Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Langit umumnya cerah, 21.1 ° C

Citarum Harum Pengaruhi Industri Kecil

Yulistyne Kasumaningrum
PABRIK berada di dekat aliran Sungai Citarum, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Kamis 13 September 2018.*/ADE MAMAD/PR
PABRIK berada di dekat aliran Sungai Citarum, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Kamis 13 September 2018.*/ADE MAMAD/PR

TAHUN 2018 dinilai menjadi salah satu tahun terberat bagi industri tekstil dan produk ­tekstil (TPT) Ja­wa Barat.

Alasannya, selain karena terpukul dari sisi pasar lokal yang per­min­taannya semakin berkurang, te­kan­an juga terjadi karena dipengaruhi turunnya produksi dari industri pence­lupan.

Sekretaris Asosiasi Pertekstilan Indo­ne­sia (API) Jawa Barat Kevin Hartanto memaparkan, dibandingkan dengan ta­hun-tahun sebelumnya, permintaan pa­sar domestik dirasakan semakin berkurang.

Meski belum mengetahui secara pasti penyebab penurunan permintaan pasar domestik, Kevin memperkirakan hal itu karena daya beli masyarakat yang berkurang atau masuknya produk impor yang semakin masif menghajar pasar domes­tik.

Selain itu, Kevin mengatakan, saat ini produksi industri pencelupan ­tekstil di Jabar pun telah turun menjadi hanya 60-70%. Bahkan, beberapa di antaranya ada yang memangkas hingga hanya menyisa­kan 50% dari kemampuan produksi.

FOTO udara limbah industri di Sungai Cihaur yang bermuara ke Sungai Citarum di Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu, 11 April 2018. Meski adanya larangan membuang limbah oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, data dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mencatat setidaknya 25 perusahaan di Kabupaten Bandung Barat masih membuang limbah industri ke anak Sungai Citarum ini.*/DOK. PR

Penurunan produksi dari industri pen­celupan tersebut, dijelaskan Kevin, ber­ka­itan dengan upaya pembenahan yang dilakukan industri seiring de­ngan adanya program Citarum Harum yang digulirkan pemerintah.

Meski pada prinsipnya industri mendukung program tersebut, upa­ya pembenahan instalasi pengolahan limbah membutuhkan waktu yang tidak singkat. Dengan demikian, untuk me­menuhi baku mutu yang ditetapkan, akti­vitas pencelupan yang dilakukan industri harus disesuaikan atau dengan kata lain dikurangi.

IMK terdampak

Di tengah berbagai tekanan dan tantangan yang terjadi sepanjang 2018, sebenarnya kinerja produksi industri tekstil di industri besar dan sedang (IBS) mening­kat. Industri ­tekstil meningkat 9,29% jika diban­dingkan antara triwulan III 2018 dan triwulan III 2017 year on year (yoy).

Akan tetapi, kondisi berbeda dicatat­kan industri tekstil di industri mikro dan kecil (IMK). Tercatat, industri tekstil IMK di triwulan III tahun 2018 mengalami pe­nurunan sekitar -5,94%(yoy) dibandingkan dengan triwulan III tahun 2017.

Akademisi dari Universitas Padjadjar­an Maman Setiawan menjelaskan, merujuk pada data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja produksi industri teks­til cenderung meningkat pada 2018. Meskipun terjadi penurunan pada waktu tertentu seperti pada saat libur Idulfitri.

Tercatat berdasarkan data BPS, pada triwulan III 2018, pertumbuhan industri besar dan menengah tumbuh 5,04% (yoy) terhadap triwulan III 2017.

Jika dibandingkan dengan triwulan II 2018, industri tekstil naik sekitar 11,63% dibandingkan dengan triwulan II tahun 2018 (qtq). Industri memiliki pertumbuhan terbesar ketiga di sektor manufaktur dengan pertumbuhan 9,29% jika di­bandingkan dengan antara triwulan III 2018 dengan triwulan III 2017 (yoy).

Sementara itu, untuk industri tekstil di industri mikro dan kecil yang meng­alami penurunan di triwulan III 2018 dibandingkan dengan triwulan II 2018 (qtq) -3,01%. Bahkan, jika dibandingkan de­ngan triwulan III 2017, industri tekstil di triwulan III 2018 turun -5,94%(yoy).

”Adanya pernyataan beberapa pihak yang mengindikasikan adanya penurunan kinerja industri tekstil yang disebabkan kebijakan Citarum harum mungkin saja terjadi, tetapi dampaknya terjadi paling besar pada IMK,” kata Maman di Bandung, Selasa (1/1/2019).

Ia menambahkan, adanya kebijakan Ci­tarum Harum menyebabkan IMK tidak bisa sembarangan membuang limbah, mi­salnya limbah bekas proses pencelup­an. Kondisi tersebut menyebabkan IMK kesulitan dengan biaya pengolahan limbah dengan menggunakan proses kimia yang memerlukan biaya pengolahan yang tidak sedikit.

”Oleh karena itu, solusinya ialah bagai­mana peran pemerintah baik pusat mau­pun daerah bisa memfasilitasi IMK ini melalui bantuan teknis atau alat dalam proses pengolahan limbah ini,” katanya.***

Bagikan: