Pikiran Rakyat
USD Jual 14.286,00 Beli 13.986,00 | Cerah berawan, 26.9 ° C

Harga BBM Akan Naik Usai Pemilu 2019?

Tia Dwitiani Komalasari
MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan (kiri) didampingi Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Tengah PT PLN (Persero), Amir Rosidin, meninjau Pusat Pengatur Beban (P2B) Area Pengatur Beban (APB) Jawa Tengah dan DIY PLN di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Kamis 13 Desember 2018.*/ANTARA FOTO
MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan (kiri) didampingi Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Tengah PT PLN (Persero), Amir Rosidin, meninjau Pusat Pengatur Beban (P2B) Area Pengatur Beban (APB) Jawa Tengah dan DIY PLN di Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Kamis 13 Desember 2018.*/ANTARA FOTO

JAKARTA, (PR).- Pemerintah diprediksi akan melakukan penyesuain harga BBM dan listrik setelah Pemilu 2019. Sebab ‎harga minyak dunia saat ini terlalu tinggi bila dibandingkan dengan harga BBM di Indonesia.

Chief Economist and Investment Stratefist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Katarina Setiawan, mengatakan sebagian besar investor dan analis sudah banyak yang memperkirakan akan ada kenaikan BBM setelah Pemilu selesai. "Sekarang pemerintah melakukan upaya untuk menahan harga BBM. Tapi berapa lama lagi bisa kuat?"ujar dia saat konferensi pers di Jakarta, Kamis 13 Desember 2018.

Meskipun demikian, dia memprediksi kenaikan harga BBM tersebut tidak sebesar yang diperkirakan ebelumnya. Sebab akhir-akhir ini harga minyak dunia sudah kembali turun.

‎Menurut Katarina, kenakan harga BBM biasanya akan mempengaruhi daya beli masyarakat. Dengan demikian, sektor konsumsi menjadi yang paling terdampak dari kenaikan harga tersebut.

Meskipun demikian, dia mengatakan, pemerintah telah melakukan beberapa langkah kebijakan untuk menyeimbangkan kenaikan harga BBM tersebut. Beberapa kebijakan tersebut diantaranya adalah dana bansos yang dinaikan juga transfer dana desa. "Itu merupakan penopang daya beli. Jadi sektor konsumen tidak berdampak kalau dinaikan," kata dia.

Selain itu, Katarina menambahkan, kenaikan upah yang cukup signifikan juga membantu daya beli masyarakat. Begitu juga dengan nilai tukar Rupiah yang diprediksi  cukup lebih stabil di 2019 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. "Jadi imported price ‎tidak akan lebih tinggi tahun ini," ujar dia.

Tahun pemilu, biasanya saham menguat

Dia menambahkan, pemilu legislatif dan presiden akan menciptakan dinamika tersendiri. Meskipun demikian secara historis di tahun pemilu, pasar saham Indonesia cenderung menguat ditopang oleh ekspektasi ekonomi yang dapat berkontribusi positif bagi dunia usaha dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.‎ "Kebijakan populis yang biasa diluncurkan menjelang pemilu juga dapat meningkatkan aktivitas ekonomi," ujar dia.

Director and Chief Investment Officer, Fixed Income MAMI, Ezra Nazula, mengatakan pasar obligasi justru cenderung akan lebih positif jika harga BBM menyesuaikan dengan harga minyak dunia. "Karena selama ini minvestor terus melihat bahwa investasi rendah yang terjadi belum real sepenuhnya. Kalau BBM dinaikan mereka bisa memperhitungkan lagi langkah-langkah yang disesuaikan dengan langkah wajar," ujarnya.

Ezra mengatakan,‎ tekanan pasar obligasi ‎ di tahun 2019 sudah jauh berkurang. Fundamental ekonomi sudha terjaga dengan langkah pre emtif pemerintah dan Bank Indonesia untuk memperbaiki postur fiskal. 

"Defisit neraca berjalan dan volatilitas nilai tukar rupiah akan mendapta respon positif dari investor. Hal ini terlihat dari akumulasi asing atas obligasi pemerintah Indonesia sebesar Rp 50 triliun yang terjadi di kuartal ke emap tahun 2018 per akhir bulan November," ujar dia.***

Bagikan: