Pikiran Rakyat
USD Jual 14.393,00 Beli 14.093,00 | Sebagian berawan, 23.3 ° C

Meninjau Lagi Medan Perang E-commerce di Indonesia Tahun 2018

Yusuf Wijanarko
E-commerce.*/DOK. PR
E-commerce.*/DOK. PR

E-COMMERCE menjadi topik hangat yang tidak henti dibicarakan sepanjang tahun 2018. Topik ini menjadi ingar-bingar karena berbagai hal, mulai dari maraknya festival belanja online, kedatangan Jack Ma ke Indonesia yang dianggap sebagai salah satu sosok paling berpengaruh di ranah e-commerce dunia, hingga potensi menjanjikan sejumlah pemain e-commerce lokal berlabel unicorn.

Kabar terbaru adalah tentang investasi 1,1 miliar dolar dari SoftBank di Tokopedia sehingga menjadikannya sebagai perusahaan rintisan dengan valuasi paling besar di Indonesia.

Sebelum tahun berganti, Kami sajikan data hasil penelaahan iPrice tentang para pelaku e-commerce terpopuler di Indonesia maupun di regional yang lebih luas, penetrasi yang paling menarik perhatian, maupun tren kompetisi yang terjadi di tengah industri ini.

Analisisnya mencakup jumlah total kunjungan desktop dan mobile web dari 60 platform e-commerce Asia Tenggara menggunakan data dari SimilarWeb dan Google Trends.

Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia meningkat pesat

Akselerasi pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia merupakan yang terdepan di Asia Tenggara. Dalam laporan terbaru Google Temasek, ada perputaran uang sebesar 27 miliar dolar dari aktivitas ekonomi digital di negara ini sepanjang tahun 2018.

Pertumbuhan itu meningkat pesat hingga 49% sejak tahun 2015. Selain karena didukung geografis pasar yang begitu luas, penduduk Indonesia juga perlahan menjadikan internet sebagai penopang aktivitas sehari-hari mereka mulai transportasi hingga aktivitas belanja online.

Tahun 2018 menjadi periode terbaik untuk berbelanja online. Para pelaku e-commerce berlomba-lomba memanjakan pelanggan mereka dengan beragam festival belanja yang diklaim penuh diskon dan cashback.

Setidaknya ada enam agenda festival belanja online digelar di Indonesia sepanjang tahun 2018. Agenda berjualan semacam itu dipercaya mampu menarik jumlah transaksi yang masif. Contohnya, Harbolnas yang baru berlalu mampu mencatatkan transaksi hingga Rp6,8 triliun hanya dalam dua hari gelarannya.

Mengutamakan layanan e-commerce lokal dibanding regional

Kepercayaan Softbank pada Tokopedia dalam bentuk investasi sebesar 1,1 miliar dolar baru-baru ini terjalin bukan tanpa sebab.

Performa perusahaan rintisan yang dipimpin William Tanuwijaya itu begitu mendominasi pasar e-commerce Indonesia sepanjang 2018.

Dalam data SimilarWeb, jumlah kunjungan di situs Tokopedia selalu berada di atas situs e-commerce lain setiap bulannya. Kunjungan tertinggi Tokopedia terjadi pada September yang mencapai 169 juta pengunjung. Jumlah itu meningkat 123% dari kunjungan awal 2018.

Tokopedia juga mendominasi musim belanja besar di Indonesia seperti periode Ramadan. Bukan rahasia lagi bila daya belanja orang Indonesia tergolong besar pada Ramadan karena konsumen aktif berbelanja barang-barang baru untuk memeriahkan hari raya pada penghujung Ramadan.

Pada periode itu, intensitas kunjungan yang tinggi di situs Tokopedia mampu membuat jarak cukup besar dengan pesaing lain.

Selain Tokopedia, orang Indonesia juga gemar menggunakan Bukalapak sebagai tempat berbelanja online.

Sejak diumumkan sebagai salah satu unicorn dalam industri ini, jumlah pengunjung desktop dan mobile web di situs e-commerce lokal itu senantiasa menanjak dari bulan ke bulan.

Jumlah kunjungan tertinggi Bukalapak terjadi pada November dengan angka 120.580.100 kunjungan. Dibandingkan catatan pengunjung desktop dan mobile web mereka pada Januari lalu, Bukalapak mampu membukukan margin hingga 69.244.100 kunjungan, alias meningkat 135%.

Penetrasi positif Bukalapak mampu menyalip Lazada yang sebelumnya ada di posisi 2 sebagai e-commerce dengan jumlah pengunjung desktop dan mobile web terbanyak di Indonesia.

Penetrasi Lazada mendominasi regional tapi cenderung lambat di Indonesia

Lazada masih menjadi yang paling populer di Asia Tenggara karena menguasai 25% market share lebih banyak dibandingkan e-commerce lain di regional ini.

Hanya, tahun 2018 agaknya bukan periode yang memuaskan bagi Lazada di Indonesia. Kunjungan konsumen dalam negeri ke situs Lazada Indonesia melalui desktop dan mobile web tergolong fluktuatif sepanjang 11 bulan belakangan.

Padahal, penetrasi e-commerce itu terlihat menjanjikan pada awal tahun berkat akuisisi dan kucuran dana 2miliar dolar dari Alibaba pada bulan Maret.

Lazada juga berjaya menangguk 85 juta kunjungan desktop dan mobile web ketika menggelar Lazada Birthday Fest satu bulan kemudian.

Akan tetapi, pada pertengahan tahun kunjungan di situs e-commerce itu menurun hingga titik terendah, 33 jutaan pengunjung.

Kedatangan Jack Ma ke Indonesia pada pertengahan tahun nyatanya juga tidak mampu mendongkrak ketertarikan orang-orang untuk berinteraksi lebih banyak di Lazada.

Kendurnya kunjungan di situs Lazada semakin kasat mata jika dibandingkan jumlah pengunjung desktop dan mobile web yang berhasil dikumpulkan Shopee sepanjang tahun ini.

Berkaca dari periode awal tahun performa Shopee meningkat hampir 3 kali lipat mampu memangkas jarak dengan Lazada yang ada di peringkat 3 Besar.

Padahal, margin pengunjung Lazada dan Shopee pada Januari berada pada angka 51 juta. Memperbanyak program promosi menjadi senjata utama Shopee dalam memancing konsumen untuk berkunjung ke situsnya.

Menilik Google Trends, minat orang Indonesia mencari kata kunci yang berhubungan dengan Shopee kerap meningkat ketika Shopee mengadakan promo semacam Shopee Super Shopping Day, Singles’ Day, maupun Harbolnas.

Jumlah kunjungan pada situs Shopee yang berlipat dari pasar Indonesia turut berkontribusi untuk bertengger di posisi 10 Besar e-commerce paling banyak dikunjungi pada tingkat regional.

Sekilas mengenai e-commerce di asia tenggara

Tokopedia dan Bukalapak tidak hanya besar di pasar e-commerce Indonesia. Dua rintisan berstatus unicorn itu, bersama Blibli, nyatanya mampu bertengger dalam 10 pemain besar e-commerce Asia Tenggara.

Hal itu terjadi berkat ramainya kunjungan desktop dan mobile web konsumen Indonesia ke masing-masing situs.

Peningkatan jumlah kunjungan yang signifikan dari konsumen lokal tidak hanya didulang Tokopedia dan Bukalapak.

Penetrasi e-commerce lokal Thegioididong dan Tiki yang berasal dari Vietnam juga cukup signifikan di region Asia Tenggara.

Thegioididong yang mengutamakan produk-produk elektronik dalam situsnya mampu mendapatkan rata-rata kunjungan desktop dan mobile web sebesar 29 juta pengunjung sepanjang 11 bulan.

Tiki mengekor di belakangnya dengan rataan capaian 26 juta pengunjung desktop dan mobile web. Secara garis besar, 60 platform e-commerce di Asia Tenggara menunjukkan rata-rata peningkatan 46% jumlah pengunjung dari desktop dan mobile web.

Pencapaian itu sebetulnya telah terprediksi dalam laporan Google terkait cepatnya laju pertumbuhan industri e-commerce di regional tenggara Asia.

5 fakta e-commerce sepanjang 2018

1. Tokopedia & Bukalapak berada di peringkat 3 dan  4 sebagai pelaku e-commerce lokal dengan pengunjung desktop dan mobile web terbanyak di Asia Tenggara, mendekati pemain regional seperti Lazada dan Shopee masih bertengger di posisi 1 dan 2

2. Tokopedia menjadi pelaku e-commerce dengan pengunjung desktop dan mobile web terbanyak di Indonesia sepanjang tahun 2018

3. Bukalapak berada di peringkat ketiga pada Januari 2018 di bawah Lazada. Namun pada April 2018 mereka berhasil menempati posisi kedua

4. Shopee sempat menyalip jumlah pengunjung desktop dan mobile web Lazada pada bulan Agustus. Namun kembali tersalip Lazada pada bulan November. Jika melihat perbandingan kunjungan desktop dan mobile web bulan Januari dan November, selisih jumlah pengunjung Shopee dan Lazada semakin menipis

5. Beragam pesta ulang tahun e-commerce dan gelaran festival jualan memicu minat pencarian (Google Trends) yang cukup masif tapi Lazada Birthday Fest memperoleh animo paling tinggi dibandingkan gelaran e-commerce lain.***

Bagikan: