Pikiran Rakyat
USD Jual 14.426,00 Beli 14.126,00 | Umumnya berawan, 24.4 ° C

Tanpa Modal di Usia Senja, Arang Batok Buatan Dayat Sampai ke Korea

Handri Handriansyah
Arang Batok/HANDRI HANDRIANSYAH/PR
Arang Batok/HANDRI HANDRIANSYAH/PR

 

BENTANGAN Sungai Citarik Baru, boleh saja memisahkan wilayah Kecamatan Rancaekek di Desa Sukamanah dengan Kecamatan Solokanjeruk di Desa Solokanjeruk, Kabupaten Bandung. Namun batas wilayah itu tak menghalangi Dayat Hidayat (60) untuk meraih impiannya menjadi seorang wirausahawan sukses di usia senjanya

Rumah Dayat berada di wilayah Desa Sukamanah. Namun tanah peninggalan orang tua seluas 500 meter persegi yang kini menjadi tempat usahanya, berlokasi di Desa Solokanjeruk. 

Tekad yang kuat membuat Dayat mampu mengalahkan kendala jarak itu. Ia pun rela bersakit-sakit tinggal sendiri di gubuk kecil yang ia dirikan di tanah peninggalan orang tuanya itu demi merintis usaha arang batok.

"Awalnya saya tidak punya modal kecuali lahan ini. Saya berjuang selama setahun di sini dan hanya sesekali ditengok oleh anak dan istri yang tinggal di rumah," tutur Dayat saat ditemui di tempat usahanya, Minggu 16 Desember 2018.

Bukan hanya tanpa modal, tetapi langkah Dayat pun terbilang cukup berani. Soalnya ketika ia memulai usaha delapan tahun lalu, seluruh pabrik arang batok di sekitarnya justru satu per satu gulung tikar.

Dayat yakin, modal dan kegagalan orang lain bukanlah hal yang perlu ditakuti. "Justru saya tertantang untuk membuktikan bahwa tanpa modal pun usaha bisa dijalankan asal ada keinginan dan tak perlu takut melihat orang lain bangkrut," ucapnya.

Benar saja, Dayat hanya mengandalkan kegigihan untuk mengumpulkan sisa-sisa batok kelapa pemberian dari pedagang di sejumlah pasar yang ia datangi setiap pagi. Siang hingga malam, ia kemudian membakar batok-batok tersebut sampai menjadi arang.

Selama setahun ia mengumpulkan hasil kerja kerasnya itu untuk membangun tungku dan memperbesar gubuknya. "Saya waktu itu hanya mengandalkan makan dari istri saya yang masih bekerja di pabrik," katanya.

Meskipun demikian, kesibukan sang istri tak jarang membuat Dayat harus menunggu kedatangannya berselang hari. Saat itu terjadi, Dayat terpaksa harus menahan lapar karena seharian tak makan.

Meski usianya sudah lebih dari setengah abad, kegigihan Dayat ternyata berbuah manis. Ia pun mendapat permintaan arang batok dari sejumlah pemilik pabrik di wilayah Rancaekek.

"Kebetulan yang punya pabrik itu orang Korea. Dia butuh banyak arang batok untuk dibawa ke Korea guna menyalakan perapian saat musim dingin karena keluarganya tinggal di daerah bersalju," kata Dayat.

Mendapat pesanan dalam jumlah besar, Dayat pun memberanikan diri untuk merekrut sepuluh pegawai. Namun niat baik itu tak menjadi beban produksi, tetapi justru membuka pintu rezeki semakin lebar.

Dari tahun ke tahun permintaan terus meningkat dan keuntungan bersih yang semula hanya Rp 3 juta naik menjadi sedikitnya Rp 10 juta per bulan. Namun ia tetap belum mau sepenuhnya menikmati hasil itu.

"Saya investasikan sebagian besarnya untuk mencicil tiga mobil pick up karena memang dibutuhkan untuk angkut hasil produksi ke konsumen. Untuk makan hanya sebagian kecil saja karena istri saya sudah keluar dari tempat kerjanya dan sepenuhnya membantu saya di sini," tutur Dayat.

Meskipin demikian, cicilan mobil pick up tersebut hanya tinggal menyisakan tempo dua tahun. Artinya, dua tahun ke depan Dayat sudah bisa menikmati keuntungan bersih sedikitnya Rp 10 juta per bulan.

Kesuksesan itu terbilang sangat cemerlang mengingat Dayat memulainya tanpa modal. Apalagi ia hanya lulusan SMP yang hanya sempat bekerja serabutan dan memulai wirausaha seorang diri di usia senja.***

Bagikan: