Pikiran Rakyat
USD Jual 14.365,00 Beli 14.065,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Masyarakat Berharap Reaktivasi Jalur Kereta Banjar-Pangandaran Segera Terwujud

Yulistyne Kasumaningrum
KEPALA PT KAI Daop 2 Bandung Saridal berbincang dengan penumpang KA Pangandaran, di Stasiun Bandung, Minggu 6 Januari 2019. Rencana reaktivasi jalur KA Banjar-Pangandara direspon positif dan diharapkan segera terealisasikan.*/YULISTYNE KASUMANINGRUM/PR
KEPALA PT KAI Daop 2 Bandung Saridal berbincang dengan penumpang KA Pangandaran, di Stasiun Bandung, Minggu 6 Januari 2019. Rencana reaktivasi jalur KA Banjar-Pangandara direspon positif dan diharapkan segera terealisasikan.*/YULISTYNE KASUMANINGRUM/PR

BANDUNG, (PR).- KA Pangandaran relasi Stasiun Gambir–Bandung–Banjar (PP) dan  Bandung-Banjar ( Pp ) diharapkan segera tersambung ke Pangandaran. Alasannya dengan terkoneksi hingga ke Pangandaran, akses masyarakat menuju wilayah Jabar bagian selatan akan semakin mudah.

Seperti yang diketahui KA Pangandaran yang diluncurkan Rabu (2/1/2019) lalu baru terkoneksi sampai ke Kota Banjar. Total lintas dari Jakarta-Banjar mencapai 328,8 kilometer. Sedangkan dari Bandung-Banjar berjarak 155,8 kilometer dengan waktu tempuh 4 jam 30 menit.

Alvi (17) salah seorang warga Banjar mengatakan langkah PT Kereta Api Indonesia (Persero) KAI melaunching KA Pangandaran sangat positif. Kehadiran alat transportasi tersebut mampu memangkas waktu tempuh dari sebelumnya 5-6 jam dengan menggunakan kendaraan pribadi menjadi hanya sekitar 4 jam saja.

“Senang sekali tentunya karena menjadi lebih mudah dan lebih cepat. Apalagi saat ini kendaraan yang melintas di jalur selatan semakin banyak yang menyebabkan waktu tempuh semakin panjang,” ujarnya yang ditemui di Stasiun Bandung, Minggu (6/1/2019).

Merujuk pada kemudahan yang dirasakan itu pula, Alvi berharap, pemerintah dan juga PT KA melanjutkan KA Pangandaran hingga sampai ke Pangandaran. Karena menurutnya hal tersebut akan sangat membantu masyarakat di wilayah Pangandaran untuk bisa menuju ke Bandung dan Jakarta, begitu juga sebaliknya.

“Kalau sekarangkan berhenti di Banjar kemudian disambung menggunakan elf atau bus ke Pangandaran. Banjar-Pangandaran itu sekitar 2 jam kalau cepat. Pangandaran-Bandung itu bisa 8 jam jalur darat. Maka akan sangat baik jika ada kereta api sampai Pangandaran, pasti membantu,” katanya.

Semakin mudah ke Pangandaran

Hal senada dikatakan Muhammad Adi (22) yang sebelum KA Pangandaran hadir sering menggunakan KA Argo Wilis dan turun di Stasiun Banjar. Ia memilih menggunakan kereta api karena pertimbangan waktu tempuh yang lebih singkat jika dibandingkan moda transportasi lainnya.

Diungkapkan, dari pengalamannya tersebut ternyata cukup banyak wisatawan mancanegara yang melakukan hal serupa. Ia cukup sering bertemu dengan wisatawan asing yang turun di Stasiun Banjar dan menyambung dengan moda transportasi lain untuk bisa mencapai Pangandaran.

“Cukup banyak bule yang menuju Pangandaran dan menanyakan setelah dari Banjar mereka harus menggunakan apa. Ini yang harus diperhatikan, setelah adanya KA Pangandaran, harus disiapkan transportasi untuk menuju Pangandaran agar para wisatawan juga terbantu selama jalurnya belum sampai kesana,” katanya.

Akan tetapi, Adi berharap, pemerintah dan PT KA segera merealisasikan kereta api Banjar-Pangandaran sesuai rencana yang pernah disampaikan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil melalui akun media sosialnya.

“Saya berharap rencana tersebut segera terwujud karena akan sangat membantu sekali. Kita akan semakin mudah untuk bisa ke Pangandaran,” ucapnya.

Bergerak cepat

Kepala PT KAI Daop 2 Bandung Saridal mengatakan dalam waktu dekat pihaknya akan kembali berkomunikasi dengan pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota terkait rencana reaktivasi KA Banjar-Pangandaran. Beberapa poin yang akan dibahas diantaranya terkait evaluasi keterisian dari KA Pangandaran pasca diluncurkan 2 Januari lalu, tindaklanjut rencana reaktivasi, pengajuan biaya penertiban, dan juga persiapan mapping bangunan yang terkena dampak penertiban. Sementara surat pemberitahuan sudah dikirimkan ke masing-masing daerah sejak Agustus lalu.

“Kami menyadari keberadaan transportasi ini penting untuk masyarakat, termasuk agar roda perekonomian bisa bergerak lebih cepat,” katanya.

Ekonom dari Universitas Padjadjaran Kurniawan Saefullah mengatakan pembangunan infrastruktur transportasi bisa membantu percepatan proses pemerataan pembangunan. Makanya pembangunan infrastruktur transportasi, dalam hal ini kereta api, merupakan prioritas karena menyebabkan daerah saling terhubung, terkoneksi secara fisik, yang akan mendukung pembangunan.

“Tentunya pemerataan pembangunan akan selalu memiliki dampak yang positif, khususnya bagi wilayah Jabar Selatan yang selama ini cukup timpang pembangunannya dibandingkan dengan daerah yang berada di utara,” ujarnya saat dihubungi secara terpisah.

Hanya, ia menekankan sasaran pembangunan yang ingin dicapai melalui kehadiran infrastruktur KA ini sebaiknya tidak hanya menyasar aspek ekonomi semata. Tetapi, pembangunan secara keseluruhan,  termasuk aspek sosial dan lingkungan sebagaimana yang menjadi sasaran dari Sustainable Development Goals (SDGs).

“Jabar selatan memerlukan pemerataan tetapi, jangan sampai hanya melibatkan orang ekonomi namun juga perlu dilibatkan orang sosial dan lingkungan agar pembangunan secara keseluruhanlah yang dicapai untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera,” katanya.***

Bagikan: