Pikiran Rakyat
USD Jual 14.095,00 Beli 14.193,00 | Cerah berawan, 28.5 ° C

Kebijakan Pemerintah Ini Bikin Produk Tekstil Indonesia Kalah Saing

Tia Dwitiani Komalasari
AKTIVITAS di sebuah pasar produk tekstil Kota Bandung, Selasa (26/5/2015). Lesunya pasar dan naiknya biaya produksi membuat industri tekstil Jawa Barat, terutama di Majalaya terancam tutup dan ribuan karyawan terancam kehilangan pekerjaan.*
AKTIVITAS di sebuah pasar produk tekstil Kota Bandung, Selasa (26/5/2015). Lesunya pasar dan naiknya biaya produksi membuat industri tekstil Jawa Barat, terutama di Majalaya terancam tutup dan ribuan karyawan terancam kehilangan pekerjaan.*

JAKARTA, (PR).- Kebijakan anti dumping di sektor hulu dinilai menjadi penyebab rendahnya daya saing produk tekstil Indonesia. Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ade Sudrajat mengatakan, kebijakan yang membuat harga terlampau tinggi ini berdampak pada beralihnya pasar tekstil Indonesia kepada produk impor, terutama dari Tiongkok.

Kebijakan anti dumping pada produk serat setidaknya telah diterapkan pemerintah sejak 10 tahun. Anti dumping membuat harga bahan baku serat menjadi tinggi, padahal serat merupakan bahan baku seluruh produk tekstil.

"Otomatis harga produk hilirisasi tekstil jadi kita menjadi mahal dan kalah saing dengan produk impor yang hargnya lebih murah. Produk-produk hilirisasi tersebut diantaranya pakaian jadi, kain, rajut, dan pemintalan," ujar Ade saat dihubungi "PR" di Jakarta,  Jumat 30 November 2018.

Ade menyayangkan rencana pemerintah yang akan memperpanjang kembali kebijakan anti dumping tersebut pada akhir tahun ini.

"Sudah tau salah, malah diperpanjang lagi," katanya.

Menurut dia, produk impor asal Tiongkok sudah menguasai hampir 70 persen pasar domestik‎ Indonesia. Sementara produk tekstil Indonesia di pasar domestik, hanya menguasai kurang dari 30 persen. 

"Memang sebagian produk impor ada dari Thailand dan Korea, namun paling banyak tetap dari Tiongkok," ucap dia.

Di tempat terpisah, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartarti, mengatakan‎ perang dagang menyebabkan barang dari Tiongkok banyak yang tidak bisa masuk Amerika Serikat. Akibatnya, barang-barang itu masuk ke pasar negara lainnya, termasuk di Indonesia.

Di sisi lain, Enny menilai kondisi tersebut sebenarnya bisa menjadi peluang bagi negara lain. Barang dari Tiongkok tersebut sebenarnya tetap diekspor ke Amerika Serikat, namun melaui negara ketiga.

"Kalau yang melakukan ekspor negara lain kan tetap bisa masuk Amerika. Sayangnya barang-barang yang dieskpor tersebut justru tidak masuk ‎ke Indonesia, melainkan direbut oleh Thailand dan Vietnam," kata Enny.

Dia mengatakan, pemerintah seharusnya menerapkan kebijakan yang bisa mendapatkan peluang tersebut. Sebab hal itu bisa meningkatkan jumlah ekspor Indonesia. ‎

"Sayangnya pemerintah selalu terlambat dalam menerapkan kebijakan itu, sehingga kalah dari Thailand, Vietnam, dan negara lainnya," tuturnya.***

 

Bagikan: