Pikiran Rakyat
USD Jual 14.311,00 Beli 14.011,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Perlambatan Ekonomi Tiongkok Berpotensi Menekan Rupiah

Tia Dwitiani Komalasari
Ilustrasi/ADNAN HARADE
Ilustrasi/ADNAN HARADE

JAKARTA, (PR).- Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan proyeksi adanya perlambatan ekonomi Tiongkok berpotensi memberikan tekanan pada Rupiah tahun ini. Meskipun demikian, di sisi lain tekanan Rupiah akibat kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat diperkirakan mulai mereda.

Menurut Perry, pertumbuhan ekonomi Tiongkok diprediksi hanya mencapai 6,5 persen pada tahun 2019. Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan tahun 2018 yang mencapai 6,6 persen. "Itu berarti pertumbuhannya melambat. Ini masih membawa tekanan (pada Rupiah),"ujar dia saat diwawancarai wartawan di Kantor Bank Indonesia, Jakarta, Jumat 4 Januari 2018.

Seperti diketahui, Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar Indonesia. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi Tiongkok dapat memberikan dampak signifikan bagi ekonomi Indonesia.

Meskipun demikian, Perry mengatakan, terdapat sisi positif ekonomi global terhadap perkembangan Rupiah. Salah satunya adalah meredanya ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Dia mengatakan, BI‎ terus memantau perkembangan dari gencatan senjata perang dagang yang sebelumnya direncanakan elama 90 hari. "Kita pantau terus nanti minggu depan, bagaiman solusi ketegangan perdagangan. Langkah lanjutan juga akan meredakan premi resiko di pasar keuangan global," ujarnya.

Kepercayaan pasar

‎Selain itu, tekanan Rupiah yang diakibatkan oleh normalisasi suku bunga Bank Sentral AS diperkirakan mereda pada 2019. Menurut Perry, BI menurunkan proyeksi kenaikan suku bunga The Fed dari tiga kali menjadi dua kali pada 2019. 

"Saat ini muncul juga pelaku pasar yang memperkirakan hanya naik satu kali‎ bahkan tidak naik sama sekali. Namun kami tetap memproyeksikan dua kali," kata dia.

Perry mengatakan, kondisi nilai tukar Rupiah bergerak stabil di bawah Rp 14.300 per Dolar AS pada awal 2019.‎ Menurut dia, faktor utama dari nilai tukar Rupiah yang terkendali tersebut adalah kepercayaan pasar.

Menurut Perry, kepercayaan pasar itu juga terlihat saat pemerintah melelang Surat Berharga Negara. Sebelumnya target SBN sebesar Rp 15 triliun, namun yang dimenangkan sebesar Rp 28,2 triliun.

"Itu menunjukan kepercayaan investor baik dalam maupun luar negeri terhadap ekonomi Indonesia. Selain itu, investasi di aset keuangan Indonesia juga sangat kuat dan baik terbukti dari over subscribe lelang SBN,"ujar dia.

Dikutip dari halaman resmi Direktorat Jenderal Pengelolaan, Pembiayaan‎, dan Risiko Kementerian Keuangan, pembiayaan yang didapatkan dari toal penawaran masuk sebesar Rp 55,27 triliun. Dari seluruh SBN yang diterbitkan, pemerintah menghimpun pendanaan sebanyak Rp 9,75 triliun dengan rata-rata imbal hasil 7,98 persen dengan tanggal jatuh tempo 15 Januari 2024.***

Bagikan: