Pikiran Rakyat
USD Jual 14.068,00 Beli 13.768,00 | Sebagian berawan, 15.5 ° C

Banyak Bencana, Total Klaim BPJS Ketenagakerjaan Capai Rp 24,05 Triliun

Satrio Widianto
DIREKTUR Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan Krishna Syarif menyerahkan santunan kepada ahli waris korban tsunami di Serang, Banten, Rabu 9 Januari 2019.* SATRIO WIDIANTO/PR
DIREKTUR Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan Krishna Syarif menyerahkan santunan kepada ahli waris korban tsunami di Serang, Banten, Rabu 9 Januari 2019.* SATRIO WIDIANTO/PR

SERANG, (PR).- Banyaknya bencana dan musibah sepanjang tahun 2018, menjadi salah satu sebab dari meningkatnya klaim pembayaran jaminan sosial di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan. Secara nasional, jumlah total pengajuan klaim untuk tahun 2018 adalah sebanyak 2,15 juta dengan nilai klaim mencapai Rp 24,05 triliun. 

"Khusus untuk kasus kecelakaan kerja, sepanjang tahun 2018 tercatat sebanyak 173 ribu pengajuan klaim dengan nilai klaim sebesar Rp 1,22 triliun," kata Direktur Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan Krishna Syarif.

Syarif mengungkapkannya saat menyerahkan santunan kepada ahli waris korban bencana tsunami Selat Sunda, di Kantor BPJS Ketenagakerjaan Cabang Serang, Banten, Rabu 9 Januari 2019. Pada kesempatan itu, juga dilakukan kunjungan ke para pasien korban bencana tsunami yang  masih dirawat di RSUD Drajat, Serang.

Dikatakan Syarif, bencana dan musibah yang terjadi sepanjang tahun 2018 memang merupakan hal yang perlu diperhatikan, terutama dari sisi perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan. "Semoga ke depannya perlindungan dan manfaat dari BPJS Ketenagakerjaan dapat dirasakan oleh seluruh masyrakat pekerja di Indonesia. Saya berharap santunan yang kami sampaikan ini dapat mengurangi beban ahli waris serta dapat dijadikan modal awal untuk menata kembali kehidupan pasca musibah yang menimpa," kata Krishna.

Menurut Krishna, pihaknya berupaya agar para peserta korban Tsunami bisa cepat mendapat pelayanan. Tidak sampai satu bulan dari kejadian, BPJS Ketenagakerjaan  telah membayarkan santunan kepada pekerja korban bencana tsunami Banten – Lampung. "Sebanyak 23 orang dengan total pembayaran Rp 9,65 miliar telah disalurkan, yang terdiri atas santunan kematian, bantuan pemakaman, santunan berkala, santunan beasiswa dan tabungan JHT,” ujarnya.

Tinggalkan duka

Tsunami yang terjasi pada 22 Desember 2018 telah meninggalkan duka di hati para korban dan keluarga, salah satunya seperti yang dialami oleh keluarga almathum Ocang yang pada saat tsunami menerjang di Tanjung lesung, sedang bertugas melakukan pekerjaannya selaku Engineering di Hotel Tanjung Lesung, Banten. 

Kisah menyentuh lainnya dialami oleh  Ade Firman, yang berjuang antara hidup dan mati saat tergulung ombak tsunami, yang juga pada saat yang sama sedang melakukan pekerjaannya. Akibat dari kejadian itu, dirinya menderita patah tulang dan luka luka di sekujur tubuhnya. Kejadian nahas ini , selain mengakibatkan dirinya cidera, juga menyebabkan terhentinya penghasilan untuk keluarga dan harus menunggu sampai kesehatan Ade pulih kembali agar bisa bekerja. 

Beruntung perlindungan BPJS Ketenagakerjaan hadir membantu para peserta korban tsunami baik berupa santunan bagi ahli waris korban, dan juga dalam bentuk pelayanan di jaringan Rumah sakit PLKK (Pusat Layanan Kecelakaan Kerja) yang tersebar di seluruh Indonesia dan mencapai 7.981 unit PLKK. Perawatan dan pengobatan akibat kecelakaan kerja ini diberikan tanpa adanya batasan plafon biaya pengobatan. 

Adanya fasilitas di PLKK ini sebagai jaminan pengobatan dan perawatan akan dilakukan sampai pasien dinyatakan sembuh. “Agar selalu dipastikan,bahwa sesuai PP 44/2015, selama pekerja tidak dapat bekerja akibat suatu kejadian kecelakaan, maka BPJS Ketenagakerjaan menjamin upah pekerja tetap diterima oleh pekerja sebagai suatu penghasilan,“ ucap Krishna Syarif.

Disebutkan, kekhawatiran terhadap pemenuhan kebutuhan hidup, biaya sekolah dan sebagainya tentunya menjadi permasalahan baru dalam keluarga selain kesedihan dan duka mendalam akibat meninggalnya kepala keluarga. ***

Bagikan: