Pikiran Rakyat
USD Jual 14.393,00 Beli 14.093,00 | Cerah, 17.3 ° C

Ongkos Produksi Naik akibat Kondisi Global, Pertumbuhan Industri Mamin Melandai

Tia Dwitiani Komalasari
TIM terpadu Pemerintah Kota Cimahi melakukan sidak di salah satu toko modern di Jalan Amir Machmud, Kota Cimahi, Rabu, 29 Agustus 2018.*
TIM terpadu Pemerintah Kota Cimahi melakukan sidak di salah satu toko modern di Jalan Amir Machmud, Kota Cimahi, Rabu, 29 Agustus 2018.*
JAKARTA, (PR).- Pertumbuhan industri makanan dan minuman diprediksi akan melandai pada 2019. Biaya produksi yang naik pada 2018, membuat pelaku industri makanan dan minuman akan menaikan harga jual produknya rata-rata sekitar lima persen pada akhir tahun.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Adhi S Lukman mengatakan ada kondisi ekonomi global menyebabkan biaya produksi menjadi naik. Akibatnya keuntungan yang didapatkan oleh industri makanan dan minuman menjadi sangat tipis saat ini.

Menurut Adhi, perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok menyebabkan produk-produk dari negeri tirai bambu menjadi lebih mahal jika masuk ke negara paman Sam. Akibatnya mereka menjadi sedikit kalah saing. Kondisi itu memaksa industri Tiongkok untuk mengalihkan penjualannya ke negara lain.

"Biar bagaimana pun mereka kan harus jualan, sementara di Asia Tenggara, Indonesia merupakan pasar yang empuk dengan jumlah penduduknya yang besar. Tidak heran jika sekarang kita banyak digempur barang impor Tiongkok,"ujar dia di Jakarta, Minggu 9 Desember 2018.

Padahal lebih dari 90 persen produk industri makanan dan minuman Indonesia dipasarkan di dalam negeri. Banyaknya produk impor menimbulkan persaingan bagi produk makanan dna minuman lokal. "Apalagi bea masuk ke Indonesia nol persen," ujar dia.

Meskipun demikian, menurut Adhi, yang paling banyak mempengaruhi melambatnya pertumbuhan adalah kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia. Hal itu menyebabkan ongkos pinjaman untuk produksi menjadi bertambah. "Ini yang lebih banyak menyebabkan margin pengusaha menjadi menipis," ujar dia.

Adhi mengatakan, ‎pertumbuhan industri makanan dan minuman di 2019 diprediksi akan sedikit berada di bawah tahun ini yaitu sekitar 8-9 persen. Sementara pertumbuhan tahun ini diprediksi sekitar 9,2 persen. "Tapi dengan catatan, marginnya banyak yang rendah tahun ini," ujar dia.

Pelemahan nilai tukar Rupiah juga menyebabkan biaya produksi menjadi semakin tinggi. Hal itu memicu industri makanan dan minuman untuk menaikan harga jual produknya pada awal tahun. "Kenaikannya tergantung masing-masing industri, tapi saya perkirakan sekitar lima persen," ujar dia.

Sebelumnya Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Haryadi Sukamdani memprediksikan pertumbuhan ekonomi 2019 sebesar 5,2 persen. Hal itu lebih rendah dari proyeksi pemerintah sebesar 5,3 persen.

Menurut Haryadi, ketidakpastian ekonomi global menimbulkan tekanan pada dunia usaha. Hal itu terutama perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat‎. "Saat ini memang ada gencatan senjata selama 90 hari antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Namun kan belum ada kesepakatan lebih lanjut," ujar dia.

Selain itu, Haryadi memprediksi kinerja kabinet yang tidak akan produktif pada tahun politik 2019. "Sampai April, tidak akan ada kebijakan yang berarti. Kabinet diprediksi baru bekerja efektif pada Oktober 2019," tuturnya.‎***
Bagikan: