Pikiran Rakyat
USD Jual 14.311,00 Beli 14.011,00 | Sedikit awan, 21.8 ° C

Pertumbuhan Industri 2019 Melambat

Tia Dwitiani Komalasari
INDUSTRI Otomotif.*/REUTERS
INDUSTRI Otomotif.*/REUTERS

JAKARTA, (PR).- Kementrian Perindustrian menargetkan pertumbuhan industri 2019 sebesar 5,4 persen atau lebih rendah dari target pertumbuhan industri tahun 2018 sebesar 5,6 persen.‎ Perjanjian kerja sama ekonomi dan perdagangan antara Indonesia dan EFTA, diharapkan dapat meningkatkan potensi ekspor terutama alas kaki, ban, perhiasan, dan tekstil.

"Targetnya turun karena kita melihat outlook ke depan dan kita melihat sinkronisasi serta harmonisasi masih membutuhkan langkah-langkah strategis yang perlu dilakukan," ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat pemaparan Kinerja Sektor Industri Tahun 2018 di Jakarta, Rabu 19 Desember 2018.

Sementara kinerja industri tahun 2018 diprediksi sedikit di atas lima persen‎. Hal itu didukung oleh pertumbuhan industri makanan dan minuman, otomotif, dan elektronik.

Dalam kesempatan itu, Airlangga juga menyanggah jika pertumbuhan industri saat ini yang hanya berkisar single digit merupakan tanda deinsutrialisasi. Begitu juga kontribusi industri manufaktur yang saat ini sekitar 20 persen.

Padahal sebelumnya, angka tersebut bisa mencapai 30 persen. Menurut Airlangga, pertumbuhan industri manufaktur sedang memasuki era baru dimana kontribusinya terhadap PDB makin mengecil.

"Kita merupakan rangking lima dunia untuk kontribusi manufaktur pada PDB. Bahkan Tiongkok yang nomor satu pun hanya 28 persen. Saya pikir kita harus menerima realitas baru, sebuah era baru dalam ekonomi," kata dia.

‎Dia mengatakan, pemerintah sudah meluncurkan program Indonesia 4.0 dengan lima prioritas industri. Lima industri prioeitas ini diharapkan bisa memacu tambahan ekspor dan juga meningkatkan tingkat kandungan dalam negeri.

"Pemerintah akan mendorong peningkatan ekspor terhadap industri-industri yang masih punya kapasitas. Kalau industri yang hari ini masih punya kapasitas adalah industri otomotif, industri tekstil,” ucapnya.

Sekertaris Kementrian Perindustrian, Haris Munandar mengatakan diirnya masih optimistis jika pertumbuhan industri bisa mencapai lima persen pada 2018. Hal itu terutama karena adanya peningkatan ekspor yang tajam di beberapa sektor pada akhir tahun.

Dia mengatakan, perang dagang memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kinerja industri. Indonesia sebagai negara berpenduduk besar menjadi rentan terkena gempuran impor barang-barang yang sulit masuk ke Amerika Serikat atau Tiongkok.

"Bisa saja mereka menurunkan harga ke dumping, dari pada barangnya gak laku. Dia jual barangnya yang penting balik modal," ujar Haris.***

 

 

Bagikan: