Perdagangan Luar Negeri Kementrian Perdagangan, Oke Nurwan, mengatakan pemerintah akan kembali melakukan rapat koordinasi mengenai potensi ekspor 2019.

"Dalam rapat tersebut akan diproyeksikan secara detail per komoditi dan juga tujuan negara ekspornya," ujar Oke.‎ ***

 

Bagikan: