Pikiran Rakyat
USD Jual 14.240,00 Beli 13.940,00 | Sedikit awan, 23.6 ° C

Tahun 2019, Sekira 164.000 Rumah Kesulitan Bayar Listrik

Yusuf Wijanarko
Listrik.*/DOK. PR
Listrik.*/DOK. PR

JAKARTA, (PR).- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM menyebut, 164.000 rumah diprediksi kesulitan membayar biaya sambungan listrik pada 2019.

Data dari Kementerian ESDM menunjukkan, kesulitan pembayaran tersebut didapat dari laporan Perusahaan Listrik Negara (PLN) terkait sambungan listrik.

Menteri ESDM Ignasius Jonan sempat memberikan solusi yaitu berkoordinasi dengan Kementerian BUMN dalam memberikan bantuan kemudahan bagi masyarakat yang kesulitan membayar biaya sambungan listrik.

"PLN lapor ke saya, tahun depan kurang 164.000 rumah yang mungkin berat untuk membayar sambungan listrik. Nanti kami cari cara, Bu Rini Soemarno (Menteri BUMN) misalnya, menggerakkan BUMN-BUMN, apakah CSR atau promosi atau apa namanya yang diizinkan, kita sama-sama. Kami (ESDM) pasang Lampu Tenaga Surya Hemat Energi," kata Ignasius Jonan.

Selain itu, Kementerian ESDM juga tetap membagikan Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) sebagai program praelektrifikasi sebelum jaringan listrik PLN masuk ke rumah-rumah tak berlistrik. Demikian dilaporkan Antara.

Setelah wilayah Indonesia teraliri listrik seluruhnya, Ignasius Jonan mengungkapkan, langkah Pemerintah selanjutnya adalah intensifikasi atau meningkatkan konsumsi listrik seiring tumbuhnya perekonomian nasional.

Tercatat, hingga kuartal III 2018, konsumsi listrik nasional sebesar 1.048 kilowatt hour (kWh) per kapita.

Sementara itu, untuk tarif tenaga listrik, pemerintah juga menetapkan tidak ada kenaikan tarif tenaga listrik hingga 2019 mendatang.

"Pertimbangannya karena menjaga daya beli. Presiden selalu mengatakan, coba lihat daya beli masyarakat. Itu saja," katanya.

Ignasius Jonan mengungkapkan, saat ini rasio elektrifikasi mencapai 98,1 persen sudah melebihi target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2019 sebesar 97,5 persen. Namun, masih ada sekitar 2 persen atau lebih dari 5 juta masyarakat yang belum menikmati penerangan.

Tantangan untuk menuju rasio elektrifikasi 99,9 persen juga tidaklah mudah, diperlukan kesungguhan untuk mencapai target tersebut, mengingat wilayah yang harus dilistriki berada di wilayah yang terpencil dan sulit dijangkau.

"Cara untuk mencapainya, terutama untuk menjangkau tempat-tempat terpencil adalah dengan kerja sungguh-sungguh. Tantangannya besar. Salah satu tantangan terbesarnya adalah kapasitas tenaga kerja, karena ini banyak sekali, sehingga tantangan tenaga kerjanya juga besar," ujarnya.

Tantangan berikutnya adalah pendanaan. Untuk pendanaan, Ignasius Jonan telah mengusulkan kepada DPR agar PT PLN memperoleh Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk melakukan penyambungan gratis ke rumah tangga tidak mampu.

"Tantangan yang kedua adalah mengenai anggaran. Kamimengusulkan ke DPR, kalau boleh ada PMN untuk PLN. Uangnya digunakan khusus untuk penyambungan ke rumah tangga yang kurang mampu, yang bayar sambung listriknya tidak mampu, mungkin bayar listriknya hanya Rp50 ribu, Rp60 ribu sebulan, sementara biaya sambung listriknya setengah juta sampai satu juta rupiah, ini berat. Kami usul dan akhirnya dapat, tapi tidak penuh," katanya.***

Bagikan: