Pikiran Rakyat
USD Jual 14.393,00 Beli 14.093,00 | Umumnya cerah, 27.9 ° C

Ekspor dan Impor Menurun, Indonesia Telah Melewati Defisit Neraca Perdagangan Terburuk 2018

Tia Dwitiani Komalasari
PEKERJA menggiling kedelai impor untuk diolah menjadi tahu di Jakarta Selatan, Jumat 16 November 2018 . Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit neraca perdagangan Indonesia pada November terburuk pada 2018. */ANTARA FOTO
PEKERJA menggiling kedelai impor untuk diolah menjadi tahu di Jakarta Selatan, Jumat 16 November 2018 . Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit neraca perdagangan Indonesia pada November terburuk pada 2018. */ANTARA FOTO

JAKARTA, (PR).- Neraca perdagangan Indonesia November 2018 mengalami defisit bulanan terparah‎ pada tahun ini yaitu sebesar -2,05 miliar Dolar AS. Dengan demikian, totak defisit neraca perdagangan Januari-November 2018 mencapai -7,5 miliar Dolar AS.

Kepala Badan Pusat Statistik, Suhariyanto mengatakan defisit neraca perdagangan tersebut dipengaruhi oleh penurunan ekspor sebesar 13,4 miliar Dolar AS atau 6,25 persen dibandingkan Oktober 2017. ‎Sementara dibandingkan priode yang sama tahun lalu, terjadi juga penurunan ekspor sebesar 6,69 persen atau 14,83 miliar Dolar AS.

Penurunan ekspor terjadi di sektor migas dan industri pengolahan. "Penurunan terbesar dipengaruhi oleh ekspor perhiasa‎n, CPO, bahan komoditas seperti batu bara," ujar dia saat konferensi pers di Jakarta, Senin 17 Desember 2018.

Sementara impor Indonesia juga mengalami penurunan sebesar 4,47 persen atau 16,88 miliar Dolar AS dibandingkan Oktober 2018.‎ Namun jika dibandingkan periode yang sama 2017, terjadi kenaikan impor sebesar 11,68 persen.

Harga komoditas andalan menurun

‎Dia mengatakan, pergerakan ekspor November tahun ini berada di bawah tahun sebelumnya. Namun bila dilihat secara umuam dari Januari-November 2018, tren pergerakan ekspor masih berada di atas 2017.

"Karena itu saya sampaikan, ekspor kita tumbuh lumayan bagus. Terutama kalau bisa melihat pertumbuhan ekonomi global yang kurang bagus. Selain itu harga komoditas andalan utama Indonesia juga mengalami penurunan seperti karet, bubur kertas (pulp), dan sawit," ujar dia.

Suhariyanto mengatakan, pemerintah perlu menggenjot pasar ekspor untuk menyeimbangkan pertumbuhan impor. Namun dia mengakui untuk menggenjot pasar ekspor memang membutuhkan waktu. ***

Bagikan: