Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Cerah berawan, 28.4 ° C

RI Seharusnya Jadi Destinasi Mancing Kelas Dunia

Satrio Widianto
KETUA Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari Kementerian Pariwisata Dwisuryo Indroyono Soesilo menyampaikan pemaparan kepada wartawan, Senin (3/12/2018).*
KETUA Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari Kementerian Pariwisata Dwisuryo Indroyono Soesilo menyampaikan pemaparan kepada wartawan, Senin (3/12/2018).*
JAKARTA, (PR).- Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari Kementerian Pariwisata Dwisuryo Indroyono Soesilo menyatakan, Indonesia sebagai negara maritim yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia (archipelagic state), memiliki potensi menjadi destinasi wisata mancing terbaik sedunia. Oleh karena itu, perlu usaha bersama lebih keras untuk menjadikan potensi itu menjadi keuntungan ekonomi
Indroyono memberi gambaran bahwa di Amerika Serikat potensi itu sudah dioptimalkan, dan menjadikan kegiatan mancing sebagai salah satu sumber pendapatan yang besar. Oleh karena itu sebagai upaya mewujudkan potensi tersebut, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) bekerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) meluncurkan Indonesia Fishing Tournament/Festival 2018 di gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata, Jakarta, Senin 3 Desember 2018.
Sebagai ajang pertama dalam event Indonesian Fishing Tournament/Festival (IFTF) 2018 akan dilaksanakan di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, dalam waktu dekat ini. “Panitia telah menetapkan zona pemancingan di Banggai itu pada latitude 1º 33.302’ s dan longitude 122º38.512’e. Zona yang sudah kita petakan ini untuk memberikan kepastian bagi wisatawan dan pemangku kepentingan lainnya sebagai zona memancing serta akan dipromosikan sebagai destinasi wisata memancing,” kata Indroyono.
Indroyono mengapresiasi launching IFTF 2018 yang akan menjadi genderang awal bahwa Kemenpar dan instansi terkait lain mulai mengembangkan wisata mancing sebagai salah satu kegiatan yang dapat memberikan nilai ekonomi serta pemasukan devisa dari kegiatan pariwisata.
Saat ini pemerinah juga mulai memetakan destinasi-destinasi yang belum termanfaatkan oleh kegiatan wisata bahari lain seperti diving, kayaking, snorkeling, surfing atau pemanfaatan perikanan lain sebagai destinasi mancing nasional. “Untuk mendukung dalam mewujudkan Indonesia sebagai desinasi wisata macing kelas dunia, saat ini Kemenpar bersama KKP tengah melakukan finalisasi draf Pedoman Wisata Memancing (Recreational Fishing),” kata Indroyono Soesilo.
Kegiatan wisata memancing, sebagaimana diamanatkan Undang-undang Pariwisata No.10 Tahun 2009, adalah salah satu produk wisata bahari. Namun, dalam perkembangannya wisata memancing tertinggal dengan wisata menyelam (diving). Wisata diving telah dipetakan destinasinya di seluruh Tanah Air dan sejumlah spot diving telah ditetapkan sebagai kelas dunia. Wisata diving juga telah gencar dipasarkan dan dipromosikan ke mancanegara.
Seperti diketahui, Indonesia tahun lalu menggelar turnament mancing internasional yaitu Widi Internasional Fishing Tournament (WIFT) 2017 yang berlangsung di Pulau Widi, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Turnamen WIFT 2017 yang berlangsung pada Oktober 2017 ini mengikuti standar internasional yang ditetapkan oleh Internasional Game Fish Association (IGFA) dan The Billfish Foundation (TBF).
Turnamen WIFT 2017 yang memperebutkan Piala Presiden ini diikuti sekitar 1.500 peserta, 175 di antaranya dari mancanegara antara lain Jepang, Australia , Malaysia, Singapura, , Filipina, Thailand, Amerika, dan Eropa.Turnamen hasil kolaborasi Kemenpar, KKP, Pemprov Maluku Utara, dan para komunitas pemancing Indonesia itu berhasil mengangkat Pulau Widi sebagai destinasi mancing kelas dunia. Pulau Widi dikenal sebagai sarang ikan tuna gigi anjing atau dogtooth tuna dan ikan jenis ini paling banyak diburu para penghobi atau maniak mancing dari seluruh dunia.***
Bagikan: