Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Cerah berawan, 28.4 ° C

Pembiayaan Perumahan 2019 Diperkirakan Melambat

Tia Dwitiani Komalasari
PEKERJA menyelesaikan pembangunan rumah di salah satu perumahan di Jalan Ciawitali, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, Selasa, 18 September 2018.*
PEKERJA menyelesaikan pembangunan rumah di salah satu perumahan di Jalan Ciawitali, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, Selasa, 18 September 2018.*

YOGYAKARTA, (PR).- Penyaluran pembiayaan perumahan terkendala oleh tingkat suku bunga acuan yang tinggi pada tahun 2019. Kondisi itu menyebabkan pertumbuhan  penyaluran pembiayaan perumahan di tahun tersebut diperkirakan tidak‎ sebaik 2018.

"Tetap tumbuh tapi diperkirakan tidak sebaik tahun ini. Namun angka pastinya (target kinerja) saya belum bisa bocorkan,"ujar ‎ Direktur Utama PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) Ananta Wiyogo, saat pemaparan kinerja perusahaan di Yogyakarta, Jumat malam 30 November 2018.

D‎ia mengatakan, faktor tahun politik tidak terlalu berpengaruh pada penyaluran pembiayaan. Kendala terbesar terletak pada suku bunga kredit yang semakin tinggi. 

Seperti diketahui sejak Januari sampai November 2018, Bank Indonesia telah menaikan suku bunga acuannya sebesar 175 basis poin. Kebijakan Bank Sentra Amerika Serikat yang akan menaikan suku bunga acuannya ‎sebanyak dua sampai tiga kali di tahun depan, diprediksi mendorong BI kembali melakukan hal yang sama. 

Perumahan Milenial



Ananta mengatakan, generasi milenial sebenarnya merupakan pasar paling besar untuk proprerti. Meskipun demikian, dia mengakui perlu terobosan untuk menggaet pasar tersebut. Sebab, rata-rata belanja dan status kepemilikan rumah keluarga milenial di kota-kota besar cenderung rendah.

"Lebih dari 50 persen pengeluaran keluarga milenial adalah untuk keperluan konsumsi. Mereka lebih suka mengambil kredit tiket liburan daripada menyisihkan pendapatannya untuk membeli rumah,"ujar dia.

Selain itu, Ananta mengatakan, kenaikan penghasilan tidak dapat menutupi kenaikan harga rumah. Saat ini rata-rata kenaikan harga rumah di Indonesia 17 persen. Sementara kenaikan upah minimum regional di seluruh Indonesia kurang dari 10 persen per tahun.

"Secara Best practice, idealnya harga rumah yang dibeli maksimal tiga kali penghasilan tahunan. Apabila rumah seharga Rp 600 juta, maka harus memiliki penghasilan Rp 200 juta per tahun atau Rp 16 juta per bulan,"ujar dia.

Oleh sebab itu, Ananta menambahkan, perlu ditanamkan pandangan pada generasi milenial tentang pentingnya segera memiliki rumah. "Semakin menunda kepemilikan rumah, makan penghasilan‎ yang diperoleh semakin tidak cukup,"ujar dia.

Sementara itu Direktur SMF, Heliantopo, mengatakan pihaknya telah mengalirkan dana ke penyalur KPR secara kumulatif sebesar Rp 45,34 triliun. Dana tersebut terdiri dari sekuritisasi Rp 10,16 triliun dan penyaluran pinjaman sebesar Rp 35,18 triliun. Dana tersebut telah membiayai 753 debitur di seluruh Indonesia.

Dalam menyalurkan dana, SMF juga telah melakukan program inisatif strategis yaitu program penurunan beban fiskal, program pembiayaan homestay di destinasi wisata, program pengembangan rumah di daerah kumuh, dan program kredit perumahan pasca bencana. "Untuk program pasca bencana sudah mulai dilakukan di Nusa Tenggara Barat. Nilai pembiayaan program tersebut Rp 300 miliar untuk 3 ribu debitur,"ujar dia. ***

Bagikan: