Pikiran Rakyat
USD Jual 14.291,00 Beli 13.991,00 | Cerah berawan, 25.4 ° C

Darmin Curigai Dalang Anjloknya Harga Karet di Tingkat Dunia

Tia Dwitiani Komalasari
PRESIDEN Joko Widodo (kedua kanan) didampingi Menko Perekonomian Darmin Nasution (kedua kiri), Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso (kanan), Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen (kiri) dan Dirut PT Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi melakukan seremoni penutupan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 2018 di kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (28/12/2018). Perdagangan IHSG 2018 resmi ditutup dengan menguat sebesar 0,06 persen atau 3,86 poin ke level 6.194,50.*/ANTARA
PRESIDEN Joko Widodo (kedua kanan) didampingi Menko Perekonomian Darmin Nasution (kedua kiri), Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso (kanan), Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen (kiri) dan Dirut PT Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi melakukan seremoni penutupan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 2018 di kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (28/12/2018). Perdagangan IHSG 2018 resmi ditutup dengan menguat sebesar 0,06 persen atau 3,86 poin ke level 6.194,50.*/ANTARA

JAKARTA, (PR).- Pemerintah tengah berkomunikasi dengan Thailand dan Malaysia untuk menelusuri mengenai anjloknya harga karet di tingkat dunia.‎ Diduga anjloknya harga karet tersebut disebabkan oleh adanya spekulan.

"Sebenarnya (produksi) karet tidak oversupply, tapi kok harganya turun terus? Pasti ada yang tidak beres," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, usai Rapat Koordinasi mengenai karet di Jakarta, Jumat 1 Januari 2019.

Dia mengatakan, ada tempat yang paling menentukan harga karet dunia, yaitu bursa Singapura dan Bursa Shanghai. ‎"Ada spekulan yang banyak memainkan informasi. Kita sudah melihat stoknya, paling (habis) dua bulan (kebutuhan dunia). Itu mestinya gak jatuh harganya," kata dia.

Meskipun demikian, Darmin mengatakan,‎ Indonesia tidak bisa bergerak sendiri dalam mengatasi harga karet yang terus merosot. Indonesia perlu bekerja sama dengan negara produsen karet lainnya.

"Kita sedang galang komunikasi dengan Thailand dan Malaysia untuk menelusuri udah pada tau sebenarnya, tapi kita perlu kerja sama dalam mengambil langkah. Kalau Vietnam juga produsen karet, tapi dia tidak mau (kerja sama)," ujar dia.

Upaya Domestik

Selain itu, menurut Darmin, pemerintah juga berupaya untuk menaikan harga karet dengan meningkatkan permintaannya di tingkat domestik. Salah satunya dengan menyerap karet untuk bahan campuran aspal. 

"Jika penggunaan karet naik, maka harganya pun ikut naik. Caranya yaitu dengan menggunakan karet di luar kegunaannya saat ini," tuturnya.

Darmin mengatakan, penggunaan karet pada aspal jalan memang sedikit menaikan biaya produksi. Namun daya tahan aspal yang menggunakan karet lebih baik.

Oleh sebab itu, dia mengatakan, pemerintah sedang mengumpulkan informasi mengenai cara pengolahan karet dan juga lokasi jalan yang akan diaspal. "Kemungkinan minggu depan data-ata jalannya sudah masuk," kata dia.

Sementara itu, Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), menargetkan penyerapan 2.542 ton aspal karet sepanjang 2019. ‎ Penyerapan itu akan dilakukan secara bertahap untuk menghindari penyimpanan dalam waktu lama.

"Karet alam mudah rusak sehingga tidak bisa disimpan lama," ujar Kepala Biro Komunikasi Publik Kementrian PUPR, Enda S Atmawidjaja.

Dia mengatakan, mekanisme pembelian karet dari petani dilakukan oleh pabrik atau koperasi. Kementrian PUPR, kemudian akan mendapatkan suplai dari pabrik. "Syaratnya, pabrik wajib mencantumkan surat keterangan dan kuitansi. Pembelian dari petani atau KUD," ucapnya.***

 

Bagikan: