Pikiran Rakyat
USD Jual 14.068,00 Beli 13.768,00 | Langit umumnya cerah, 15.5 ° C

Fintech Bisa Jadi Jawaban Peningkatan Inklusi Keuangan 75%

Yulistyne Kasumaningrum
Fintech.*/DOK. PR
Fintech.*/DOK. PR

BANDUNG, (PR).- Target pemerintah yang mematok inklusi finansial di angka 75% dapat direalisasikan dengan memaksimalkan peranan dari perusahaan financial technology atau fintech.

Apabila hanya meng­andalkan layanan jasa keuang­an konvensional target tersebut terlalu ambisius mengingat angka peningkatan indeks inklusi keuangan Indonesia selama 3 tahun terakhir berkisar 13%. Sementara itu, ber­da­sarkan data dari World Bank, indeks inklusi keuangan di ­Indonesia pada 2017 baru se­kitar 48%.

”Dengan asumsi pertumbuhan pada waktu sebelumnya, ada gap 16% dari target 75%. Gap angka tersebut setara dengan 35 juta orang penduduk yang unbanked,” ujar Staf Khusus Menteri Kominfo Lis Sutjiati, Doctorate Business Issue Forum 2018 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran ”Financial Tech­nology di Era Digital Eko­nomi Peluang dan Tantangan” di Bandung, akhir pekan lalu.

Lis menjelaskan, gap tersebut terjadi karena ada keterbatasan yang dihadapi perusahaan jasa keuangan konvensional meski dengan berbagai saluran yang dimiliki. Namun menariknya, jumlah penduduk yang termasuk dalam kategori belum tersentuh tersebut sekitar 69% memiliki telefon se­luler pribadi, sehingga saluran digital dapat menjadi solusi.

”Di sini fintech berperan mengambil market yang be­lum tersentuh untuk mencapai target tersebut. Fintech dan lembaga keuangan konvensional harusnya bekerja sama, bukan berkompetesi karena memang marketnya terlalu besar,” kata Lis.

Dipaparkan, saat ini pengguna jumlahnya sudah mencapai 30 juta dengan total peminjam pa­da layanan P2P Lending 2 ju­ta orang, channel offline mencapai 3 juta agen, serta la­yanan yang telah menjangkau 150 kabupaten/kota di Indonesia.

Luar biasanya market fintech di Indonesia juga diungkapkan Asisten Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran  Bank Indonesia Yosamartha.

Menurut dia, pa­sar Indonesia yang besar belum sepenuhnya tergarap oleh sektor keuangan formal yang sekaligus menunjukkan besarnya potensi yang dapat digarap oleh Fintech.

Dipaparkan, pangsa kredit terhadap PDB baru 34,77% mencerminkan besarnya po­tensi pasar yang dapat disasar fintech (P2P Lending), tanpa harus menggerus pangsa pasar perbankan. Kemudian, populasi unbanked yang besar dipadu oleh akselerasi income kelas menengah menunjukkan tingginya potensi pasar dan relatif longgarnya sebaran infrastruktur fisik (khususnya jaringan kantor cabang) perbankan di Indonesia ketimbang Eropa.

”Pasar kita luar biasa yang terbaik di dunia. Penyelenggara fintech harus mampu memberikan solusi di ma­sya­rakat. Bukan kepada seberapa besar meraup masyarakat, te­tapi memberikan solusi kepada masyarakat,” ujarnya.

Director of IT and Operation BRI  Indra Utoyo mengatakan, ada dua hal yang mendorong perkembangan fintech, yakni masyarakat tidak dapat dilayani industri keuangan tradisional karena perbankan ter­ikat aturan yang ketat dan ke­terbatasan melayani masya­rakat di daerah tertentu.

Kemudian, masyarakat mencari alternatif pendanaan selain jasa industri keuangan tradisional karena masyarakat me­merlukan alternatif pembia­ya­an yang lebih demokratis dan transparan dan biaya la­yan­an keuangan yang efisien dan menjangkau masyarakat luas.

”Potensi pengembangan fintech di Indonesia sangat besar. Fintech sangat dibutuhkan oleh Indonesia untuk finansial inklusi, memajukan UMKM, serta mendukung pesatnya perkembangan e-commerce,” ujarnya.***

Bagikan: