Pikiran Rakyat
USD Jual 14.393,00 Beli 14.093,00 | Cerah, 17.3 ° C

Harga Minyak Dunia Anjlok, Momentum Tepat Pertamina Turunkan Harga BBM

Ai Rika Rachmawati
PENGISIAN pengisian bahan bakar minyak jenis pertamax di salah satu SPBU di Batam, Kepulauan Riau, Sabtu 8 Desember 2018.*/ANTARA
PENGISIAN pengisian bahan bakar minyak jenis pertamax di salah satu SPBU di Batam, Kepulauan Riau, Sabtu 8 Desember 2018.*/ANTARA

BANDUNG, (PR).- Pasokan yang melimpah membuat harga minyak mentah kembali anjlok menyentuh level terendah sejak ­Oktober 2017. Pada Selasa 18 Desember 2018, harga minyak mentah jenis brent dan light sweet (WTI) ­kembali melanjutkan penurunan ­harga, setelah ditutup melemah pada ­perdagangan hari ­sebelumnya.

Pada perdagangan Selasa 18 Desember 2018 pukul 12.27 harga minyak mentah jenis brent turun sebesar 1,46% ke level 58,7 dolar Amerika Serikat per barel. Sementara harga minyak mentah WTI turun 1,4% ke level 49,18 dolar/barel.

Pada penutupan perdagangan hari sebelumnya, Senin 17 Desember 2018, harga minyak mentah WTI anjlok hingga 2,58%. Sementara harga minyak mentah brent turun sebesar 1,1%.

Pengamat ekonomi dari Universitas Pasundan (Unpas) Acuviarta Kartabi memprediksi, penurunan harga mi­nyak mentah masih akan berlanjut hingga awal tahun depan.

Menurut dia, harga minyak mentah bisa diperjualbelikan di kisaran 50 dolar per barel, bahkan di bawah itu untuk WTI.

”Titik terendah untuk brent ke­mungkinan besar bisa menyentuh 50 dolar per barel,” tuturnya.

Ia menilai, selain melimpahnya pasokan minyak mentah, merosotnya harga minyak mentah juga disebab­kan keraguan terhadap pertumbuhan ekonomi global. Apalagi, perang dagang antara Tiongkok dan AS sudah memangkas laju pertumbuhan ekonomi mereka.

”Biasanya pada musim dingin se­perti ini, permintaan minyak mentah Amerika Serikat dan Eropa tinggi dan harga me­lambung. Dengan turunnya harga mi­nyak saat ini mengindikasikan bahwa harga ini akan bertahan paling tidak hingga awal tahun depan,” ujarnya.

Momentum tepat

Ia menilai, ini menjadi momentum tepat bagi pemerintah untuk mengambil kebijakan penurunan harga bahan bakar minyak (BBM). Pemerintah didorong agar cepat tanggap guna memberikan stimulus bagi perekonomian nasional.

”Pemerintah harus segera menurunkan harga BBM untuk member­ikan insentif bagi perekonomian nasional. Apalagi, defisit neraca berja­lan Indonesia sudah semakin lebar,” ujarnya.

Seperti diketahui, hingga September lalu defisit neraca berjalan Indonesia sudah mencapai 22 miliar dolar. Padahal pada akhir tahun lalu defisit neraca berjalan tercatat sebesar 17 miliar dolar.

Penurunan harga minyak mentah akan menurunkan tekanan terhadap valas. Kondisi ini dinilai Acuviarta sebagai momentum tepat untuk me­mompa perekonomian.

”Jangan lupa, pada akhir tahun kita berhadapan dengan kenaikan inflasi karena adanya Natal, tahun baru, dan liburan sekolah. Penurunan harga BBM bisa mengerem laju inflasi akhir tahun” ujarnya.

Selain itu, para pesaing SPBU Pertamina sudah terlebih dahulu menurunkan harga BBM nonsubsidi. ­SPBU yang dikelola Total telah me­nurunkan harga BBM jenis Performance 92 yang awalnya seharga Rp 11.050/liter menjadi Rp 10.800/liter.

Lalu, Total juga menurunkan harga pada jenis performance 95 yang awalnya Rp 12.500/liter menjadi Rp 12.300/liter. Terakhir Total menurunkan harga pada jenis Performan­ce 90 yang tadinya Rp 10.250 menjadi Rp 9.900.

Sementara itu, Shell telah menurunkan harga bahan bakarnya. Shell menurunkan harga bahan bakar jenis reguler atau setara dengan BBM oktan 90 yang awalnya Rp 10.550/­liter turun menjadi Rp 10.000/liter. Untuk Jenis Shell Super, dan Shell V Power harga tidak turun.***

Bagikan: