Pikiran Rakyat
USD Jual 14.291,00 Beli 13.991,00 | Umumnya berawan, 23.9 ° C

Antisipasi Kejutan Donald Trump, Perekonomian Jabar Bakal Melandai pada 2019

Tim Pikiran Rakyat
PERANG dagang Amerika Serikat-Tiongkok.*/REUTERS
PERANG dagang Amerika Serikat-Tiongkok.*/REUTERS

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump ngotot bahwa ancam­an utama ekonomi mereka tahun 2019 adalah langkah atau kebijakan Bank Sentral AS atau The Fe­deral Reserve. Donald Trump mengesam­pingkan perang dagang yang dia kobarkan menghadapi Tiongkok.

Memang, sering kali kebijakan Donald Trump menuai kontroversi. Tak hanya di tataran dunia internasional, tetapi juga di internal negaranya sendiri. Survei yang dilakukan The Wall Street Journal baru-baru ini menyebutkan bahwa perang dagang akan menjadi masalah utama pada 2019.

Sebanyak 85% pengamat ekonomi berpendapat bahwa perang dagang berisiko menjungkalkan ekonomi AS ke dalam posisi terburuk dalam tiga tahun terakhir. Hanya 4% pengamat ekonomi yang sependapat dengan Donald Trump bahwa ancaman utama eko­nomi AS tahun 2019 adalah kebijakan The Fed.

Perang dagang antara dua negara adidaya ekonomi dunia tersebut memang cukup berdampak luas bagi perekonomian dunia.

Demikian pula bagi sebagian besar pelaku usaha di Indonesia, perang dagang telah me­nempatkan 2018 sebagai tahun paling galau bagi bisnis mereka. Ekonomi Indonesia juga berada dalam tekanan yang tiada henti.

Kurs rupiah sempat terdepresiasi cukup dalam hingga menembus angka Rp 15.238 per dolar AS pada 9 Oktober 2018 (berdasarkan data Bloomberg).

Kinerja ekspor memble. Dalam rilis teranyar Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan nasional Januari-November 2018 tekor 7,52 miliar dolar AS atau setara Rp 109 triliun.

Defisit neraca perdagangan tersebut berpeluang menjadi yang terdalam sepanjang sejarah Indonesia. Alasannya, defisit diperkirakan akan bertambah pada akhir tahun.

Kinerja ekspor sejatinya meng­hadapi tekanan akibat berkurangnya permintaan dari negara tujuan utama, seperti Tiongkok.

Selain itu, terjadi kelesuan perdagangan dengan pasar nontradisional dan berkurangnya permintaan sejumlah komoditas strategis Indonesia dari negara-negara Eropa akibat isu-isu nonekonomi.

XI Jinping dan Donald Trump.*/REUTERS

Seperti yang dilansir Asia Nikkei, perang dagang telah menyebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand melambat pada periode Juli-September.

Pertumbuhan produk domestik bruto gabungan untuk lima negara besar di Asia Tenggara tersebut turun menjadi 4,5% dari 5,5% pada kuartal sebelumnya.

Saat ini, tensi perang dagang berkurang setelah adanya gencatan senjata selama 90 hari pada pertemuan G-20 di Argentina, akhir November lalu. Namun, tidak ada yang mampu memastikan bahwa setelah gencatan senjata berakhir, perang dagang pun akan selesai.

Peluang kecil

Akademisi dari Universitas Padjadjaran Rudi Kurniawan menilai, peluangnya kecil ada kejutan baru. ”Misalnya de­ngan peristiwa ditangkapnya bos Huawei, kedua negara tidak reaktif dan tidak mengait­kannya dengan perang dagang. Keduanya justru fokus menyelesaikan masalah yang menjadi perhatian dari perang dagang,” katanya.

Dari gelagat yang ada, bukan tidak mungkin ada kesepakatan baru yang akan menguntungkan kedua belah pihak.

Kendati perang dagang mereda, Rudi tak dapat memastikan perekonomian Indonesia akan bergerak lebih baik dibandingkan dengan tahun 2018.

Ia menilai, pertumbuhan ekonomi hanya akan bergerak moderat tahun depan karena masih ada tantang­an lain terkait dengan suku bunga The Federal Reserve.

Perluas jaringan

Direktur Institute for Deve­lopment of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartarti menilai, tantangan perekonomian 2019 masih cukup besar.

Target pertumbuhan ekonomi yang dipatok oleh pemerintah sebesar 5,3% tidak akan mudah dicapai. Tantangan ekonomi dari dunia internasional tersebut di antaranya adalah masih adanya kemungkinan perang dagang masih berlanjut.

Meski demikian, menurut dia, situasi ini sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk menyeimbangkan kembali (rebalancing) dan pengemba­ngan jaringan-jaringan pasar potensial jika Indonesia mampu memanfaatkannya.

Pada prinsipnya, perusaha­an yang terkena imbas langsung perang dagang akan mencari bahan baku dan bahan penolong yang murah.

”Dengan demikian, ada opsi mengalihkan pembelian sumber bahan baku tersebut ke negara lain yang tidak terlalu agresif menaikkan tarif,” ujarnya.

DONALD Trump.*/REUTERS

Enny mengatakan, Indonesia mengalami surplus dalam produksi beberapa komoditas perkebunan, seperti kelapa sawit. Kondisi ini seharusnya dioptimalkan untuk merebut pasar yang ongkos produksinya mulai mahal akibat kebijakan tarif yang diterapkan oleh AS dan Tiongkok.

”Apalagi, kedua negara tersebut merupakan mitra dagang utama Indonesia. Jadi, alih-alih terjerembap dalam dampak negatif, Indonesia harus memanfaatkan posisi strategis ini sebaik mungkin,” tuturnya.

Opsi lain yang dapat digalang oleh masyarakat dunia untuk melawan perang dagang adalah bekerja sama dalam forum bersama untuk membuat penyeimbang baru dalam per­dagangan global.

”WTO, yang seharusnya menjadi wasit, tam­paknya gamang untuk se­gera meniup peluit dan memberi kartu kuning kepada AS ataupun Tiongkok. Oleh karena itu, diperlukan tatanan baru agar permainan dapat diterus­kan secara adil,” ucapnya.

Dampak bagi Jawa Barat

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat Doni P Joewono memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Jabar pada 2019 akan melandai atau tidak setinggi 2018.

Pada 2018, laju pertumbuhan ekonomi Jabar berada di kisaran 5,5%-5,9%, sedang­kan pada 2019 cenderung melandai di rentang 5,3%-5,7%.

Hal itu terjadi karena ekspor Jabar masih akan dibayangi oleh berbagai tantangan, khususnya eksternal. Perlambatan ekonomi negara mitra dagang utama Jabar, yakni AS, Eropa, Jepang, dan Tiongkok, serta perlambatan volume perdagangan dunia 2019 akan memberikan tekanan yang cukup besar terhadap ekspor.

Komoditas utama ekspor Jabar adalah produk elektro­nik, TPT, dan otomotif. Sementara, performa negara-negara tujuan ekspor Jabar, berdasarkan data World Trade Volume, turun dari 4,2% menjadi 4%. Begitu juga data World Economic Outlook (WEO).

”Negara tujuan ekspor Jabar turun, maka bisa dipastikan ekspor Jabar turun. Padahal, yang mendorong ekonomi Jabar adalah industri peng­olah­an. Namun, masih akan tertolong oleh sektor konstruksi dan perdagangan Jabar,” katanya.***

Bagikan: