Pikiran Rakyat
USD Jual 14.365,00 Beli 14.065,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Sektor Industri Agro Ditargetkan Tumbuh 7,1 %

Tia Dwitiani Komalasari
Ilustrasi/ADNAN HARADE
Ilustrasi/ADNAN HARADE

‎JAKARTA, (PR).- Kementerian Perindustrian menargetkan sektor industri agro dapat tumbuh mencapai 7,1 persen pada tahun 2019. Angka pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan capaian tahun lalu sekitar 6,93 persen. 

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan,‎ kinerja sektor industri agro diproyeksi terdongkrak akibat adanya momentum pemilu. Misalnya saja produk makanan dan minuman yang diproyeksi mengalami lonjakan permintaan domestik.‎ “Di tahun politik ini, ada beberapa sektor yang bakal meraih peluang besar, di antaranya adalah industri makanan dan minuman,” kata Sigit di Jakarta, Minggu 6 Januari 2019.

Menurut Sigit, Kementrian Perindustrian optimistis realisasi pertumbuhan indutri agro di 2019 akan lebih besar dari target. Selama ini, industri agro menjadi sektor andalan dalam memacu kinerja industri pengolahan nonmigas.

“Industri ini banyak mendorong pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan tersebut didukung oleh tumbuhnya masing-masing subsektor, seperti industri makanan dan minuman, industri hasil tembakau, industri pengolahan kayu, bambu dan rotan, industri kertas dan berbahan kertas, serta industri furnitur,” ujar Sigit.

Pada semester I tahun 2018, industri agro menyumbang hingga 49,11 persen dari total produk domestik bruto (PDB) sektor nonmigas. Di periode yang sama, ekspor dari industri agro berkontribusi mencapai 23,26 miliar Dolar AS atau 26,43 persen terhadap total ekspor nasional. “Artinya, produk-produk agro kita telah mampu berdaya saing global,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto memaparkan kinerja positif dari beberapa subsektor industri agro, antara lain industri pengolahan crude palm oil (CPO), kakao, dan gula. Di industri pengolahan sawit, program implementasi B-20 mendorong pertumbuhan pasar domestik produk hilir sebesar 6,5 persen serta ekspor produk pangan dan biofuel kelapa sawit tumbuh hingga 7,4 persen.

“Saat ini, rasio ekspor produk hilir di industri CPO sebesar 80 persen dibandingkan produk hulu. Pada 2019, pasokan biodiesel ditargetkan sebesar 6,1 juta ton yang didukung dengan pabrik biodiesel nasional berkapasitas terpasang mencapai 12,75 juta Kilo Liter,"ujar dia.

Sementara itu, industri pengolahan kakao, terjadi peningkatan utilitas menjadi 61 persen pada tahun 2018. Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun 2017 sekitar 59 persen. Industri pengolahan kakao juga mengalami surplus hingga 770 juta Dolar AS dengan peningkatan ekspor cocoa butter sebesar 19 persen dan cocoa powder sebesar 18 persen pada Januari-September 2018. 

Airlangga mengatakan, pertumbuhan di industri gula didukung oleh pembangunan tiga pabrik gula baru dengan total investasi mencapai Rp16,16 triliun dan kapasitas hingga 35.000 TCD. Ketiga pabrik gula baru itu adalah Rejoso Manis Indo di Blitar, Muria Sumba Manis di NTT, dan Pratama Nusantara Sakti di Ogan Komering Ilir.

“Kami bertekad untuk terus memacu industri agro di Indonesia agar lebih produktif dan kompetitif, dengan pemanfaatan teknologi terbaru sesuai implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0. Apalagi, industri makanan dan minuman akan menjadi pionir dalam penerapan revolusi industri 4.0,” ujarnya.***

Bagikan: